Bahlil Siapkan Gas CNG Pengganti LPG, Harga Lebih Murah 40 Persen
Uptodai.com - Gas CNG pengganti LPG kini tengah disiapkan secara serius oleh Pemerintah Indonesia sebagai solusi menekan angka impor gas yang terus membengkak. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa langkah ini menjadi prioritas untuk memperkuat kedaulatan energi nasional.
Langkah strategis tersebut diambil mengingat ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang saat ini sudah menembus angka 7 juta ton per tahun. Bahlil menilai penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) jauh lebih ekonomis karena sumbernya berasal dari produksi gas alam domestik yang sangat melimpah.
Pemerintah berencana mengembangkan tabung CNG khusus ukuran 3 kg yang ditujukan bagi masyarakat luas sebagai opsi energi yang lebih terjangkau. Inovasi ini diharapkan mampu memberikan ruang bagi warga untuk mendapatkan bahan bakar memasak tanpa harus bergantung pada pasokan luar negeri.
Keunggulan Harga Gas CNG Pengganti LPG bagi Masyarakat
Bahlil menjelaskan bahwa proses pembuatan tabung CNG ukuran 3 kg ini sedang dalam tahap persiapan yang matang. Salah satu daya tarik utamanya adalah efisiensi biaya yang ditawarkan kepada konsumen dibandingkan dengan penggunaan gas melon konvensional.
Menurut perhitungan kementerian, penggunaan gas CNG pengganti LPG ini diklaim mampu memangkas biaya pengeluaran masyarakat hingga 30 sampai 40 persen. “Kita mau buat ini karena cost-nya jauh lebih murah, sehingga rakyat bisa lebih hemat,” ujar Bahlil dalam sebuah forum alumni baru-baru ini.
Selain menguntungkan masyarakat, langkah ini juga dipicu oleh besarnya beban anggaran negara yang dialokasikan untuk subsidi LPG setiap tahunnya. Saat ini, nilai belanja LPG nasional menyentuh angka fantastis sebesar Rp 137 triliun per tahun dengan porsi subsidi yang sangat besar.
Data menunjukkan bahwa negara harus merogoh kocek sekitar Rp 80 triliun hingga Rp 87 triliun hanya untuk menambal subsidi gas tersebut. Dengan beralih ke CNG, pemerintah berharap beban fiskal APBN dapat berkurang secara signifikan dan dialokasikan ke sektor produktif lainnya.
Mengapa Indonesia Masih Impor LPG?
Bahlil Lahadalia turut menjawab pertanyaan publik mengenai alasan Indonesia masih melakukan impor meskipun memiliki cadangan gas alam yang melimpah. Ia memaparkan bahwa kendala utama terletak pada komposisi kimia dari gas alam yang dihasilkan dari sumur-sumur domestik.
Bahan baku utama LPG memerlukan kandungan C3 dan C4, sementara gas alam Indonesia mayoritas didominasi oleh jenis C1 dan C2. Karakteristik gas C1 dan C2 ini justru sangat cocok untuk dikonversi menjadi gas pipa atau gas CNG pengganti LPG yang akan dikembangkan.
Pemerintah menegaskan tidak akan membiarkan kendala teknis tersebut menghambat upaya kemandirian energi di masa depan. Bahlil berkomitmen untuk melakukan segala bentuk efisiensi demi pelayanan terbaik kepada rakyat, termasuk melakukan inovasi teknologi pada infrastruktur gas.
Hilirisasi Batu Bara Menjadi DME Sebagai Alternatif Tambahan
Selain mendorong penggunaan CNG, kementerian juga terus mematangkan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether atau DME. Proyek ini diproyeksikan sebagai substitusi lain untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor yang harganya fluktuatif di pasar global.
DME diproduksi dengan mengolah batu bara kalori rendah yang ketersediaannya sangat melimpah di berbagai wilayah Indonesia. Dengan teknologi konversi ini, batu bara yang sebelumnya kurang bernilai ekonomi tinggi dapat diubah menjadi produk energi baru yang bersih.
Upaya diversifikasi energi melalui gas CNG pengganti LPG dan DME ini menjadi bagian dari peta jalan besar pemerintah dalam menjaga Ketahanan Energi Nasional. Transformasi ini diharapkan dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam waktu dekat melalui ketersediaan energi yang stabil dan murah.