Uptodai.com - Pertemuan senjata nuklir trilateral antara Amerika Serikat, Rusia, dan China kini tengah menjadi sorotan dunia di Jenewa, Swiss. Pejabat senior Washington mengonfirmasi bahwa rangkaian diskusi intensif ini berlangsung segera setelah berakhirnya masa berlaku perjanjian New START. Langkah diplomatik tersebut bertujuan untuk memetakan kembali stabilitas keamanan global di tengah ketegangan yang terus meningkat.

Delegasi Amerika Serikat dilaporkan telah bertemu dengan perwakilan Rusia pada Senin lalu untuk membahas kelanjutan kontrol senjata. Agenda kemudian berlanjut dengan pertemuan bilateral bersama utusan dari Beijing pada hari berikutnya. Pertemuan kali ini diklaim jauh lebih substantif dibandingkan diskusi persiapan yang sempat digelar di Washington beberapa waktu sebelumnya.

Dampak Berakhirnya Perjanjian New START

Dunia kini menghadapi kekosongan hukum internasional yang cukup mengkhawatirkan setelah pakta New START resmi kedaluwarsa pada 5 Februari 2026. Perjanjian tersebut sebelumnya menjadi satu-satunya instrumen hukum yang membatasi jumlah penempatan hulu ledak nuklir antara Washington dan Moskow. Presiden Donald Trump secara konsisten mendesak adanya kesepakatan baru yang lebih komprehensif dengan melibatkan kekuatan militer China ke dalamnya.

Asisten Sekretaris Negara AS untuk Pengendalian Senjata, Christopher Yeaw, melontarkan kritik tajam terhadap kerangka kerja lama tersebut. Ia menilai New START memiliki cacat serius karena mengabaikan ambisi nuklir Beijing yang terus tumbuh pesat secara tidak transparan. Washington memandang pembangunan persenjataan China sebagai ancaman baru yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.

Pemerintah Amerika Serikat juga menggarisbawahi pentingnya keterbukaan data mengenai jumlah hulu ledak yang dimiliki oleh setiap negara. Tanpa adanya transparansi, risiko kesalahpahaman antarnegara pemilik senjata nuklir akan semakin tinggi. Oleh karena itu, AS berupaya keras menarik China ke meja perundingan guna mencapai kesepakatan yang lebih adil bagi semua pihak.

Respon Keras China terhadap Tekanan Washington

China secara tegas menolak desakan Amerika Serikat untuk bergabung dalam negosiasi trilateral yang diusulkan tersebut. Duta Besar China, Shen Jian, menyatakan bahwa negaranya tidak memiliki niat sedikit pun untuk mengikuti perlombaan senjata global. Beijing berargumen bahwa kekuatan nuklir mereka saat ini masih belum sebanding dengan kapasitas yang dimiliki oleh dua raksasa nuklir dunia.

Shen Jian menekankan bahwa posisi pertahanan China bersifat defensif dan bertujuan semata-mata untuk menjaga kedaulatan nasional. Menurutnya, memaksa China masuk ke dalam liga yang sama dengan Amerika Serikat dan Rusia adalah tindakan yang tidak memiliki dasar kuat. Pernyataan ini sekaligus memberikan sinyal bahwa Beijing belum bersedia berkompromi dalam waktu dekat.

Selain itu, pihak China menilai bahwa negara-negara dengan persenjataan nuklir terbesar memiliki tanggung jawab lebih besar untuk melakukan pelucutan senjata terlebih dahulu. Mereka menuding Washington hanya mencoba mengalihkan perhatian dunia dari modernisasi senjata nuklir milik AS sendiri. Perdebatan sengit ini menunjukkan adanya jurang perbedaan persepsi yang sangat dalam di antara kekuatan besar tersebut.

Keterlibatan Kekuatan Nuklir Eropa

Selain berkomunikasi dengan Rusia dan China, Amerika Serikat juga menjalin kontak erat dengan sekutu strategisnya di Eropa. Pejabat terkait mengungkapkan bahwa Washington telah berbicara dengan Inggris dan Prancis dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini menunjukkan upaya Amerika Serikat untuk membentuk front persatuan di antara negara-negara pemilik senjata nuklir yang tergabung dalam NATO.

Ketegangan yang terjadi di Jenewa mencerminkan betapa sulitnya mencapai konsensus baru di era geopolitik yang semakin terpolarisasi. Para pengamat militer memprediksi bahwa tanpa adanya pakta pengganti yang kuat, risiko perlombaan senjata nuklir akan menjadi ancaman nyata bagi perdamaian dunia. Kini, masyarakat internasional hanya bisa menunggu hasil akhir dari maraton diplomasi yang tengah berlangsung di Swiss tersebut.