Krisis Harga LPG di India: Warga Kembali Masak Pakai Kayu Bakar
Uptodai.com - Krisis harga LPG di India kini mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat kelas bawah di berbagai wilayah negara tersebut. Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama terganggunya rantai pasok energi ke negara anak benua itu. Akibatnya, jutaan rumah tangga kini terpaksa meninggalkan kompor gas dan beralih kembali ke cara tradisional yang tidak sehat.
Pemandangan asap tebal dari pembakaran kayu dan arang kini mulai kembali menghiasi sudut-sudut pemukiman padat di New Delhi. Fenomena ini menandakan kemunduran besar bagi upaya modernisasi energi yang selama ini menjadi ambisi pemerintah setempat. Warga mengaku tidak punya pilihan lain karena harga gas sudah melampaui batas kemampuan finansial mereka sehari-hari.
Lonjakan Harga di Pasar Gelap dan Beban Ekonomi
Di pasar gelap ibu kota, harga satu tabung gas melonjak hingga angka yang tidak masuk akal bagi pekerja harian. Jika sebelumnya warga membeli LPG seharga 1.800 hingga 2.000 rupee, kini mereka harus merogoh kocek hingga 5.000 rupee. Angka tersebut bahkan setara dengan total pendapatan bulanan sebagian besar buruh kasar di sana.
Sheela Kumari, seorang pekerja rumah tangga berusia 36 tahun, menceritakan betapa beratnya beban ekonomi yang ia pikul saat ini. Ia terpaksa berhenti menggunakan LPG karena satu tabung ukuran 14 kilogram hanya bertahan kurang dari tiga minggu untuk keluarganya. Baginya, membeli gas dengan harga sekarang sama saja dengan tidak makan selama sebulan penuh.
“Dulu kami masih bisa mengusahakan untuk membeli gas, tapi sekarang situasinya sudah mustahil bagi kami,” ujar Sheela dengan nada getir. Ia kini menghabiskan waktu lebih lama setiap harinya untuk mengumpulkan kayu bakar demi mengepulkan asap dapur. Meskipun murah, pilihan ini membawa ancaman kesehatan yang sangat nyata bagi anak-anaknya.
Ancaman Kesehatan dan Dampak Polusi Udara
Paparan asap dari pembakaran biomassa di dalam ruangan tertutup meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut secara drastis. Anak-anak Sheela kini mulai sering mengalami batuk-batuk kronis akibat menghirup jelaga hitam setiap hari saat memasak. Namun, kemiskinan yang mencekik memaksa mereka untuk mengabaikan risiko kesehatan tersebut demi perut yang tetap terisi.
Kondisi serupa juga dialami oleh Munni Bai, seorang warga yang sebenarnya sangat menghindari asap karena memiliki riwayat penyakit asma. Sebelumnya, ia sempat beralih menggunakan kompor listrik dan biogas berkat bantuan subsidi dari pemerintah. Namun, biaya operasional yang melambung tinggi membuatnya terpaksa kembali ke bahan bakar kayu yang menyesakkan dada.
Dampak kenaikan harga energi global ini juga diperparah oleh praktik penimbunan yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab di pasar informal. Para aktivis lingkungan menyebut bahwa stok gas sebenarnya tersedia, namun aksesnya sengaja dihambat untuk memicu kelangkaan buatan. Hal ini membuat harga di tingkat pengecer melonjak hingga tiga kali lipat dari harga resmi pemerintah.
Masalah Birokrasi dan Nasib Pekerja Migran
Masalah birokrasi juga menjadi tembok penghalang bagi para pekerja migran untuk mendapatkan energi bersih yang terjangkau di kota besar. Banyak dari mereka tidak memiliki dokumen kependudukan yang lengkap untuk mengakses program subsidi LPG resmi. Tanpa dokumen tersebut, mereka menjadi sasaran empuk para tengkulak gas yang mengambil keuntungan di tengah krisis.
Krisis ini secara langsung mengancam kualitas udara di New Delhi yang sudah menyandang status sebagai salah satu kota paling polusi di dunia. Penggunaan kayu, arang, dan biomassa secara masif akan menambah konsentrasi partikel berbahaya PM2.5 di atmosfer kota. Dampak jangka panjangnya tentu akan membebani sistem kesehatan nasional India yang sudah sangat kewalahan.
Padahal, pemerintah India sebelumnya telah sukses menjalankan program “Ujjwala” yang menyasar jutaan rumah tangga miskin di pedesaan. Program ini telah memberikan akses LPG kepada lebih dari 100 juta keluarga untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar padat. Namun, pencapaian besar tersebut kini berada di ambang kegagalan akibat guncangan pasar energi internasional.
Para peneliti dari Centre for Advocacy and Research (CFAR) memperingatkan bahwa jika harga tidak segera stabil, transisi energi bersih akan terhenti. Pemerintah didesak untuk segera melakukan intervensi pasar guna melindungi masyarakat rentan dari eksploitasi harga. Tanpa langkah nyata, jutaan warga India akan terus terperangkap dalam kepulan asap dapur yang mematikan.