Serangan Drone Kisangani Kongo: Api Perang Saudara Makin Panas
Uptodai.com - Ketenangan di Republik Demokratik Kongo (DRC) kembali terkoyak setelah terjadi insiden dramatis yang menargetkan infrastruktur vital. Sebuah gelombang serangan drone Kisangani Kongo mengguncang kota strategis tersebut akhir pekan lalu, menjadikan bandara penting di wilayah itu sasaran utama amunisi yang dibawa pesawat nirawak.
Pemerintah Provinsi Tshopo, tempat kota Kisangani berada, mengonfirmasi insiden tersebut pada Senin (2/2/2026). Mereka menjelaskan bahwa bandara sipil sekaligus militer itu diserang oleh beberapa drone bermuatan bahan peledak antara Sabtu malam hingga Minggu dini hari.
Serangan Drone Kisangani Kongo: Target Strategis dan Ancaman M23
Otoritas setempat menyatakan bahwa upaya penyerangan tersebut berhasil digagalkan sebelum menimbulkan kerugian besar. Dalam pernyataan resmi yang diterima oleh AFP, pemerintah provinsi menyebutkan bahwa delapan unit drone musuh berhasil dinetralisasi sebelum mencapai target yang dimaksud.
Beruntungnya, tidak ada laporan mengenai korban jiwa dalam insiden pengeboman jarak jauh ini. Meskipun demikian, serangan tersebut menunjukkan eskalasi baru dalam konflik yang melanda DRC, terutama di wilayah timur yang rentan.
Pentingnya Bandara Kisangani dalam Operasi Militer
Kisangani merupakan kota metropolitan yang dihuni lebih dari 1,5 juta jiwa dan terletak di tepi Sungai Kongo. Infrastruktur jalan yang sangat buruk membuat kota ini sangat bergantung pada transportasi udara, menjadikan bandara sebagai tulang punggung logistik utama.
Bandara sipil tersebut juga berfungsi ganda sebagai pangkalan militer penting bagi Angkatan Bersenjata Kongo. Landasan pacu di sana secara rutin digunakan untuk lepas landas jet tempur dan drone serang yang bertugas menargetkan posisi kelompok milisi M23 dan pasukan Rwanda yang dituduh mendukung mereka.
Lokasi pertempuran utama antara militer Kongo dan kelompok bersenjata itu sebenarnya berada lebih dari 400 kilometer jauhnya dari Kisangani. Hal ini menunjukkan bahwa serangan drone ini merupakan upaya nyata untuk melumpuhkan pusat operasional dan logistik militer Kongo dari jarak jauh.
Api Konflik Perang Saudara Kongo Terus Berkobar
Wilayah timur Kongo telah menjadi pusat kekerasan selama kurang lebih tiga dekade terakhir. Wilayah ini kaya akan sumber daya alam, namun justru menjadi medan pertempuran bagi berbagai kekuatan asing dan kelompok bersenjata yang memperebutkan kendali.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebangkitan kembali kelompok bersenjata anti-pemerintah M23 telah memicu krisis kemanusiaan yang semakin parah. Ribuan nyawa telah melayang dan jutaan orang terpaksa mengungsi akibat kekerasan yang tak berkesudahan.
Eskalasi Kekerasan di Timur Kongo
Sejak kembali mengangkat senjata pada akhir 2021, M23 berhasil merebut wilayah luas di timur Kongo. Pemerintah Kongo dan PBB berulang kali menuduh Rwanda memberikan dukungan militer signifikan kepada M23, sebuah tuduhan yang selalu dibantah oleh Kigali.
Serangan kilat M23 sekitar setahun lalu berhasil merebut kota-kota strategis seperti Goma dan Bukavu. Kemudian, pada awal Desember, para pejuang M23 melancarkan ofensif baru terhadap kota Uvira di perbatasan Burundi, tepat di tengah upaya mediasi kesepakatan damai yang diinisiasi oleh Amerika Serikat.
Meskipun belum ada pihak yang secara resmi mengeklaim bertanggung jawab atas serangan drone Kisangani Kongo, otoritas lokal langsung menuding kelompok M23 dan pemerintah Rwanda berada di balik serangan yang sangat terkoordinasi ini. Mereka melihat serangan ini sebagai balasan atas gempuran udara yang dilancarkan militer Kongo.
Ledakan yang terdengar di sekitar bandara hingga pukul 02.00 dini hari pada Minggu waktu setempat menyebabkan kepanikan massal. Sebagian besar warga yang tinggal dekat area bandara memilih untuk mengungsi ke pusat kota, mencari perlindungan dari potensi serangan lanjutan.
“Saya tidak tahan mendengar ledakan sepanjang malam. Kami tidak tahu apa yang terjadi dan siapa yang menyerang,” ujar seorang warga yang memilih mengungsi. Situasi ini menggarisbawahi betapa rapuhnya keamanan di DRC, bahkan di kota-kota yang dianggap relatif jauh dari garis depan pertempuran.