Hanya 3 Orang di Dunia Bisa Keliling Dunia Tanpa Paspor, Siapa Saja?
Uptodai.com - Fenomena unik mengenai segelintir individu yang memiliki kemampuan untuk keliling dunia tanpa paspor menjadi perbincangan hangat di kalangan pelancong internasional. Mayoritas penduduk bumi wajib memiliki dokumen resmi untuk melintasi batas negara, namun aturan ini tidak berlaku bagi tiga orang paling berkuasa di dunia. Hak istimewa ini bukan sekadar fasilitas mewah, melainkan bentuk kedaulatan tertinggi yang diakui secara diplomatik oleh berbagai bangsa.
Ketiga sosok tersebut adalah Raja Charles III dari Inggris, serta Kaisar Naruhito dan istrinya, Permaisuri Masako dari Jepang. Sebelum Raja Charles III naik takhta, mendiang Ratu Elizabeth II juga memegang privilese serupa selama puluhan tahun masa kepemimpinannya. Protokol internasional memberikan pengecualian khusus ini karena status mereka yang dianggap sebagai simbol negara itu sendiri.
Privilese Eksklusif Raja Charles III dari Inggris
Sebagai kepala negara Inggris Raya, Raja Charles III tidak memerlukan paspor saat melakukan perjalanan internasional ke negara mana pun. Hal ini terjadi karena seluruh paspor Inggris diterbitkan atas nama Raja, sehingga secara logika hukum, ia tidak perlu mengeluarkan dokumen untuk dirinya sendiri. Keistimewaan ini menjadikan sang Raja sebagai satu-satunya warga Inggris yang tidak perlu melewati pemeriksaan dokumen konvensional.
Meskipun tidak membawa buku paspor fisik, Raja Charles III tetap membawa dokumen pengganti yang sangat sakral. Dokumen tersebut berisi pernyataan resmi dari Sekretaris Kerajaan Inggris yang meminta semua pihak berwenang untuk mengizinkan pembawa dokumen melintas tanpa hambatan. Pesan tersebut juga menegaskan agar negara yang dikunjungi memberikan bantuan serta perlindungan maksimal yang mungkin diperlukan selama kunjungan berlangsung.
Perbedaan Status dengan Anggota Keluarga Kerajaan Lainnya
Menariknya, hak istimewa untuk keliling dunia tanpa paspor ini tidak berlaku bagi anggota keluarga kerajaan lainnya, termasuk Permaisuri Camilla. Istri Raja Inggris tersebut tetap diwajibkan memiliki paspor diplomatik resmi saat mendampingi suaminya dalam kunjungan kenegaraan. Hal ini menegaskan bahwa privilese tanpa dokumen hanya melekat pada sosok pemegang mahkota tertinggi di Britania Raya.
Untuk mengurus segala urusan logistik dan protokol perjalanan, Raja Charles III memercayakan tanggung jawab tersebut kepada sekretaris pribadinya, Sir Clive Alderton. Sosok Alderton telah menjadi penasihat paling terpercaya bagi Raja dan Permaisuri Camilla sejak tahun 2006 silam. Ia memastikan setiap perjalanan kenegaraan berjalan mulus tanpa perlu mengikuti prosedur imigrasi yang biasa dilalui warga sipil.
Kaisar dan Permaisuri Jepang: Protokol Diplomatik Tertinggi
Selain monarki Inggris, pemimpin dari Negeri Sakura juga menikmati kemudahan bepergian ke luar negeri tanpa paspor. Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako memegang status istimewa yang membuat mereka tidak perlu menunjukkan paspor di gerbang imigrasi negara lain. Aturan ini berakar dari dokumen kementerian Jepang yang diterbitkan pada 10 Mei 1971 silam.
Dalam dokumen resmi tersebut, pemerintah Jepang menyatakan bahwa mengeluarkan paspor untuk Kaisar atau Permaisuri adalah tindakan yang sangat tidak pantas. Alasan utamanya adalah karena posisi Kaisar sebagai simbol negara dan kesatuan rakyat Jepang yang berada di atas prosedur administratif biasa. Oleh karena itu, dunia internasional sepakat untuk memberikan perlakuan khusus bagi pemimpin tertinggi Jepang ini.
Dokumen tahun 1971 itu juga menambahkan bahwa Kaisar tidak seharusnya menjalani prosedur visa atau imigrasi layaknya warga negara biasa. Menggunakan paspor dianggap merendahkan martabat Kaisar yang memegang posisi sakral dalam struktur sosial dan politik Jepang. Hingga saat ini, tradisi diplomatik tersebut tetap dihormati oleh seluruh negara di dunia saat menyambut kedatangan sang Kaisar.
Dengan demikian, Raja Charles III, Kaisar Naruhito, dan Permaisuri Masako tetap menjadi tiga orang langka yang bisa melintasi benua tanpa selembar buku paspor di saku mereka. Keberadaan mereka menjadi bukti bahwa dalam dunia diplomasi modern, simbol kedaulatan masih memiliki posisi yang jauh melampaui aturan birokrasi standar. Perjalanan mereka selalu menjadi catatan sejarah tentang bagaimana tradisi dan hukum internasional saling bersinggungan.