NATO Pecah! Prancis dan Kanada Kecam Serangan AS ke Iran
Uptodai.com - Kecaman sekutu atas serangan AS ke Iran kini mulai bermunculan dan memicu keretakan serius di dalam internal aliansi NATO. Dua negara anggota utama, Prancis dan Kanada, secara terbuka menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap operasi militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel. Langkah sepihak Washington ini dianggap telah mengabaikan prinsip-prinsip diplomasi dan hukum internasional yang berlaku.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan bahwa keputusan untuk menyerang Teheran dilakukan sepenuhnya di luar koridor hukum internasional. Macron menyatakan bahwa Prancis tidak dapat memberikan dukungan atau persetujuan atas tindakan militer yang provokatif tersebut. Menurutnya, tindakan agresif ini justru memperkeruh suasana di kawasan yang sudah sangat labil.
Meski melontarkan kritik tajam, Macron tetap menyoroti tanggung jawab besar Teheran dalam memicu ketegangan global. Ia menunjuk program nuklir Iran yang dianggap berbahaya serta dukungan negara tersebut terhadap berbagai kelompok proksi di Timur Tengah. Selain itu, Macron mengecam tindakan represif pemerintah Iran terhadap warganya sendiri selama gelombang protes beberapa waktu lalu.
Kanada Desak Deeskalasi dan Hormati Aturan Internasional
Senada dengan Prancis, Kanada juga menyuarakan keprihatinan mendalam terkait dampak kecaman sekutu atas serangan AS ke Iran ini. Perwakilan Kanada, Carney, menyerukan agar semua pihak segera melakukan deeskalasi guna menghindari perang terbuka yang lebih luas. Berbicara di Sydney, ia menekankan pentingnya menghormati aturan keterlibatan internasional dalam setiap konflik bersenjata.
Carney menyebut bahwa situasi di Timur Tengah saat ini merupakan cermin nyata dari kegagalan tatanan internasional dalam menjaga perdamaian. Kanada merasa kecewa karena Amerika Serikat dan Israel bertindak tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan para sekutunya. Ketidakhadiran peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam proses pengambilan keputusan ini menjadi poin utama keberatan Ottawa.
Walaupun Kanada memahami kekhawatiran AS terkait program nuklir Iran, mereka tetap menyesalkan cara-cara militeristik yang ditempuh. Carney menegaskan bahwa hukum internasional bersifat mengikat bagi seluruh pihak yang terlibat dalam peperangan, tanpa terkecuali. Absennya koordinasi dengan NATO dianggap sebagai langkah mundur dalam diplomasi multilateral yang selama ini dibangun.
Dampak Tewasnya Khamenei dan Guncangan Pasar Global
Eskalasi konflik ini mencapai titik puncaknya setelah serangan gabungan AS-Israel berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kematian tokoh sentral ini memicu kemarahan besar di Teheran yang langsung dibalas dengan serangan balasan ke berbagai titik strategis. Fasilitas minyak, pusat data, hingga pangkalan militer di kawasan tersebut kini menjadi sasaran empuk rudal-rudal Iran.
Dampak dari kecaman sekutu atas serangan AS ke Iran dan aksi saling balas ini langsung merembet ke sektor ekonomi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran menyebabkan pasokan energi global terganggu secara drastis. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam dalam hitungan jam, menciptakan kepanikan di lantai bursa saham New York hingga Asia.
Kondisi ini semakin diperparah dengan sikap keras Presiden Donald Trump terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan visinya. Trump bahkan mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol karena menolak memberikan akses pangkalan udara bagi pesawat militer AS. Ketegangan internal ini menandakan bahwa solidaritas NATO sedang berada di titik terendah sepanjang sejarah modern.
Ketegangan Diplomatik Washington dengan Sekutu Eropa
Selain Spanyol, Inggris juga tidak luput dari sasaran kritik pedas Donald Trump terkait respons mereka terhadap konflik ini. Washington tampak semakin terisolasi secara diplomatik karena memilih jalan pintas militer dibandingkan jalur negosiasi yang panjang. Ketidakpastian ini membuat para investor global cenderung menarik aset mereka dari pasar berisiko tinggi.
Banyak pengamat menilai bahwa keretakan di tubuh NATO ini akan memberikan keuntungan bagi poros kekuatan lain di luar Barat. Jika Amerika Serikat terus mengabaikan masukan dari sekutu dekatnya, stabilitas keamanan global diprediksi akan semakin sulit terjaga. Krisis ini bukan lagi sekadar perang antara dua negara, melainkan ujian bagi integritas aliansi pertahanan terbesar di dunia.