Uptodai.com - Perjalanan panjang bisnis migas Hashim Djojohadikusumo kini menjadi sorotan publik setelah ia membagikan pengalamannya mengelola industri energi selama lebih dari tiga dekade. Adik kandung Presiden Prabowo Subianto ini ternyata telah merambah berbagai belahan dunia jauh sebelum dirinya mendapat amanat sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup.

Pengalaman panjang tersebut membuktikan bahwa pengusaha nasional mampu bersaing di panggung internasional yang penuh risiko. Kiprahnya di sektor hulu minyak dan gas bumi ini tidak hanya berpusat di dalam negeri, melainkan juga menjangkau kawasan Asia Tengah hingga Amerika Serikat.

Rekam Jejak Bisnis Migas Hashim Djojohadikusumo Sejak 1994

Hashim memulai langkah pertamanya di industri hulu migas sejak tahun 1994 silam. Selama 32 tahun mengarungi dinamika bisnis energi, ia telah kenyang memakan asam garam operasional lapangan yang berisiko tinggi. Pengalaman empiris ini ia bagikan dalam forum bergengsi The 50th IPA Convention & Exhibition di Tangerang.

Dalam kesempatan tersebut, Hashim menegaskan bahwa dirinya sangat memahami seluk-beluk industri ini dari kacamata pelaku usaha praktis. Ia tidak sekadar bertindak sebagai regulator, melainkan pelaku aktif yang merasakan langsung pasang surut pasar energi global. Hal ini memberinya perspektif yang matang dalam melihat potensi ketahanan energi nasional.

Ekspansi Global dari Asia Tengah hingga Amerika Serikat

Langkah ekspansi korporasi keluarga Djojohadikusumo tercatat pernah menembus wilayah-wilayah strategis dunia. Mereka aktif mengamankan konsesi dan mengoperasikan sumur minyak di Kazakhstan serta Azerbaijan. Langkah berani ini membuktikan bahwa entitas bisnis Indonesia memiliki daya saing tinggi di kawasan kaya minyak bekas Uni Soviet tersebut.

Tidak berhenti di Asia Tengah, gurita bisnisnya juga menjangkau wilayah California, Amerika Serikat. Wilayah ini terkenal memiliki regulasi lingkungan yang sangat ketat dan standar operasional yang tinggi. Keberhasilan menembus pasar Paman Sam menunjukkan kapasitas teknis dan manajerial yang mumpuni dari tim yang ia pimpin.

Meski demikian, Hashim juga tidak ragu menceritakan kegagalan bisnisnya di Brunei Darussalam sebagai bagian dari proses belajar. Walaupun timnya berhasil menemukan cadangan minyak di sana, proyek tersebut akhirnya tidak berlanjut secara komersial. Baginya, kegagalan di Brunei merupakan risiko bisnis biasa yang justru memperkaya keahliannya di sektor investasi sektor migas Indonesia.

Kunci Sukses Investasi Sektor Migas Indonesia

Berdasarkan pengalamannya selama puluhan tahun, Hashim merumuskan tiga pilar utama untuk menarik minat investor global. Pilar pertama adalah kepastian hukum yang jelas agar pelaku usaha merasa aman menanamkan modal jangka panjang. Tanpa adanya jaminan hukum, investor asing akan cenderung menghindari proyek berisiko tinggi seperti eksplorasi migas.

Pilar kedua dan ketiga yang tidak kalah penting adalah stabilitas politik serta aturan fiskal yang kompetitif. Pemerintah Indonesia saat ini terus berupaya merancang skema bagi hasil yang lebih menarik bagi para kontraktor kontrak kerja sama. Hashim optimistis bahwa kepatuhan terhadap kontrak yang telah disepakati akan menjadi magnet kuat bagi masuknya modal asing.

Dengan menerapkan formula sukses tersebut, Indonesia berpeluang besar meningkatkan kembali produksi minyak nasional yang terus menurun. Sinergi antara kebijakan pemerintah yang pro-bisnis dan kepatuhan hukum akan menciptakan iklim investasi yang sehat. Pada akhirnya, langkah ini akan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.