Uptodai.com - Kepatuhan minum obat penyakit kronis menjadi perhatian serius Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelang perayaan hari besar. Beliau menyoroti kebiasaan buruk masyarakat yang seringkali melalaikan jadwal pengobatan saat sedang asyik berkumpul bersama keluarga. Fenomena ini kerap memicu lonjakan pasien di rumah sakit sesaat setelah masa liburan berakhir.

Menteri Kesehatan yang akrab disapa BGS ini mengungkapkan bahwa penderita diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi sering kali sengaja berhenti minum obat. Mereka berdalih ingin menikmati hidangan pesta tanpa gangguan atau sekadar lupa karena suasana yang ramai. Padahal, tindakan ini sangat berbahaya bagi stabilitas kondisi tubuh mereka dalam jangka panjang.

Bahaya Menghentikan Obat Saat Lebaran dan Risiko Komplikasi

Budi Gunadi Sadikin secara tegas memberikan peringatan keras kepada para pasien yang tidak disiplin dalam menjalani terapi medis. Ia bahkan melontarkan sindiran jenaka namun sarat makna terkait perilaku abai ini dalam program Budi Gemar Sharing (#BGS). Menkes menyatakan tidak segan untuk “menjewer” mereka yang nekat mengabaikan kesehatan demi nafsu makan sesaat.

“Sudah tahu punya diabetes, darah tinggi, kolesterol, tapi pas Lebaran malah sengaja tidak minum obat. Saya jewer semua,” ujar Budi melalui unggahan di akun Instagram resminya. Ia menekankan bahwa ketidakpatuhan inilah yang menjadi penyebab utama pasien harus dilarikan ke instalasi gawat darurat setelah momen perayaan selesai.

Pola makan saat Lebaran memang cenderung ekstrem dengan dominasi kandungan gula, garam, dan lemak jenuh yang sangat tinggi. Hidangan khas seperti rendang, opor ayam, hingga aneka kue kering merupakan tantangan berat bagi sistem metabolisme tubuh. Tanpa perlindungan dari obat-obatan rutin, zat-zat tersebut dapat langsung memicu komplikasi fatal seperti serangan jantung atau strok.

Panduan Konsumsi Obat untuk Penderita Diabetes dan Hipertensi

Bagi penderita diabetes, kepatuhan minum obat penyakit kronis seperti metformin tidak boleh ditawar sedikit pun. Menkes mengingatkan agar obat tetap dikonsumsi sesuai anjuran dokter, terutama setelah menyantap hidangan manis seperti es teler atau sirup. Gula darah yang melonjak tanpa kontrol obat dapat merusak pembuluh darah dan organ dalam secara cepat.

Kondisi serupa juga berlaku bagi pasien hipertensi yang wajib menjaga tekanan darah mereka tetap stabil. Hidangan Lebaran yang kaya akan garam dapat menyebabkan retensi cairan dan penyempitan pembuluh darah secara mendadak. Budi meminta agar obat-obatan seperti amlodipine tetap diminum setiap hari tanpa terputus demi menghindari lonjakan tensi yang membahayakan nyawa.

Selain itu, penderita kolesterol tinggi juga harus mewaspadai sajian bersantan dan gorengan yang melimpah di meja makan. Menkes menyarankan agar konsumsi obat jenis simvastatin tetap dilakukan secara rutin, khususnya pada waktu malam hari. Langkah ini sangat krusial untuk mencegah penumpukan plak lemak di dinding pembuluh darah akibat pola makan yang tidak sehat.

Peran Keluarga dalam Menjaga Disiplin Konsumsi Obat Rutin

Momen berkumpul bersama keluarga seharusnya menjadi sarana untuk saling menjaga, bukan justru saling membiarkan dalam keburukan pola hidup. Budi mengajak seluruh anggota keluarga untuk lebih proaktif dalam mengingatkan orang tua atau kerabat yang memiliki riwayat penyakit tidak menular. Saling mengingatkan adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata dalam menjaga kesehatan bersama.

“Yuk saling mengingatkan, terutama untuk orang tua dan keluarga yang harus minum obat rutin setiap hari,” tutur Menkes. Ia berharap masyarakat tetap bisa menikmati kebahagiaan Lebaran tanpa harus berakhir di ranjang rumah sakit. Kedisiplinan adalah kunci utama agar tubuh tetap bugar dan produktif setelah masa libur panjang usai.

Menkes menegaskan bahwa menjaga tubuh adalah tanggung jawab pribadi yang tidak boleh diabaikan hanya karena alasan formalitas sosial. Makan enak dan bersilaturahmi tetap diperbolehkan, asalkan kontrol diri dan kepatuhan medis tetap menjadi prioritas nomor satu. Dengan demikian, risiko komplikasi kesehatan dapat ditekan seminimal mungkin selama masa perayaan.