Menteri Bappenas: Program Makan Bergizi Gratis Lebih Mendesak
Uptodai.com - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat, baru-baru ini melontarkan pernyataan tegas mengenai prioritas pembangunan nasional di masa mendatang. Menurutnya, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini memiliki urgensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fokus pada penciptaan lapangan kerja secara langsung. Pernyataan yang cukup menohok ini disampaikan dalam acara Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta.
Rachmat menjelaskan, meskipun kedua hal tersebut sama-sama penting bagi kemajuan bangsa, kondisi lapangan yang dihadapi masyarakat menuntut intervensi segera. Dia menyoroti fakta bahwa banyak anak Indonesia, terutama di daerah pelosok, yang masih mengalami kelaparan dan stunting. Kondisi ini menghambat perkembangan mereka secara fundamental dan harus diatasi tanpa penundaan.
Mengapa Program Makan Bergizi Gratis Lebih Mendesak dari Lapangan Kerja?
Dalam pandangan Rachmat, MBG bukan sekadar program sosial biasa, melainkan fondasi untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang kuat. Dia membandingkan urgensi MBG dengan kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup.
Rachmat menepis anggapan yang menyarankan pemerintah seharusnya memberikan ‘kail’ (pekerjaan) daripada ‘ikan’ (makanan gratis). Menurutnya, memberikan kail kepada mereka yang sudah kelaparan akut adalah langkah terlambat. Apabila intervensi pangan tidak dilakukan segera, anak-anak tersebut berisiko wafat atau mengalami kerusakan permanen pada kemampuan belajar mereka.
Oleh karena itu, MBG menjadi kebutuhan yang sifatnya krusial dan mendesak, jauh melampaui kebutuhan ekonomi jangka panjang. Prioritas utama saat ini adalah memastikan generasi penerus bangsa mendapatkan asupan gizi yang cukup agar mereka dapat tumbuh optimal.
Dampak Kelaparan terhadap Kualitas SDM Indonesia
Lebih lanjut, Rachmat mengungkapkan korelasi yang mengkhawatirkan antara kekurangan gizi dan rendahnya kualitas SDM di masa depan. Ia berbagi pengalaman saat mendampingi Presiden meresmikan sekolah rakyat di beberapa wilayah.
Fakta mengejutkan yang ditemukan adalah banyaknya siswa di tingkat SMP hingga SMA yang masih belum mampu membaca dan menulis dengan baik. Masalah ini, menurutnya, berakar pada kurangnya asupan gizi yang memadai pada usia emas perkembangan otak, yang membuat mereka kesulitan untuk fokus dan menyerap pelajaran.
Ketika anak-anak generasi muda yang akan melanjutkan estafet pembangunan kelaparan, efeknya sangat nyata dan menghambat potensi mereka. Rachmat menegaskan bahwa tidak mungkin mengharapkan kemajuan pendidikan jika masalah gizi dasar belum terselesaikan.
MBG sebagai Mesin Penggerak Ekonomi
Program MBG yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto juga dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, yakni sebagai instrumen penggerak roda perekonomian. Presiden Prabowo sebelumnya telah menjelaskan bahwa program ini dirancang dengan efek berganda yang signifikan.
Dalam pidatonya di World Economic Forum Annual Meeting 2026 di Davos, Prabowo menekankan bahwa MBG akan melibatkan lebih dari 61 ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi. Keterlibatan UMKM ini memastikan bahwa dana yang digelontorkan untuk MBG akan berputar kembali di tingkat lokal.
Dengan demikian, program Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan anak-anak Indonesia, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi di tingkat akar rumput. Ini menjadikan MBG sebagai solusi ganda: mengatasi krisis kemanusiaan sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekonomi daerah.