Jreng, CIA Mulai Atur Pemerintahan Venezuela Pasca-Maduro
Uptodai.com - Badan intelijen Amerika Serikat, CIA, dilaporkan mulai aktif menyusun struktur dan fondasi bagi transisi kekuasaan, menandai dimulainya upaya CIA atur pemerintahan Venezuela yang baru pasca-Maduro. Diskusi internal di Washington, melibatkan CIA dan Departemen Luar Negeri AS (Deplu), kini berfokus pada bentuk ‘jejak kaki’ kehadiran Amerika Serikat di negara Amerika Latin tersebut, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Meskipun Deplu AS akan memimpin kehadiran diplomatik jangka panjang, pemerintahan Trump kala itu lebih memilih mengandalkan CIA untuk memulai proses masuk kembali ke Caracas. Keputusan ini diambil mengingat situasi keamanan di Venezuela yang belum stabil serta transisi politik yang masih sangat cair.
“Negara (Deplu) memasang bendera, tapi CIA yang memegang pengaruh sebenarnya,” ujar salah satu sumber internal kepada media internasional pada Rabu (28/1/2026). Pendekatan ini menunjukkan adanya pembagian peran yang jelas, di mana operasi intelijen mendahului upaya diplomasi formal.
Strategi Jangka Pendek CIA Atur Pemerintahan Venezuela
Tujuan utama jangka pendek CIA di Venezuela mencakup langkah-langkah strategis untuk membangun landasan kuat bagi upaya diplomatik resmi di masa depan. Fokus utama badan intelijen ini adalah menstabilkan lingkungan politik dan keamanan.
Oleh karena itu, CIA bertugas membina hubungan mendalam dengan tokoh-tokoh lokal dari berbagai faksi politik yang ada di Venezuela. Selain itu, mereka juga harus menjamin stabilitas keamanan bagi seluruh personel Amerika Serikat yang akan ditugaskan di sana.
Melalui pendirian kantor lampiran rahasia, agen-agen CIA diharapkan mampu membuka saluran komunikasi tertutup. Saluran ini sangat penting untuk berhubungan dengan pihak intelijen Venezuela, yang mustahil dilakukan melalui jalur diplomasi formal Deplu.
Membendung Pengaruh Pihak Ketiga
Selain membangun fondasi politik, CIA juga memiliki peran krusial dalam melakukan kontak informal dengan tokoh pemerintah maupun oposisi. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi serta memitigasi potensi ancaman yang datang dari pihak ketiga.
Ancaman ini terutama merujuk pada aktivitas negara-negara yang dianggap musuh Amerika Serikat, seperti China, Rusia, dan Iran, yang memiliki kepentingan signifikan di Venezuela. Kehadiran intelijen AS menjadi kunci untuk menekan pengaruh geopolitik rival-rivalnya.
Direktur CIA, John Ratcliffe, merupakan pejabat tinggi pertama era Trump yang mengunjungi Venezuela tak lama setelah operasi penangkapan Maduro. Dalam kunjungannya, Ratcliffe bertemu dengan Presiden Interim, Delcy Rodriguez, dan jajaran pemimpin militer Venezuela.
Salah satu pesan kunci yang disampaikan Ratcliffe adalah penegasan bahwa Venezuela tidak boleh lagi menjadi tempat aman bagi musuh-musuh Amerika. Pesan ini menekankan pentingnya kerja sama intelijen dalam menjaga stabilitas regional.
CIA secara spesifik bertanggung jawab untuk memberikan pengarahan kepada pejabat Venezuela mengenai intelijen AS terkait aktivitas China, Rusia, dan Iran di negara tersebut. Pengarahan ini mencakup informasi sensitif yang hanya bisa disampaikan melalui jalur intelijen.
“Jika ingin memberikan pengarahan terkait kekhawatiran soal China dan Rusia, itu tugas agen intelijen, bukan Deplu,” kata seorang mantan pejabat pemerintah AS. Hal ini menegaskan bahwa isu keamanan dan geopolitik menjadi domain utama CIA.
Faktanya, perwira CIA sudah berada di lapangan berbulan-bulan sebelum operasi penangkapan Maduro benar-benar terjadi. Sejak Agustus lalu, sebuah tim kecil telah dipasang secara rahasia untuk melakukan pemetaan dan persiapan, menunjukkan perencanaan yang matang dan jangka panjang dari Washington.