Uptodai.com - Sejarah kelam Indonesia mencatat berbagai bencana alam dahsyat, namun salah satu yang paling mengerikan adalah peristiwa yang terjadi di Maluku. Sebuah catatan kuno memberikan gambaran detail mengenai kengerian luar biasa yang dirasakan penduduk setempat, bahkan hingga menimbulkan kesan seperti hari kiamat. Peristiwa ini dikenal sebagai Kesaksian Tsunami Ambon 1674, sebuah bencana yang mengubah lanskap dan menelan ribuan nyawa.

Kisah ini tidak datang dari mitos, melainkan dari laporan ilmiah seorang naturalis ternama Eropa yang kala itu bertugas di Ambon. Laporannya menjadi pengingat penting bagi kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana di wilayah kepulauan Indonesia.

George Rumphius: Dari Prajurit VOC Menjadi Saksi Bencana

Sosok yang mencatat detail bencana ini adalah George Bernard Rumphius. Ia tiba di Ambon pada tahun 1653 setelah melalui pelayaran panjang dan melelahkan dari Portugal. Setelah melewati ganasnya Samudra Atlantik dan Selat Magelhaens, Rumphius akhirnya menginjakkan kaki di pulau rempah-rempah yang ia kenal hanya dari cerita.

Awalnya, Rumphius ditugaskan sebagai tentara VOC dengan misi menjaga keamanan dan mendukung eksploitasi rempah-rempah. Namun demikian, ia menunjukkan ketertarikan yang jauh lebih besar pada alam dan masyarakat Ambon ketimbang memanggul senjata.

Petinggi VOC menilai kinerjanya kurang maksimal dalam urusan militer. Alih-alih fokus pada tugas keamanan, Rumphius justru menghabiskan waktu untuk mengamati flora dan fauna lokal. Akibatnya, ia dipindahkan ke dinas sipil, sebuah keputusan yang disambut baik dan memicu ambisi ilmiahnya.

Pemindahan tugas ini memungkinkan Rumphius mendalami studinya, yang akhirnya membuatnya tercatat dalam sejarah sains sebagai naturalis terkemuka. Ia merangkum seluruh pengamatannya dalam sebuah karya monumental berjudul *Herbarium Amboinense*, yang bukan hanya berisi katalog makhluk hidup, tetapi juga catatan mengerikan tentang bencana yang ia saksikan sendiri.

Detik-Detik Kengerian Tsunami Ambon 1674

Dalam bukunya, Rumphius menceritakan detail bencana dahsyat yang melanda Ambon pada Sabtu, 17 Februari 1674. Pada hari itu, ia bekerja seperti biasa hingga menjelang malam. Tidak ada tanda-tanda alam yang aneh; langit cerah dan angin bertiup normal.

Namun, suasana berubah drastis tepat pukul 19.30 waktu setempat. Tanpa didahului angin kencang atau hujan, lonceng-lonceng besar di Kastil Victoria, Ambon, mulai bergerak dan berdentang sendiri. Suara misterius itu memicu kebingungan massal di kalangan penduduk dan tentara VOC.

Kekagetan itu segera berganti horor ketika tanah mulai bergerak dengan hebat. Rumphius menggambarkan sensasi gempa itu sangat menakutkan, seolah-olah pijakan bumi berubah menjadi lautan yang bergelombang. Ia menuliskan, “Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan.”

Melihat kondisi tersebut, seluruh garnisun dan penduduk yang selamat dari reruntuhan awal bergegas mundur ke lapangan terbuka di bawah benteng. Mereka berharap ruang lapang tersebut dapat memberikan perlindungan dari bangunan yang ambruk. Sayangnya, mereka salah besar. Kengerian yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Gelombang Raksasa Ambon Menghapus Desa

Selang beberapa detik setelah gempa, tiba-tiba terdengar suara gemuruh luar biasa dari arah laut. Air laut yang tadinya surut, kini bergerak naik dengan kecepatan tak terbayangkan. Air tersebut bukan sekadar pasang, melainkan dinding air raksasa yang bergerak menuju daratan.

Para saksi mata yang selamat menggambarkan gelombang ini mencapai ketinggian yang ekstrem, diperkirakan mencapai 100 meter. Gelombang air bah itu datang dengan kekuatan yang melampaui batas imajinasi manusia, menyapu bersih desa-desa di pesisir. Bagi mereka yang melihatnya, momen itu terasa seperti akhir dari dunia.

Rumphius mencatat bagaimana gelombang tersebut sedemikian tinggi hingga melampaui atap-atap rumah. Air laut menyapu bersih seluruh desa, bahkan melemparkan batuan koral berukuran besar jauh ke pedalaman. Seluruh garnisun yang berkumpul di lapangan terbuka, termasuk ratusan warga, tersapu tak bersisa.

Bencana ini menjadi salah satu catatan paling detail tentang kekuatan alam yang destruktif di Nusantara. Kesaksian Tsunami Ambon 1674 yang ditulis Rumphius bukan hanya sebuah laporan sejarah, tetapi juga warisan yang mendesak kita untuk selalu siaga menghadapi ancaman gempa dan tsunami yang mengintai di kawasan Cincin Api Pasifik.