Uptodai.com - Menjelang keputusan besar untuk melangkah ke jenjang pernikahan, selebriti sekaligus penyanyi senior Dewi Gita membagikan pandangan krusial bagi kaum hawa. Istri dari musisi Armand Maulana ini menekankan bahwa proses pencarian dan pengenalan calon pasangan hidup harus didominasi oleh logika, bukan sekadar perasaan sesaat.

Dewi Gita mengingatkan agar perempuan masa kini tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Menurutnya, masa pendekatan adalah waktu yang sangat berharga untuk menggali karakter asli seseorang sebelum janji suci diucapkan, demi menghindari penyesalan di kemudian hari.

Strategi ‘Jual Mahal’ untuk Mengenal Lebih Jauh

Salah satu saran utama yang disampaikan Dewi Gita adalah pentingnya menerapkan strategi “jual mahal” saat masa pendekatan. Prinsip ini bukan dimaksudkan untuk bersikap sombong atau angkuh, melainkan sebagai taktik yang cerdas untuk memperpanjang durasi perkenalan secara intensif.

“Kita perempuan jangan ‘bieu murah’ gampang, harus jual mahal lah ya,” ungkap Dewi Gita saat ditemui di kawasan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan. Ia menjelaskan bahwa perpanjangan waktu pendekatan tersebut sangat vital untuk melihat sifat-sifat asli pasangan tanpa topeng pencitraan.

Tujuan dari strategi ini sangat jelas, yakni mencegah terjadinya kondisi “zonk” setelah menikah. Jika masa pendekatan terlalu singkat dan mudah, risiko sifat asli yang tidak dapat diterima muncul setelah pernikahan akan semakin tinggi, sehingga diperlukan upaya ekstra untuk benar-benar menguji komitmen dan karakter calon suami.

Mengupas Makna Sejati Cek Bibit Bebet Bobot Pasangan

Dalam mencari kriteria calon pasangan, Dewi Gita mengaku masih memegang teguh filosofi kuno yang diwariskan orang tua, yaitu prinsip bibit, bebet, dan bobot. Namun, ia memberikan penafsiran modern yang lebih mendalam terhadap istilah tersebut, menjauhkannya dari makna sempit tentang kekayaan atau status ningrat semata.

Bagi Dewi, prinsip cek bibit bebet bobot pasangan harus dipahami sebagai upaya menyeluruh untuk melihat sifat dasar, latar belakang keluarga, dan bagaimana seseorang dibesarkan. Bibit mengacu pada asal-usul dan moralitas keluarga, bebet merujuk pada kualitas dan integritas diri, sementara bobot adalah nilai yang dibawa pasangan dalam kehidupan sosial dan rumah tangga.

Ia mendorong perempuan untuk benar-benar mengenali sifat-sifat asli pasangan secara detail. Setelah semua kekurangan dan kelebihan teridentifikasi, barulah seseorang bisa memutuskan apakah ia siap menerima pria tersebut seutuhnya untuk dinikahi.

Logika dan Hati sebagai Penentu Akhir

Meskipun menekankan pentingnya sikap selektif dan analisis mendalam, Dewi Gita mengakui bahwa tidak ada durasi waktu yang pasti untuk menentukan apakah seseorang adalah jodoh yang tepat. Proses pengenalan bisa memakan waktu yang bervariasi, tergantung dinamika pasangan itu sendiri.

Pada akhirnya, hati dan logika akan bekerja sama secara otomatis untuk memberikan sinyal yang tepat. Intuisi batin biasanya akan berbicara tanpa disadari, memberikan petunjuk kuat apakah pria yang sedang didekati adalah sosok yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup atau bukan.

Oleh karena itu, Dewi Gita menyarankan agar kaum hawa tidak hanya mengandalkan perasaan berbunga-bunga, tetapi juga mendengarkan suara nalar yang jernih. Keseimbangan antara hati dan pikiran adalah kunci utama untuk memastikan fondasi pernikahan yang kuat dan langgeng.