Uptodai.com - Nadiem Makarim jadi tahanan rumah setelah Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta mengabulkan permohonan pengalihan status penahanannya. Keputusan ini membawa mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tersebut kembali ke pelukan keluarga meski tetap berada dalam pengawasan ketat pihak berwenang.

Momen kepulangan ini menyisakan cerita emosional yang mendalam bagi pendiri Gojek tersebut, terutama saat berinteraksi dengan anak bungsunya. Nadiem mengungkapkan bahwa perasaannya campur aduk ketika harus kembali beradaptasi dengan suasana rumah di tengah proses hukum yang menjeratnya.

Momen Haru Tangis Sang Buah Hati

Nadiem menceritakan sebuah kejadian menyentuh saat ia hendak berangkat menuju pengadilan untuk mengikuti agenda persidangan rutin. Anak bungsunya yang baru menginjak usia satu tahun menangis histeris seolah tidak rela melepaskan sang ayah pergi dari rumah.

Bayi tersebut tampaknya merasakan kehadiran ayahnya yang kini lebih sering berada di rumah, namun mendadak harus pergi lagi untuk urusan hukum. Nadiem mengaku harus menarik tangannya dengan lembut dari dekapan sang anak agar bisa tetap hadir di ruang sidang.

“Tadi si baby yang umur satu tahun itu menangis waktu saya keluar untuk sidang hari ini,” ujar Nadiem saat ditemui di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada Rabu (13/2/2026). Ia menambahkan bahwa anaknya seolah baru pertama kali merasakan keberadaannya kembali di rumah setelah sekian lama.

Kondisi Kesehatan dan Agenda Operasi Medis

Meskipun Nadiem Makarim jadi tahanan rumah, ia tidak bisa sepenuhnya beristirahat dengan tenang karena kondisi kesehatannya yang menurun. Usai menjalani persidangan, ia dijadwalkan segera masuk ke ruang operasi untuk menjalani prosedur bedah yang mendesak.

Langkah medis ini merupakan operasi keempat atau kelima yang harus ia jalani selama terseret dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Laptop Chromebook. Nadiem menegaskan bahwa penanganan medis ini tidak bisa ditunda lagi karena berisiko fatal bagi kesehatan jangka panjangnya.

Majelis hakim sendiri memberikan izin tahanan rumah salah satunya karena mempertimbangkan rekam medis Nadiem yang membutuhkan perawatan intensif. Hakim menilai faktor kemanusiaan dan kondisi kesehatan terdakwa menjadi poin krusial dalam pengambilan keputusan tersebut.

Aturan Ketat Selama Menjadi Tahanan Rumah

Status sebagai tahanan rumah tidak berarti Nadiem mendapatkan kebebasan penuh layaknya warga biasa. Majelis Hakim menetapkan sejumlah aturan baku yang wajib dipatuhi secara disiplin agar status penangguhannya tidak dicabut kembali.

Nadiem dilarang keras meninggalkan rumah kecuali untuk keperluan medis yang mendesak atau menghadiri jadwal persidangan yang telah ditetapkan. Selain itu, pihak kejaksaan memasang alat pelacak elektronik pada tubuhnya untuk memantau pergerakan setiap saat.

Interaksi sosial Nadiem juga dibatasi hanya untuk keluarga inti, tim penasihat hukum, dan tenaga medis yang menangani penyakitnya. Ia juga dilarang memberikan pernyataan apa pun kepada media massa tanpa seizin resmi dari Majelis Hakim yang menyidangkan perkaranya.

Perkembangan Kasus Korupsi Chromebook

Dalam perkara ini, Nadiem didakwa terlibat dalam skandal korupsi pengadaan Laptop Chromebook yang diduga merugikan keuangan negara dalam jumlah besar. Ia tidak sendiri, karena jaksa juga menyeret sejumlah pejabat teras di lingkungan Kemendikbudristek tahun anggaran 2020-2021.

Beberapa nama yang ikut terseret antara lain Sri Wahyuningsih dan Mulyatsyah yang menjabat sebagai direktur di direktorat jenderal terkait. Jaksa menduga adanya kongkalikong dalam proses pengadaan barang yang mengakibatkan spesifikasi perangkat tidak sesuai dengan anggaran yang dikucurkan.

Hingga saat ini, persidangan masih terus bergulir dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi dan pembuktian berkas. Nadiem diwajibkan melapor secara rutin dua kali sepekan, yakni pada hari Senin dan Kamis, kepada petugas kejaksaan setempat.