Uptodai.com - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu Eropa memanas setelah munculnya ambisi Washington terhadap Greenland. Situasi ini memicu peringatan paling keras yang pernah ada dari Kopenhagen, yang berpotensi mengguncang fondasi keamanan global.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, mengeluarkan ancaman serius. PM Denmark ancam NATO bubar dan sistem keamanan pasca-Perang Dunia II akan runtuh total, jika AS mengambil tindakan militer atau agresi untuk mencaplok Greenland, wilayah otonom yang secara konstitusional merupakan bagian dari Kerajaan Denmark.

Ancaman Agresi dan PM Denmark Ancam NATO Bubar

Peringatan keras ini muncul setelah mantan Presiden AS, Donald Trump, kembali menyuarakan niatnya untuk memasukkan Greenland di bawah kendali Washington. Trump berdalih bahwa akuisisi Greenland adalah kepentingan vital bagi keamanan nasional AS.

Frederiksen menegaskan bahwa agresi antaranggota aliansi militer akan menghancurkan pondasi utama NATO. Ia menyebut, jika AS, sebagai anggota kunci NATO, menyerang negara anggota lain, maka seluruh sistem keamanan yang dibangun sejak 1949 akan berakhir.

“Jika Amerika Serikat memutuskan untuk menyerang negara NATO lain, maka semuanya akan berhenti, termasuk NATO dan oleh karena itu sistem keamanan pasca-Perang Dunia II,” tegas Frederiksen, seperti dikutip dari laporan media internasional. Ia menambahkan, tindakan militer sepihak AS terhadap Greenland akan menjadi preseden berbahaya dan memicu krisis eksistensial bagi NATO.

Reaksi Greenland dan Penolakan Keras di Tengah Krisis Eksistensial NATO

Di tengah meningkatnya retorika panas tersebut, Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, berupaya meredam kepanikan di kalangan masyarakat lokal. Nielsen meminta agar publik tetap tenang dan meyakini bahwa pencaplokan oleh AS tidak mungkin terjadi.

“Amerika Serikat tidak dapat menaklukkan Greenland. Itu tidak benar. Kita tidak boleh panik. Kita harus memulihkan kerja sama yang baik yang pernah kita miliki,” ujar Nielsen dalam pernyataannya dari Nuuk, ibu kota Greenland.

Meskipun demikian, Nielsen secara terbuka menolak keras wacana pencaplokan yang disuarakan Trump. Melalui unggahan media sosial, ia mendesak Washington untuk menghentikan segala bentuk tekanan politik terhadap wilayahnya. Nielsen menekankan bahwa dialog harus dilakukan melalui saluran yang tepat dan menghormati hukum internasional.

Ambisi Strategis AS di Greenland

Greenland, meskipun terletak di Amerika Utara, telah menjadi wilayah integral Denmark sejak konstitusi tahun 1953. Statusnya sebagai wilayah anggota NATO menjadikannya subjek dari Pasal 5 perjanjian aliansi tersebut, yang menjamin pertahanan kolektif.

Trump menegaskan kembali ambisinya, menyatakan bahwa Greenland sangat penting bagi keamanan nasional AS. Pernyataan ini muncul setelah ia memicu kontroversi global dengan menyerang Venezuela dan menangkap Nicolas Maduro ke AS.

Trump mengklaim kawasan Arktik tersebut dikelilingi oleh aktivitas kapal China dan Rusia, yang menuntut AS untuk memperkuat kehadiran militernya. Memang, Greenland memiliki nilai strategis yang sangat tinggi, baik dari sisi militer maupun potensi ekonomi.

Pulau terbesar di dunia ini menyimpan cadangan minyak dan mineral penting yang melimpah, termasuk elemen langka (rare earth elements) yang krusial untuk industri teknologi modern. Lebih lanjut, Greenland berpotensi menjadi jalur pelayaran utama global, seiring mencairnya es Arktik akibat perubahan iklim, membuka rute baru seperti Jalur Timur Laut.

Saat ini, AS sudah memiliki pangkalan militer di wilayah tersebut, dan Denmark sebelumnya telah menyatakan keterbukaan terhadap penambahan pasukan AS. Namun, ancaman pencaplokan alih-alih kerja sama militer, kini justru memicu keretakan serius yang mengancam masa depan aliansi NATO itu sendiri.