Iran Siap Tutup Selat Hormuz Usai Ultimatum 48 Jam Donald Trump
Uptodai.com - Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Teheran kini berada di titik nadir setelah militer Iran menyatakan kesiapan mereka untuk memblokade total jalur pelayaran vital tersebut. Langkah ekstrem ini muncul sebagai jawaban langsung atas ultimatum keras yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ketegangan yang meningkat pesat ini memicu kekhawatiran baru akan lumpuhnya pasokan energi dunia dalam waktu dekat.
Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan tidak akan ragu mengambil tindakan radikal jika Washington merealisasikan ancaman serangan terhadap fasilitas domestik mereka. Pernyataan resmi ini keluar pada Minggu (22/3/2026) sebagai respons atas gertakan Trump yang menargetkan jaringan listrik Iran. Militer Iran memandang ancaman Amerika Serikat sebagai deklarasi perang terbuka yang harus dibalas dengan kekuatan setimpal.
Ultimatum 48 Jam Donald Trump dan Ancaman Serangan PLTU
Sebelumnya, Donald Trump melalui platform Truth Social memberikan peringatan keras kepada Teheran untuk segera membuka akses Selat Hormuz tanpa syarat. Trump memberikan tenggat waktu hanya 48 jam bagi Iran untuk menghentikan segala bentuk gangguan di jalur laut internasional tersebut. Jika permintaan ini diabaikan, militer Amerika Serikat bersiap menghancurkan berbagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di seluruh penjuru Iran.
Trump bahkan secara spesifik menyebut akan memulai serangan dari fasilitas pembangkit listrik terbesar yang dimiliki Iran saat ini. Langkah ini bertujuan untuk melumpuhkan total aktivitas ekonomi dan domestik negara tersebut sebagai bentuk tekanan maksimal. Narasi agresif dari Gedung Putih ini langsung memicu reaksi berantai dari jajaran petinggi militer dan politik di Teheran.
Respons Keras Garda Revolusi Iran Terhadap Aset Amerika
Menanggapi gertakan tersebut, Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan saham dengan Amerika Serikat akan menjadi sasaran utama. Mereka mengancam akan menghancurkan sepenuhnya aset-aset ekonomi tersebut jika satu saja fasilitas energi Iran terkena serangan udara Washington. Hal ini memperluas cakupan konflik dari sekadar militer menjadi perang ekonomi total.
Selain itu, Teheran juga memperingatkan negara-negara di kawasan Timur Tengah yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer Amerika Serikat. Iran menganggap fasilitas energi di negara-negara tersebut sebagai target yang sah untuk dihancurkan sesuai hukum perang mereka. Situasi ini menempatkan negara-negara tetangga Iran dalam posisi yang sangat rentan terhadap serangan balasan.
Risiko Kehancuran Infrastruktur Permanen di Kawasan
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, mempertegas bahwa serangan balik mereka tidak hanya menyasar sektor energi. Infrastruktur teknologi informasi hingga fasilitas desalinasi air milik Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan tersebut masuk dalam daftar target operasi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran siap melakukan serangan komprehensif yang bisa melumpuhkan kehidupan publik di wilayah konflik.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, turut memberikan peringatan melalui media sosial X terkait risiko kerusakan permanen pada infrastruktur Timur Tengah. Ia menilai bahwa serangan terhadap pembangkit listrik Iran hanya akan memicu kehancuran yang tidak bisa diperbaiki bagi stabilitas energi regional. Qalibaf menekankan bahwa eskalasi ini akan merugikan semua pihak tanpa terkecuali.
Dampak Perang Terhadap Ekonomi dan Inflasi Global
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu telah menelan korban jiwa lebih dari 2.000 orang. Perang ini tidak hanya merusak tatanan keamanan, tetapi juga mengguncang pasar komoditas internasional secara hebat. Harga minyak dunia terus merangkak naik seiring dengan ketidakpastian keamanan di jalur perdagangan Selat Hormuz.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi global yang sulit terkendali akibat melonjaknya biaya logistik dan bahan bakar. Aliansi Barat kini menghadapi ujian berat dalam mempertahankan stabilitas ekonomi pascaperang yang mulai goyah. Jika ancaman penutupan Selat Hormuz benar-benar terjadi, dunia diprediksi akan menghadapi krisis energi terdahsyat dalam sejarah modern.