Uptodai.com - Meskipun sanksi Barat gencar diterapkan, para oligarki Rusia yang dulunya independen kini secara diam-diam menjadi pilar utama pendukung Kremlin. Mantan miliarder perbankan Oleg Tinkov akhirnya buka suara mengenai cara Putin dapat dukungan pengusaha, sebuah strategi yang melibatkan tekanan keras dan pemaksaan ekonomi.

Kegagalan sanksi global untuk memecah belah dukungan elit ekonomi justru memperkuat posisi Vladimir Putin di mata para konglomerat. Alih-alih menjadi oposisi, para miliarder ini dipastikan tetap berada di barisan pemerintah melalui kombinasi imbalan tersembunyi dan ancaman yang sangat nyata.

Kremlin memiliki cara sistematis untuk memastikan kesetiaan, terutama ketika menyangkut figur-figur yang memiliki pengaruh besar di sektor keuangan dan industri vital. Kisah Tinkov menjadi studi kasus paling gamblang mengenai taktik pemaksaan yang diterapkan oleh otoritas Rusia.

Ancaman Nasionalisasi: Kisah Tragis Oleg Tinkov

Hanya sehari setelah Oleg Tinkov secara terbuka mengkritik invasi ke Ukraina, menyebut perang tersebut sebagai tindakan “gila” melalui unggahan di media sosial, respons dari Kremlin datang dengan sangat cepat. Para eksekutif di Tinkoff Bank, yang saat itu merupakan bank terbesar kedua di Rusia, segera dihubungi oleh pihak berwenang.

Pesan yang disampaikan kepada manajemen bank sangat jelas dan tidak dapat dinegosiasikan. Mereka diancam bahwa Tinkoff Bank akan dinasionalisasi, kecuali semua hubungan dengan pendirinya, Oleg Tinkov, diputus secara permanen.

Tinkov menggambarkan situasi tersebut seperti penyanderaan, di mana ia tidak memiliki kekuatan untuk menawar harga atau syarat penjualan. “Saya tidak bisa membahas harga. Kami diambil apa yang ditawarkan, saya tidak bisa menawar,” ujar Tinkov, menjelaskan kondisi terdesak yang dialaminya kepada BBC.

Dalam waktu kurang dari seminggu, perusahaan yang terafiliasi dengan Vladimir Potanin, salah satu pebisnis terkaya kelima di Rusia, mengumumkan akuisisi bank tersebut. Potanin sendiri dikenal sebagai pemasok nikel vital yang digunakan untuk jet tempur Rusia, menunjukkan koneksi erat antara bisnis besar dan kepentingan militer Kremlin.

Tinkoff Bank akhirnya dijual dengan harga yang sangat murah, dilaporkan hanya 3% dari nilai sebenarnya. Akibat pemaksaan ini, Tinkov kehilangan kekayaannya hampir mencapai US$9 miliar dan terpaksa meninggalkan Rusia, mengirimkan pesan kuat kepada semua oligarki lainnya.

Mengapa Miliarder Rusia Dukung Kremlin?

Kondisi subordinasi oligarki saat ini sangat berbeda jauh dengan era pasca-pecahnya Uni Soviet. Pada masa itu, sejumlah warga Rusia menjadi sangat kaya raya dengan mengambil alih perusahaan-perusahaan negara melalui privatisasi yang cepat, menumpuk kekuasaan ekonomi dan politik secara bersamaan.

Figur seperti Boris Berezovsky bahkan pernah mengklaim berperan besar dalam mengantar Putin ke kursi kepresidenan pada tahun 2000. Namun, sejak awal masa kekuasaannya, Putin secara sistematis melucuti pengaruh politik para oligarki.

Berezovsky sendiri bertahun-tahun kemudian menyesali perannya dan ditemukan tewas dalam kondisi misterius saat mengasingkan diri di Inggris, menandai “kematian” kekuatan politik oligarki. Mereka yang berani menentang garis Kremlin akan dihukum berat, menjadi contoh bagi yang lain.

Mikhail Khodorkovsky, mantan orang terkaya Rusia, dipenjara selama sepuluh tahun setelah ia berani mendukung gerakan pro-demokrasi. Kasus-kasus ini menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Putin, kekayaan hanya bisa dipertahankan selama pemiliknya tetap loyal dan bungkam terhadap kebijakan pemerintah.