Uptodai.com - Dampak penutupan Selat Hormuz kini benar-benar dirasakan dunia setelah Iran secara resmi memblokade jalur perdagangan energi paling vital tersebut. Langkah ekstrem ini merupakan balasan langsung atas serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu.

Operasi militer bertajuk “Epic Fury” yang diinstruksikan Donald Trump tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei. Situasi ini memicu kemarahan besar di Teheran yang segera meluncurkan serangan rudal balasan ke berbagai titik strategis di kawasan Teluk.

Eskalasi Militer dan Ancaman Blokade Total

Tidak hanya menyasar Israel, rudal-rudal Iran juga menghujam negara-negara Teluk yang menjadi basis pangkalan militer Amerika Serikat. Wilayah seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi kini berada dalam jangkauan serangan langsung Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Kelompok militer Hizbullah di Lebanon turut menyatakan sikap untuk membela Iran dan bersumpah membalas kematian Khamenei. Pernyataan resmi ini mempertegas bahwa konflik telah meluas menjadi perang regional yang melibatkan banyak aktor bersenjata di Timur Tengah.

Penasihat senior IRGC, Ebrahim Jabari, menegaskan bahwa Selat Hormuz telah tertutup sepenuhnya bagi lalu lintas kapal internasional. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya untuk melewati jalur tersebut akan menghadapi konsekuensi yang sangat mematikan dari angkatan laut reguler Iran.

“Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi akan membakar kapal-kapal itu,” tegas Jabari dalam pernyataan resminya. Ancaman ini menjadi sinyal kuat bahwa Iran siap menggunakan instrumen energi sebagai senjata perang utama.

Harga Minyak Dunia Terancam Melambung ke US$ 200

Dampak nyata dari ketegangan ini langsung terlihat pada pergerakan pasar komoditas internasional yang mengalami guncangan hebat. Jabari mengancam akan menghancurkan seluruh jalur pipa minyak di kawasan tersebut untuk memastikan tidak ada pasokan yang keluar.

Spekulasi pasar memperkirakan harga minyak mentah akan meroket hingga menyentuh angka US$ 200 per barel dalam waktu singkat. Lonjakan ini akan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah dan berpotensi melumpuhkan ekonomi negara-negara importir minyak di seluruh dunia.

Amerika Serikat yang memiliki beban utang luar negeri sangat besar dianggap sangat rentan terhadap krisis energi global ini. Iran menyadari posisi tawar mereka dan berusaha menekan Washington dengan menghentikan aliran minyak yang menjadi urat nadi industri global.

Vitalitas Selat Hormuz bagi Ekonomi Global

Selat Hormuz merupakan jalur transit minyak paling penting di dunia yang terletak di antara wilayah kedaulatan Iran dan Oman. Sekitar 20 persen dari total pasokan minyak global setiap harinya bergantung pada keamanan navigasi di perairan sempit ini.

Data dari Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat menyebutkan bahwa sekitar 21 juta barel minyak melintasi selat ini setiap hari. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini dipastikan akan memicu kepanikan luar biasa di bursa energi London dan New York.

Meskipun Iran pernah melontarkan ancaman serupa pada tahun 2019, situasi kali ini dianggap jauh lebih berbahaya dan nyata. Serangan langsung terhadap pemimpin tertinggi mereka telah menghilangkan ruang diplomasi dan menyisakan opsi konfrontasi militer terbuka.

Kini, dunia hanya bisa menunggu perkembangan situasi di lapangan sembari bersiap menghadapi potensi resesi akibat krisis energi. Ketidakpastian mengenai durasi penutupan selat ini membuat para pelaku ekonomi global mulai mencari alternatif pasokan yang sangat terbatas.