Viral ‘Usus Kotor’ Sumber Penyakit? Dokter Ungkap Istilah Medis yang Benar
Uptodai.com - Media sosial kembali diramaikan dengan narasi kesehatan yang cepat menyebar, kali ini berpusat pada klaim bahwa mayoritas masalah tubuh bersumber dari kondisi yang disebut ‘usus kotor’. Klaim ini lantas menimbulkan perdebatan sengit di kalangan warganet, sebab banyak yang merasa pernah mengalaminya, sementara yang lain meragukan validitasnya secara ilmu kedokteran.
Narasi viral tersebut secara spesifik mencantumkan daftar panjang keluhan yang dikaitkan langsung dengan usus yang dianggap tidak bersih. Keluhan-keluhan itu meliputi napas bau, munculnya jerawat, perut kembung, kesulitan menurunkan berat badan, hingga masalah tidur seperti insomnia.
Netizen yang skeptis berpendapat bahwa secara fisiologis, usus manusia memang tidak pernah steril atau ‘bersih’ dalam artian harfiah. Jika usus benar-benar bersih dari bakteri, justru fungsi pencernaan akan terganggu fatal. Lantas, bagaimana pandangan medis terhadap fenomena viral ini? Terutama mengenai istilah usus kotor medis yang diperdebatkan.
Klarifikasi Medis: Benarkah Ada Istilah Usus Kotor?
Spesialis penyakit dalam, Prof. dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, memberikan klarifikasi tegas mengenai isu yang beredar luas ini. Menurutnya, terminologi ‘usus kotor’ adalah penyederhanaan yang keliru dan memang tidak dikenal dalam literatur kedokteran formal.
Keluhan yang sering dikaitkan dengan istilah viral tersebut, seperti perut kembung atau masalah kulit, seharusnya disebut sebagai gangguan pencernaan. Gangguan ini bisa melibatkan berbagai proses kompleks, mulai dari pemecahan makanan yang tidak sempurna (maldigesti) hingga pergerakan usus yang tidak teratur.
Gangguan Pencernaan Penyebab Penyakit yang Sesungguhnya
Prof. Ari menjelaskan bahwa masalah utama yang perlu diwaspadai adalah buang air besar (BAB) yang tidak teratur, khususnya konstipasi kronis. Konstipasi adalah kondisi di mana feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan, yang bila dibiarkan berlarut-larut dapat memicu berbagai komplikasi serius.
Kondisi sembelit yang berkepanjangan inilah yang berpotensi memicu berbagai penyakit struktural pada saluran pencernaan. Misalnya, terbentuknya kantung-kantung kecil di dinding usus besar, yang dikenal sebagai divertikulosis. Dalam kasus yang lebih parah, konstipasi juga menjadi faktor risiko utama pembentukan hemoroid atau ambeien.
Selain itu, penumpukan sisa makanan yang terlalu lama di usus akibat konstipasi juga meningkatkan risiko terbentuknya polip. Meskipun polip umumnya jinak, beberapa jenis polip berpotensi berkembang menjadi keganasan jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, fokus medis diarahkan pada penanganan pola BAB yang sehat, bukan pada istilah ‘pembersihan usus’.
Pentingnya Bakteri Baik dan Poros Otak-Usus
Prof. Ari menambahkan bahwa kesehatan usus sangat bergantung pada keseimbangan mikrobioma, yakni kumpulan bakteri baik yang hidup di dalamnya. Bakteri ini krusial untuk membantu pemecahan makanan, memproduksi vitamin tertentu, dan menjaga fungsi imun tubuh.
Jika jumlah kuman baik ini berkurang, keseimbangan usus akan terganggu, yang pada gilirannya dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, termasuk penyakit peradangan usus. Keseimbangan mikrobioma ini adalah kunci utama kesehatan pencernaan, jauh lebih penting daripada isu usus yang ‘kotor’.
Lebih lanjut, ia menyinggung soal ‘brain gut axis’, sebuah poros hubungan dua arah yang erat antara kerja otak dan sistem pencernaan. Meskipun poros ini sangat dipengaruhi oleh faktor stres, kesehatan mikrobioma usus juga memegang peran vital. Ketidakseimbangan bakteri baik dapat memperburuk respons tubuh terhadap stres dan memicu keluhan pencernaan yang terkait erat dengan kondisi mental.
Oleh karena itu, alih-alih berfokus pada istilah viral yang tidak berdasar, masyarakat disarankan untuk menjaga kesehatan pencernaan secara holistik. Caranya adalah dengan memastikan asupan serat yang cukup, hidrasi optimal, dan mengelola stres, guna mendukung ekosistem bakteri baik di dalam usus.