Boeing Pasok 5.000 Bom Pintar Israel Senilai Rp 4,9 Triliun
Uptodai.com - Perusahaan dirgantara raksasa asal Amerika Serikat baru saja menyepakati kontrak bom pintar Boeing Israel senilai US$312 juta atau setara dengan Rp4,9 triliun. Kesepakatan besar ini mencakup pengadaan sekitar 5.000 unit amunisi canggih untuk memperkuat lini pertahanan udara negara tersebut. Langkah ini mempertegas posisi Boeing sebagai mitra strategis utama bagi militer Israel dalam beberapa dekade terakhir.
Meskipun nilai kontrak ini sangat fantastis, pengiriman ribuan bom tersebut tidak akan berlangsung dalam waktu dekat. Berdasarkan jadwal yang telah ditentukan, proses pengiriman baru akan dimulai sekitar 36 bulan atau tiga tahun ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa pengadaan tersebut bukan bertujuan untuk mendukung operasi militer yang sedang berjalan saat ini di kawasan Timur Tengah.
Spesifikasi Small Diameter Bomb (SDB) Milik Boeing
Amunisi yang menjadi poin utama dalam kesepakatan ini adalah Small Diameter Bomb (SDB), sebuah bom berpemandu presisi yang sangat mematikan. Israel memilih jenis senjata ini karena kemampuannya yang sangat akurat dalam menghantam target dari jarak jauh. Pilot jet tempur dapat meluncurkan bom ini dari jarak lebih dari 64 kilometer atau sekitar 40 mil tanpa harus mendekati zona bahaya.
Teknologi canggih pada SDB memungkinkan pesawat tempur membawa lebih banyak amunisi dalam satu kali penerbangan karena ukurannya yang ringkas. Sistem pemandu laser dan GPS memastikan tingkat kesalahan yang sangat minim saat menghancurkan sasaran strategis. Penggunaan bom pintar ini juga diklaim dapat mengurangi risiko kerusakan kolateral di sekitar area target operasi militer.
Penguatan Kapasitas Militer Jangka Panjang
Laporan dari berbagai sumber internal menyebutkan bahwa kontrak bom pintar Boeing Israel ini murni merupakan bagian dari rencana jangka panjang. Pemerintah Israel ingin memastikan stok persenjataan mereka tetap mutakhir guna menghadapi dinamika keamanan yang terus berubah. Investasi besar ini mencerminkan strategi pertahanan yang berorientasi pada masa depan, bukan sekadar respons terhadap konflik sesaat.
Pihak Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga memberikan lampu hijau terhadap skema penjualan komersial langsung ini. Selain bom pintar, Israel kabarnya akan menambah belanja amunisi penting lainnya senilai US$298 juta atau sekitar Rp5 triliun. Semua langkah ini dilakukan untuk menjaga keunggulan kualitatif militer Israel di kawasan yang penuh gejolak tersebut.
Rekam Jejak Kerja Sama Boeing dan Israel
Hubungan kerja sama antara Boeing dan militer Israel sebenarnya sudah terjalin sangat erat sejak lama. Pada tahun lalu, Boeing bahkan mengantongi kontrak jumbo senilai US$8,6 miliar atau sekitar Rp145 triliun dari Pentagon. Kontrak tersebut bertujuan untuk memproduksi serta mengirimkan armada jet tempur F-15 terbaru melalui skema penjualan militer antarpemerintah.
Jet tempur F-15 tersebut nantinya akan menjadi platform utama yang mengangkut bom-bom pintar hasil produksi Boeing. Selain pesawat tempur, Israel juga telah mendapatkan persetujuan untuk membeli helikopter serang AH-64 Apache buatan Boeing. Kombinasi antara armada udara modern dan amunisi presisi tinggi ini akan meningkatkan daya gempur militer Israel secara signifikan.
Dukungan Militer Amerika Serikat yang Masif
Amerika Serikat hingga kini tetap memegang predikat sebagai pemasok senjata terbesar bagi Israel di panggung global. Washington secara konsisten memberikan berbagai sistem persenjataan canggih, mulai dari helikopter serang hingga sistem pertahanan rudal. Dukungan ini merupakan bagian dari komitmen keamanan yang telah disepakati oleh kedua negara selama bertahun-tahun.
Bahkan, pada masa pemerintahan sebelumnya, otoritas Amerika Serikat sempat menggunakan kewenangan darurat untuk mempercepat penjualan senjata. Kala itu, lebih dari 20.000 bom senilai Rp11 triliun dikirimkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak militer Israel. Kontrak bom pintar Boeing Israel yang terbaru ini hanyalah satu dari sekian banyak babak baru dalam kemitraan pertahanan kedua negara.