Harga Minyak Dunia Melonjak, Trump Hadapi Tenggat Perang Iran
Uptodai.com - Harga minyak dunia dan konflik Iran Amerika Serikat kini menjadi sorotan utama pasar global setelah ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Lonjakan harga ini terjadi di tengah perdebatan hukum mengenai batas waktu pengerahan militer yang melibatkan pemerintahan Donald Trump. Para pelaku pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan energi jika eskalasi terus berlanjut tanpa kepastian hukum dari Washington.
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juli tercatat naik signifikan hingga menyentuh level US$111,34 per barel, bahkan sempat menembus angka US$114 dalam fluktuasi harian. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk kontrak Juni diperdagangkan pada level US$105,07. Pergerakan harga yang agresif ini mencerminkan kecemasan investor terhadap stabilitas kawasan penghasil minyak terbesar di dunia tersebut.
Manuver Trump Menghindari Resolusi Kekuatan Perang
Presiden Donald Trump saat ini menghadapi tenggat waktu 60 hari yang krusial berdasarkan Resolusi Kekuatan Perang tahun 1973. Undang-undang tersebut mewajibkan seorang presiden untuk menarik pasukan dalam waktu dua bulan setelah memberi tahu Kongres tentang penempatan militer. Batas waktu formal bagi pemerintahan Trump jatuh pada tanggal 1 Mei 2026, namun Kongres hingga kini belum memberikan otorisasi resmi.
Pihak Gedung Putih berupaya menggunakan celah hukum dengan menyatakan bahwa gencatan senjata yang disepakati tiga minggu lalu telah mengakhiri status permusuhan. Pejabat pemerintah berpendapat bahwa tidak adanya kontak senjata langsung sejak 7 April 2024 membuat hitungan mundur 60 hari tersebut tidak lagi berlaku. Argumen ini memungkinkan Trump untuk menghindari keharusan meminta persetujuan parlemen guna melanjutkan operasi militer.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperkuat posisi pemerintah dalam sidang dengar pendapat di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut secara efektif telah menghentikan sementara status perang antara kedua negara. Menurut Hegseth, situasi di lapangan saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan saat serangan awal diluncurkan pada akhir Februari lalu.
Ketegangan di Selat Hormuz dan Ancaman Blokade
Meskipun klaim gencatan senjata terus didengungkan, situasi di lapangan tetap menunjukkan tingkat kerawanan yang sangat tinggi. Trump bahkan meningkatkan retorikanya dengan bersumpah akan mempertahankan blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini bertujuan untuk memaksa Teheran agar bersedia kembali ke meja perundingan mengenai kesepakatan nuklir yang baru.
Pemerintah Iran merespons ancaman tersebut dengan tetap menutup akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal tanker internasional. Mereka menuntut Amerika Serikat untuk mencabut blokade ekonomi terlebih dahulu sebelum membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut. Kebuntuan diplomasi ini menjadi faktor utama yang mendorong harga minyak dunia dan konflik Iran Amerika Serikat tetap berada di level yang mengkhawatirkan.
Laporan internal dari Komando Pusat AS mengungkapkan bahwa militer telah menyiapkan rencana serangan lanjutan yang bersifat singkat namun dahsyat. Serangan ini dirancang untuk mematahkan kebuntuan perundingan yang saat ini sedang macet total antara Washington dan Teheran. Jika rencana ini terealisasi, para analis memprediksi harga minyak mentah bisa melonjak jauh melampaui angka US$120 per barel.
Dampak Ekonomi Global dan Ketahanan Energi
Ketidakpastian politik di Amerika Serikat menambah beban bagi stabilitas ekonomi global yang baru saja mencoba pulih. Para anggota parlemen dari kubu oposisi mengkritik keras langkah Trump yang dianggap mengabaikan wewenang Kongres dalam urusan perang. Mereka menilai bahwa klaim berakhirnya permusuhan hanyalah taktik politik untuk memperpanjang kehadiran militer tanpa pengawasan legislatif.
Di sisi lain, blokade pelabuhan Iran telah mengganggu arus distribusi minyak mentah ke berbagai negara importir di Asia dan Eropa. Gangguan pada Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sepertiga pengiriman minyak dunia melalui laut, memberikan tekanan inflasi yang nyata. Hal ini memaksa banyak negara untuk meninjau kembali strategi ketahanan energi mereka di tengah ancaman perang terbuka.
Hingga saat ini, pasar masih menunggu langkah konkret dari kedua belah pihak untuk meredakan ketegangan secara permanen. Tanpa adanya kesepakatan nuklir yang baru, risiko konfrontasi militer akan terus membayangi pasar komoditas global. Investor kini bersiap menghadapi volatilitas tinggi seiring dengan berakhirnya tenggat waktu hukum yang dihadapi oleh pemerintahan Trump.