Uptodai.com - Bagi jutaan umat Hindu, Sungai Yamuna di India memiliki status sakral. Namun, di balik nilai spiritualnya, sungai yang menjadi tulang punggung kehidupan New Delhi ini kini berubah menjadi sumber krisis lingkungan yang parah.

Pencemaran parah akibat limbah industri telah mengubah aliran air suci menjadi racun, mengganggu pasokan air bersih ibu kota selama berhari-hari. Jutaan warga terpaksa hidup dengan air keruh, berbau tajam, dan tidak layak konsumsi.

Dampak Fatal Sungai Yamuna Tercemar Amonia bagi Jutaan Warga

Meskipun pemerintah setempat mengklaim distribusi air telah kembali normal, kenyataan di tingkat rumah tangga menunjukkan kondisi yang jauh dari pemulihan. Di wilayah padat penduduk seperti Sharma Enclave, Delhi barat laut, air bersih hanya mengalir sekali dalam tiga hari, itupun durasinya tidak lebih dari satu jam.

Ravinder Kumar (55), seorang ayah tiga anak, menceritakan betapa sulitnya menjaga kebersihan diri. Ia mengungkapkan bahwa air yang mengalir terkadang berwarna hitam pekat, membuat mereka tidak punya pilihan selain membatasi aktivitas mandi.

“Sulit sekali untuk mandi. Kami hanya bisa mandi setiap empat atau lima hari sekali,” kata Kumar, menggambarkan krisis yang dialami keluarganya sehari-hari.

Kondisi ini menimbulkan dampak kesehatan yang serius. Warga di sejumlah lingkungan mengaku air yang mereka simpan berbau seperti telur busuk dan berwarna kuning keruh. Shashi Bala, warga Sharma Enclave, menuturkan bahwa kesehatan semua orang menurun karena lingkungan yang kotor dan air yang terkontaminasi.

Mengapa Sungai Yamuna Tercemar Amonia Begitu Parah?

Sungai Yamuna selama ini bertanggung jawab menyuplai sekitar 40% kebutuhan air seluruh New Delhi. Oleh karena itu, ketika

Sungai Yamuna tercemar amonia

akibat polusi industri, seluruh sistem pengolahan air kota langsung lumpuh.

Kandungan amonia yang terlalu tinggi membuat air sungai tidak lagi dapat diolah secara aman oleh fasilitas pengolahan air minum. Akibatnya, gangguan kecil di hulu sungai dengan cepat memicu krisis besar yang dirasakan jutaan rumah tangga di ibu kota.

Dewan Air Delhi mencatat bahwa sedikitnya 43 kawasan terdampak gangguan pasokan air, yang secara total dihuni oleh sekitar dua juta penduduk. Investigasi lebih lanjut menemukan setidaknya 10 wilayah, dengan total lebih dari 600.000 penduduk, tidak menerima air sama sekali selama beberapa hari berturut-turut.

Peradaban yang Tenggelam dalam Limbah Beracun

Secara historis, Sungai Yamuna membentuk peradaban Delhi sejak abad ke-17, menjadi saksi bisu perkembangan kota. Ironisnya, kini hanya sekitar 2% aliran sungai yang melewati wilayah ibu kota justru menyumbang sekitar 76% dari total polusi Yamuna secara keseluruhan.

Polusi masif ini menyebabkan kandungan oksigen terlarut (DO) di beberapa titik kerap turun hingga nol. Kondisi fatal ini mematikan seluruh kehidupan air dan secara efektif mengubah sungai suci tersebut menjadi saluran limbah terbuka.

Simbol paling kasat mata dari krisis ini adalah lapisan busa putih beracun yang menutupi permukaan sungai, seringkali terlihat mengambang tebal di dekat jembatan dan kawasan pemukiman. Busa beracun ini adalah indikasi nyata dari limbah industri yang dibuang tanpa pengolahan.

Sejumlah aktivis lingkungan secara rutin turun ke bantaran sungai untuk melakukan pembersihan, mengumpulkan limbah mulai dari pakaian bekas, sampah plastik, hingga patung-patung ritual keagamaan yang dibuang. Namun, mereka mengakui bahwa upaya ini hanyalah solusi sementara.

Upaya pembersihan tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah yang sebenarnya, yaitu pembuangan limbah industri yang tidak terkontrol dan masif. Selama polusi industri terus terjadi, ancaman bahwa

Sungai Yamuna tercemar amonia

akan terus menghantui kesehatan dan kehidupan jutaan warga New Delhi.