Dominasi Drone China di Medan Perang Buat AS Kewalahan
Uptodai.com - Dominasi drone China di medan perang kini menjadi ancaman nyata yang membuat Amerika Serikat (AS) harus memutar otak lebih keras untuk mengejar ketertinggalan. Berbagai bukti di lapangan menunjukkan betapa kuatnya pengaruh teknologi Tiongkok dalam peta konflik modern saat ini. Mulai dari baterai, motor, hingga cip kendali, komponen asal Negeri Tirai Bambu hampir selalu ditemukan pada perangkat nirawak di berbagai zona konflik global.
Temuan komponen China pada drone di Ukraina menjadi bukti awal betapa masifnya penetrasi industri mereka di sektor pertahanan. Tidak hanya di Eropa Timur, keterlibatan teknologi ini juga terendus dalam ketegangan yang melibatkan Iran melawan Israel dan AS beberapa waktu lalu. Para pakar menilai bahwa kendali rantai pasok Tiongkok sudah sangat mengakar dan sulit untuk digoyahkan dalam waktu dekat maupun jangka panjang.
Ancaman Nyata Keunggulan Pesawat Nirawak Tiongkok
Seorang spesialis drone dengan nama samaran Udav mengungkapkan pandangan yang cukup mengejutkan mengenai peta kekuatan teknologi saat ini. Ia menyebut bahwa China sebenarnya sudah memenangkan persaingan global karena hampir seluruh rantai produksi berada di tangan mereka. Pernyataan ini didasari pada kenyataan bahwa ketergantungan dunia terhadap komponen elektronik asal Tiongkok sudah mencapai level yang sangat krusial.
Meskipun demikian, Washington dipastikan tidak akan menyerah begitu saja melihat situasi yang semakin menyudutkan posisi mereka. Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah menyiapkan langkah strategis melalui program bertajuk Dominasi Drone yang bernilai fantastis, yakni US$1,1 miliar. Proyek ambisius ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas produksi drone dalam negeri guna memangkas ketergantungan pada pihak luar.
Tujuan utama dari proyek tersebut adalah menurunkan biaya produksi melalui perjanjian pembelian massal dengan pemasok lokal di Amerika Serikat. Pemerintah AS berharap langkah ini dapat menciptakan ekosistem industri yang lebih mandiri dan kompetitif. Namun, upaya untuk mematahkan dominasi tersebut diprediksi tidak akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan karena faktor efisiensi produksi.
Tantangan Besar dalam Persaingan Teknologi Militer AS dan China
Wall Street Journal mencatat bahwa China memiliki keunggulan mutlak dalam skala produksi massal dengan harga yang sangat terjangkau. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di Amerika Serikat, di mana biaya produksi masih menjadi kendala utama bagi para pengembang lokal. Sebagai gambaran, satu unit quadcopter buatan AS bisa dibanderol lebih dari US$15 ribu atau tiga kali lipat dari harga drone China yang setara.
Selain masalah harga, AS juga harus segera menemukan solusi untuk mematahkan ketergantungan pada baterai dan motor buatan Tiongkok. Pemerintahan Donald Trump sebelumnya telah berupaya melakukan hal ini dengan memberikan investasi miliaran dolar kepada perusahaan lokal. Investasi tersebut difokuskan pada pengolahan mineral penting yang menjadi bahan baku utama pembuatan komponen penggerak dan penyimpanan energi drone.
Namun, sejumlah ahli mengingatkan bahwa membangun infrastruktur produksi yang kompleks membutuhkan waktu yang sangat lama. Proses transisi menuju kemandirian industri secara total diperkirakan memakan waktu hingga satu dekade atau bahkan lebih. Kendala lainnya adalah rendahnya permintaan drone buatan AS di pasar sipil, berbeda dengan raksasa teknologi DJI asal China yang sudah mendominasi pasar global.
Upaya Pentagon Mempercepat Rantai Pasok Dalam Negeri
DJI telah berhasil merambah berbagai sektor, mulai dari pembuat konten, agen real estat, hingga instansi kepolisian dan pemadam kebakaran di Amerika Serikat. Hal ini memberikan keuntungan ekonomi yang besar bagi China untuk terus melakukan inovasi dan menekan harga jual. Sementara itu, klien utama perusahaan drone di AS saat ini masih terbatas pada sektor militer dan departemen pertahanan saja.
Guna merangsang pertumbuhan industri, Pentagon kini berencana untuk membeli sedikitnya 340 ribu unit drone FPV dalam waktu dekat. Langkah ini diharapkan mampu memberikan napas baru bagi para produsen lokal untuk meningkatkan skala produksi mereka. Mantan ahli rantai pasokan di Unit Inovasi Pertahanan Pentagon, Trent Emeneker, menyebut bahwa kebijakan ini sudah bergerak ke arah yang benar.
Meski sudah berada di jalur yang tepat, Emeneker mengakui bahwa proses transformasi ini berjalan cukup lambat di tengah dinamika perang yang cepat. Menciptakan kembali industri yang sudah ada dengan standar kualitas tinggi namun biaya rendah adalah tantangan teknis yang sangat berat. AS kini harus berlomba dengan waktu agar dominasi drone China di medan perang tidak semakin mengunci kekuatan militer mereka di masa depan.