Awas! India Ancam Industri Sepatu RI, Posisi Indonesia Tergeser?
Uptodai.com - Posisi Indonesia sebagai salah satu raja produsen alas kaki global kini menghadapi tantangan serius. Kekhawatiran muncul seiring pergerakan masif India yang kini berpotensi besar menjadi pesaing utama, bahkan India ancam industri sepatu RI secara langsung di mata pembeli internasional.
Fenomena ini bukan sekadar dinamika pasar biasa, melainkan sinyal bahaya yang menuntut respons cepat dari pemerintah dan pelaku usaha nasional. Jika tidak segera diatasi, Indonesia berisiko kehilangan daya tarik sebagai pusat produksi utama dunia.
India Mulai Gerilya, Pembeli Global Berpaling
Ketua Umum Terpilih Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Anton J Supit, menekankan bahwa posisi Indonesia saat ini memang masih sangat strategis di mata para pembeli global. Namun, keunggulan komparatif tersebut bisa memudar drastis jika pemerintah gagal memberikan kepastian regulasi dan sinyal positif yang meyakinkan bagi dunia usaha.
Selama ini, pilihan utama pembeli besar global hanya berkutat antara Vietnam dan Indonesia sebagai dua negara sourcing utama di Asia Tenggara. Akan tetapi, peta persaingan mulai berubah drastis.
Kini, India telah muncul ke permukaan sebagai pemain baru yang serius dan agresif dalam merebut pangsa pasar alas kaki. India menawarkan skala ekonomi yang besar dan insentif yang menarik, menjadikannya alternatif yang sulit diabaikan oleh merek-merek internasional.
Anton J Supit memperingatkan bahwa jika Indonesia terlalu lama berkutat menyelesaikan pekerjaan rumahnya, para buyers global dapat lebih dulu membangun infrastruktur dan rantai pasok yang kuat di India. Kondisi ini pada akhirnya akan membuat Indonesia sulit merebut kembali investasi yang sudah berpindah haluan.
Risiko Investasi Asing Pindah Haluan
Perpindahan fokus investasi asing industri alas kaki ke India akan sangat sulit untuk dibalikkan. Realitas ini dipercepat oleh kondisi geopolitik global yang menuntut diversifikasi rantai pasok untuk meminimalisir risiko.
Meskipun semua pihak berharap tercipta perdamaian dan stabilitas, para pembeli global menuntut kecepatan dan kepastian dalam produksi. Mereka tidak akan menunggu kondisi benar-benar aman sebelum mengambil keputusan investasi jangka panjang.
Apabila keputusan investasi baru diputuskan setelah keadaan global stabil, para pembeli khawatir akan tertinggal dari kompetitor lain yang sudah lebih dulu bergerak ke pasar alternatif. Oleh karena itu, sinyal positif dan kepastian regulasi dari pemerintah Indonesia menjadi kunci utama saat ini.
Utilisasi Rendah Menjadi Pekerjaan Rumah Mendesak
Selain ancaman dari luar, industri alas kaki nasional juga menghadapi tantangan internal yang signifikan. Data Aprisindo menunjukkan bahwa utilisasi industri alas kaki nasional masih berada di bawah level 40 persen, sebuah angka yang jauh dari kapasitas ideal.
Angka utilitas yang rendah ini sangat kontras, meskipun peredaran alas kaki di pasar ritel domestik sudah mencapai 50-75 persen dari kondisi prapandemi Covid-19. Rendahnya utilitas ini mengindikasikan adanya kapasitas produksi yang menganggur, yang berisiko membuat Indonesia kurang menarik bagi pesanan volume besar dari luar negeri.
Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian, perlu segera merumuskan kebijakan yang dapat meningkatkan daya saing secara holistik. Hal ini mencakup pemberian insentif fiskal, jaminan stabilitas tenaga kerja, hingga penyederhanaan birokrasi ekspor-impor.
Langkah proaktif ini penting agar keunggulan posisi strategis Indonesia di mata dunia tidak memudar begitu saja. Jika tidak, peluang besar untuk menjadi raja sepatu dunia akan diambil alih oleh pesaing baru yang lebih gesit, yakni India.