Uptodai.com - Kaspersky melakukan survei untuk memahami bagaimana kecerdasan buatan dimanfaatkan dalam mengisi waktu luang dan mempersiapkan liburan, sekaligus mengidentifikasi potensi risiko keamanan siber yang menyertainya. Studi ini menyoroti peran AI yang semakin luas dalam aktivitas sehari-hari, khususnya pada musim liburan.

Hasil survei menunjukkan bahwa penggunaan AI selama liburan 2025/2026 tergolong tinggi. Sebanyak 74% responden berencana memanfaatkan AI dalam aktivitas liburan mereka. Antusiasme terbesar datang dari generasi muda, dengan 86% responden berusia 18–34 tahun menyatakan niat menggunakan AI selama periode tersebut.

Dalam praktiknya, AI banyak dimanfaatkan untuk mempermudah pencarian informasi. Lebih dari separuh pengguna berencana menggunakan AI untuk mencari resep makanan serta rekomendasi restoran dan akomodasi. Hal ini menunjukkan peran AI yang semakin penting dalam menyederhanakan proses riset dan menghemat waktu.

Selain itu, AI juga populer sebagai sumber inspirasi. Sekitar separuh responden menggunakan AI untuk mencari ide hadiah, konsep perayaan, dekorasi, hingga rekomendasi kegiatan mengisi waktu luang selama liburan. Kemampuan AI dalam menghasilkan ide kreatif menjadi daya tarik utama bagi pengguna.

Dalam konteks belanja, AI dipandang sebagai asisten digital yang membantu menyusun daftar belanja, membandingkan harga, dan menilai ulasan produk. Generasi muda cenderung lebih terbuka menggunakan AI untuk perencanaan anggaran, sementara responden usia lebih tua memilih memanfaatkannya untuk keperluan yang lebih sederhana seperti resep dan ide hadiah.

Meski menawarkan kemudahan, penggunaan AI juga membawa risiko keamanan. Informasi dan tautan yang dihasilkan chatbot tidak selalu dapat diandalkan dan berpotensi mengarah ke konten berbahaya. Oleh karena itu, pengguna disarankan untuk selalu memverifikasi tautan dan menggunakan solusi keamanan siber yang mampu mendeteksi ancaman phishing.

Survei ini juga mengungkap peran baru AI sebagai pendamping virtual. Secara global, 29% pengguna mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI saat merasa sedih, dengan persentase di Indonesia sedikit lebih tinggi, yakni 31%. Minat terbesar datang dari Generasi Z dan milenial, sementara kelompok usia lebih tua menunjukkan ketertarikan yang jauh lebih rendah.

Kaspersky mengingatkan bahwa meskipun interaksi dengan AI terasa personal, chatbot umumnya dikelola oleh perusahaan komersial dengan kebijakan pengelolaan data masing-masing. Pengguna disarankan untuk memahami kebijakan privasi, membatasi berbagi informasi sensitif, serta bersikap kritis terhadap saran AI agar privasi dan keamanan data tetap terjaga.