Uptodai.com - Kasus eutanasia pasif di India kembali menjadi sorotan dunia setelah seorang pria bernama Harish Rana mengembuskan napas terakhirnya. Pria berusia 31 tahun tersebut meninggal dunia di All India Institute of Medical Sciences (AIIMS), New Delhi, pada Selasa (25/3/2026) waktu setempat.

Keputusan medis ini diambil setelah pengadilan memberikan lampu hijau untuk menghentikan penggunaan alat penunjang hidup yang selama ini menopang tubuhnya. Rana telah menghabiskan hampir separuh hidupnya dalam kondisi tidak sadar akibat insiden tragis yang menimpanya di masa lalu.

Tragedi Jatuh dari Balkon dan Koma Selama 13 Tahun

Perjalanan panjang Rana dalam kondisi vegetatif dimulai pada tahun 2013 saat ia masih berstatus sebagai mahasiswa teknik yang ambisius. Sebuah kecelakaan fatal terjadi ketika ia terjatuh dari balkon lantai empat, yang mengakibatkan cedera kepala sangat serius dan kerusakan saraf permanen.

Sejak saat itu, Rana tidak pernah lagi membuka mata atau memberikan respons terhadap dunia luar secara sadar. Selama lebih dari satu dekade, ia sepenuhnya bergantung pada teknologi medis untuk menjalankan fungsi dasar tubuhnya, termasuk pernapasan dan asupan nutrisi.

Kondisi ini menempatkan keluarga Rana dalam situasi yang sangat sulit, baik secara emosional maupun finansial. Mereka menyaksikan putra mereka bertahan hidup hanya melalui bantuan mesin tanpa ada tanda-tanda pemulihan yang berarti dari tahun ke tahun.

Perjuangan Orang Tua dan Beban Finansial yang Berat

Orang tua Rana menghadapi dilema moral yang sangat berat selama belasan tahun merawat sang anak di rumah sakit. Mereka mengaku telah menguras seluruh tabungan hidup mereka demi memastikan putra mereka tetap mendapatkan perawatan medis terbaik meskipun peluang sembuhnya sangat tipis.

Selain masalah biaya, rasa khawatir akan nasib Rana di masa depan jika orang tuanya sudah tidak ada lagi menjadi alasan utama pengajuan permohonan eutanasia. Mereka berharap sang anak bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus terus menderita dalam ketidaksadaran yang berkepanjangan.

Permohonan ini awalnya sempat menemui jalan buntu ketika Pengadilan Tinggi Delhi menolak permintaan keluarga pada tahun 2024. Hakim saat itu menilai bahwa prosedur hukum yang ada belum cukup kuat untuk mengizinkan penghentian alat bantu medis tanpa persetujuan eksplisit dari pasien.

Dasar Hukum Eutanasia Pasif dan Mekanisme Living Will

India sebenarnya telah melegalkan praktik eutanasia pasif sejak tahun 2018 melalui mekanisme yang disebut sebagai “living will” atau surat wasiat medis. Dokumen ini memungkinkan seseorang memberikan instruksi medis jika mereka berada dalam kondisi tanpa harapan sembuh di masa depan.

Namun, kasus Rana menjadi sangat rumit karena ia tidak memiliki surat wasiat tersebut sebelum mengalami kecelakaan dan jatuh koma. Hal ini memicu perdebatan hukum yang panjang mengenai siapa yang berhak mengambil keputusan atas nama pasien yang tidak lagi kompeten secara mental.

Mahkamah Agung India akhirnya turun tangan untuk meninjau kembali kasus ini setelah kondisi fisik Rana dilaporkan semakin memburuk pada tahun 2025. Pengadilan kemudian membentuk tim ahli medis untuk memberikan penilaian objektif terhadap kondisi klinis pasien secara mendalam.

Keputusan Akhir Mahkamah Agung demi Kemanusiaan

Dua tim dokter independen yang ditugaskan oleh pengadilan menyatakan bahwa peluang pemulihan Rana hampir nol persen. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan otak permanen yang membuat pasien tidak akan pernah bisa kembali ke kondisi sadar sepenuhnya.

Berdasarkan rekomendasi medis tersebut, pada 11 Maret, Mahkamah Agung akhirnya mengizinkan tim dokter menggunakan penilaian klinis mereka untuk melakukan tindakan medis yang diperlukan. Keputusan ini menekankan pada hak mengakhiri hidup bermartabat bagi pasien yang sudah tidak memiliki kualitas hidup.

Rana kemudian dipindahkan ke unit perawatan paliatif untuk mendapatkan kenyamanan di hari-hari terakhirnya sebelum akhirnya meninggal dunia dengan tenang. Pengacara keluarga menyebut bahwa kasus ini akan menjadi preseden hukum yang sangat penting bagi sistem peradilan di India.

Banyak pihak menilai bahwa kematian bermartabat pasien koma harus mendapatkan perlindungan hukum yang jelas agar keluarga tidak terjebak dalam penderitaan yang tak berujung. Kasus Harish Rana kini menjadi simbol perjuangan bagi mereka yang mencari keadilan di tengah batas antara hidup dan mati.