Machado Serahkan Nobel Perdamaian ke Trump, Ini Respons Institut
Uptodai.com - Dalam sebuah langkah politik yang mengejutkan dunia, aktivis oposisi Venezuela, María Corina Machado, secara resmi Machado serahkan Nobel Perdamaian ke Trump saat pertemuan mereka di Florida, Amerika Serikat. Penyerahan medali bergengsi ini dilakukan sebagai pengakuan atas komitmen mantan Presiden AS tersebut terhadap kebebasan rakyat Venezuela.
Pertemuan antara Machado dan Trump berlangsung intim, melibatkan makan siang yang berjalan lebih dari satu jam. Momen ini terjadi di tengah gejolak politik besar di Venezuela, terutama setelah penangkapan pemimpin lama Nicolas Maduro dalam sebuah operasi kilat oleh AS bulan ini.
Alasan Machado Serahkan Nobel Perdamaian ke Trump
Machado, yang menggambarkan pertemuan itu sebagai “sangat baik,” menegaskan bahwa penyerahan medali tersebut merupakan simbolis. Ia ingin mengakui dukungan teguh Donald Trump terhadap perjuangan demokratis di negaranya. Sikap ini tampak merupakan bagian dari manuver Machado untuk mendapatkan pengaruh signifikan atas arah masa depan Venezuela yang kini berada di persimpangan jalan.
Sejak Maduro ditangkap, berbagai tokoh oposisi, anggota diaspora, dan politisi di seluruh Amerika telah menyatakan harapan bahwa Venezuela akan memulai proses demokratisasi yang sesungguhnya. Machado, yang berhasil melarikan diri dari Venezuela melalui pelarian laut yang berani pada Desember lalu, kini bersaing keras untuk memastikan ia memiliki peran sentral dalam pemerintahan transisi ke depan.
Sebelumnya, Trump memang secara terbuka sempat mengampanyekan dirinya untuk mendapatkan penghargaan tersebut. Namun, Nobel Institute justru memberikannya kepada Machado bulan lalu, sebuah keputusan yang memperkuat posisi Machado sebagai ikon perlawanan.
Sikap Tegas Nobel Institute dan Bantahan Trump
Kendati Machado menyerahkan medali tersebut, Nobel Institute dengan tegas menyatakan bahwa penghargaan tersebut tetap menjadi milik Machado. Mereka menegaskan bahwa hadiah Nobel Perdamaian tidak dapat dialihkan, dibagikan, atau dicabut. Pernyataan ini memastikan bahwa penyerahan kepada Trump hanyalah sebuah gestur politik, bukan pengalihan kepemilikan resmi.
Menariknya, sebelum pertemuan ini terjadi, Trump sempat memberikan pernyataan yang kontradiktif mengenai penghargaan tersebut. Dikutip dari Reuters, Trump sempat mengaku tidak ingin Machado memberikan Nobel Perdamaian kepadanya. “Tidak, saya tidak mengatakan itu. Dia memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian,” ujar Trump saat itu.
Namun, penerimaan pertemuan dan medali ini menunjukkan dinamika politik yang berubah cepat. Setelah bertemu dengan Trump, Machado melanjutkan kunjungannya ke Capitol Hill. Di sana, ia bertemu dengan lebih dari selusin senator, baik dari Partai Republik maupun Demokrat, untuk membahas masa depan politik Venezuela.
Realitas Politik di Washington
Di tengah euforia pertemuan tingkat tinggi tersebut, Gedung Putih tetap memberikan penilaian realistis mengenai posisi Machado. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa Presiden Trump memang menantikan pertemuan tersebut.
Akan tetapi, Leavitt menambahkan bahwa penilaian realistis menunjukkan bahwa saat ini Machado belum memiliki dukungan yang dibutuhkan untuk memimpin negara dalam jangka pendek. Hal ini menggarisbawahi kompleksitas transisi kekuasaan di Caracas.
Leavitt memuji Machado sebagai “suara yang luar biasa dan berani bagi banyak orang di Venezuela.” Meskipun demikian, Machado kini harus berupaya keras untuk memastikan dirinya tetap relevan di tengah persaingan sengit dengan anggota pemerintah Venezuela lainnya yang juga berupaya mendapatkan perhatian dan dukungan dari Amerika Serikat.