Uptodai.com - Demo berdarah di Pakistan pecah di berbagai kota besar dan mengakibatkan sedikitnya 20 orang kehilangan nyawa pada Minggu (1/2/2026). Gelombang kemarahan ini meledak hanya sehari setelah pihak Amerika Serikat dan Israel mengonfirmasi tewasnya Ayatollah Ali Khamenei.

Pemimpin tertinggi Iran tersebut dilaporkan gugur dalam sebuah serangan udara terkoordinasi yang menyasar wilayah Teheran. Kabar duka ini langsung memicu reaksi keras dari komunitas Muslim Syiah yang tersebar luas di seantero Pakistan.

Situasi di lapangan berubah menjadi mencekam ketika ribuan massa mulai memadati jalan-jalan protokol. Aparat keamanan terpaksa mengambil tindakan tegas untuk meredam amuk massa yang semakin tidak terkendali di beberapa titik krusial.

Eskalasi Kekerasan di Karachi dan Islamabad

Kota pelabuhan Karachi menjadi wilayah dengan dampak paling parah dalam demo berdarah di Pakistan kali ini. Otoritas setempat melaporkan sebanyak sepuluh orang meninggal dunia akibat bentrokan fisik yang terjadi antara demonstran dan petugas keamanan.

Tak hanya di Karachi, wilayah utara Pakistan tepatnya di Skardu, Gilgit-Baltistan, juga mencatatkan angka kematian yang cukup tinggi. Sedikitnya delapan orang tewas di wilayah tersebut setelah aksi protes berubah menjadi kerusuhan terbuka yang melibatkan pembakaran fasilitas umum.

Sementara itu, suasana di ibu kota Islamabad tidak kalah tegang dengan laporan dua korban jiwa tambahan. Massa yang marah mencoba merangsek masuk ke kawasan Red Zone yang merupakan pusat pemerintahan dan diplomatik negara tersebut.

Ketegangan di Kawasan Diplomatik Pakistan

Ribuan pengunjuk rasa yang membawa poster kematian Ayatollah Ali Khamenei berkumpul di sekitar hotel-hotel besar dan gedung pemerintahan. Mereka meneriakkan slogan anti-Barat dan mengecam keras tindakan militer yang menewaskan pemimpin spiritual tersebut.

Aparat kepolisian harus melepaskan tembakan gas air mata serta peluru karet untuk menghalau massa yang mencoba mendekati kedutaan besar asing. Barikade beton dan kawat berduri terpasang rapat di sepanjang jalan menuju kantor parlemen guna mencegah kerusakan lebih lanjut.

Komunitas Syiah di Pakistan, yang mencakup sekitar 20 persen dari total 250 juta penduduk, merasa sangat terpukul dengan peristiwa ini. Mereka menganggap serangan terhadap Khamenei sebagai serangan langsung terhadap identitas dan keyakinan mereka.

Sikap Pemerintah dan Upaya Meredam Massa

Pemerintah Pakistan secara resmi telah mengecam serangan udara yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran tewas tersebut. Namun, di sisi lain, otoritas Islamabad juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan anarkis yang merugikan stabilitas nasional.

Ali Nawab, salah satu koordinator aksi dari partai Majlis Wahdat-e-Muslimeen, menyatakan bahwa sebenarnya penyelenggara ingin aksi berjalan damai. Ia menyayangkan adanya pihak-pihak provokatif yang memicu kericuhan di tengah kerumunan massa yang sedang berduka.

Meskipun ada imbauan untuk menjaga disiplin, emosi massa yang meluap sulit untuk dibendung sepenuhnya oleh para pemimpin komunitas. Banyak pengunjuk rasa yang merasa bahwa diplomasi saja tidak cukup untuk merespons hilangnya sosok penting di dunia Islam tersebut.

Hingga saat ini, penjagaan ketat masih terus dilakukan di berbagai sudut kota untuk mengantisipasi aksi susulan. Pemerintah Pakistan juga mulai membatasi akses telekomunikasi di beberapa titik panas demi mencegah penyebaran provokasi yang lebih luas di media sosial.