Airlangga Bahas Ketahanan Energi Nasional di Forum Tokoh Dunia
Uptodai.com - Ketahanan energi nasional Indonesia menjadi topik utama yang diangkat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat bertemu dengan para mantan pemimpin dan pakar kebijakan dunia. Pertemuan strategis ini berlangsung di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian akibat pergeseran peta kekuatan politik internasional.
Mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida memimpin langsung jalannya diskusi tingkat tinggi tersebut. Beliau didampingi oleh Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang bertindak sebagai Co-Chair dalam forum yang mempertemukan para arsitek kebijakan ekonomi kawasan Asia tersebut.
Sejumlah tokoh besar turut memberikan pandangan mereka, termasuk Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati dan Mantan Deputi Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat. Hadir pula tokoh perbankan sentral seperti Mantan Gubernur Reserve Bank of India Duvvuri Subbarao serta Mantan Gubernur Bank of Thailand Tarisa Watanagase.
Tantangan Geopolitik Global dan Melemahnya Multilateralisme
Dalam paparannya, Airlangga menyoroti tatanan global yang kini sedang mengalami perubahan drastis menuju arah yang lebih kompleks. Ia melihat adanya peningkatan politik berbasis kekuatan dan proteksionisme yang mulai mengikis kepercayaan terhadap sistem multilateralisme yang selama ini dianut dunia.
Kondisi ini terlihat jelas dari minimnya kemajuan dalam forum-forum internasional seperti WTO dalam merespons isu perdagangan digital. Selain itu, masalah ketahanan rantai pasok global juga belum menemukan solusi konkret karena banyak negara lebih memilih pendekatan unilateral untuk mengamankan kepentingan domestik mereka.
Airlangga juga memberikan perhatian khusus pada eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan ini memberikan tekanan luar biasa terhadap stabilitas ekonomi dunia, terutama pada sektor komoditas energi yang sangat sensitif terhadap isu keamanan.
Lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus angka US$ 100 per barel menjadi bukti nyata betapa rapuhnya ekonomi global saat ini. Fluktuasi harga yang terus terjadi menciptakan ketidakpastian bagi negara-negara importir energi di seluruh dunia, termasuk di kawasan Asia.
Strategi Ketahanan Energi Nasional Indonesia Menghadapi Krisis
Menyikapi ketahanan energi nasional Indonesia, pemerintah terus memperkuat fondasi energi berbasis sumber daya domestik sesuai arahan Presiden. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada pasar global yang seringkali tidak terprediksi dan penuh dengan risiko geopolitik.
Salah satu program andalan yang kini sudah berjalan adalah implementasi Biodiesel B40 yang memanfaatkan kekayaan kelapa sawit dalam negeri. Pemerintah bahkan sudah menetapkan target ambisius untuk segera melakukan percepatan menuju program B50 dalam waktu dekat.
Tidak hanya pada sektor biodiesel, pengembangan bioetanol juga terus dipacu melalui program E10 yang akan ditingkatkan menjadi E20. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi bahan bakar agar Indonesia memiliki kemandirian energi yang lebih tangguh di masa depan.
Di sektor energi baru terbarukan, Airlangga mengungkapkan bahwa Indonesia sedang menyiapkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 800 Gigawatt. Proyek raksasa ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mempercepat transisi energi hijau sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.
Airlangga menegaskan bahwa stabilitas ekonomi dunia sangat bergantung pada dinamika geopolitik, termasuk keamanan jalur logistik di Selat Hormuz. Dalam menghadapi situasi ini, Asia dianggap memiliki peran sentral sebagai motor penggerak stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang harus tetap solid di tengah badai krisis global.