Taktik Kapal Tanker Tembus Blokade Selat Hormuz demi Pasokan Minyak
Uptodai.com - Ketegangan yang terus memuncak di kawasan Teluk memaksa para pelaku industri pelayaran melakukan manuver ekstrem demi menghindari Blokade Selat Hormuz. Sejumlah kapal tanker minyak raksasa kini memilih untuk “menghilang” dari pantauan radar dengan mematikan alat pelacak otomatis mereka saat melintasi jalur paling krusial di dunia tersebut.
Langkah berisiko tinggi ini diambil sebagai upaya terakhir untuk menghindari potensi gangguan atau serangan militer dari pihak Iran. Para operator kapal menilai bahwa menjaga kerahasiaan posisi jauh lebih penting daripada mengikuti protokol keselamatan standar di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.
Strategi Kapal Tanker “Hantu” di Selat Hormuz
Data pelayaran terbaru dari Kpler dan LSEG mengungkapkan tren baru di mana kapal-kapal pengangkut minyak mentah sangat besar (VLCC) mulai mengadopsi taktik “ghost shipping”. Dua kapal raksasa, yakni Agios Fanourios I dan Kiara M, dilaporkan telah berhasil melewati Blokade Selat Hormuz pada hari Minggu lalu dengan kondisi transponder mati total.
Kedua kapal tersebut masing-masing mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah asal Irak yang sangat dinantikan oleh pasar global. Dengan mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS), kapal-kapal ini berusaha meminimalisir jejak digital yang bisa dilacak oleh pihak-pihak yang bertikai di kawasan tersebut.
Taktik ini sebenarnya sangat berbahaya karena meningkatkan risiko tabrakan di jalur laut yang sangat padat. Namun, tekanan untuk menjaga kelancaran ekspor minyak dari Timur Tengah membuat para pemilik kapal merasa tidak punya pilihan lain selain melakukan aksi nekat tersebut.
Detail Perjalanan Agios Fanourios I dan Kiara M
Kapal Agios Fanourios I tercatat sedang dalam perjalanan menuju Vietnam untuk menyuplai fasilitas Kilang dan Petrokimia Nghi Son. Sebelum berhasil menembus Blokade Selat Hormuz, kapal ini sempat mengalami kegagalan dalam dua upaya sebelumnya sejak memuat minyak jenis Basrah Medium pada April lalu.
Sementara itu, kapal Kiara M yang mengibarkan bendera San Marino juga menerapkan strategi serupa saat keluar dari kawasan Teluk. Kapal yang dikelola oleh perusahaan asal Shanghai ini membawa muatan besar namun rincian pemiliknya tetap tertutup rapat demi alasan keamanan operasional.
Keberhasilan kedua kapal ini menjadi sinyal bahwa para eksportir minyak mulai menemukan celah di tengah pengawasan ketat. Meskipun demikian, biaya asuransi pengiriman dipastikan melonjak tajam seiring dengan meningkatnya risiko keamanan di jalur pelayaran internasional tersebut.
Upaya Terencana ADNOC dan Dampak pada Harga Minyak Dunia
Tidak hanya kapal-kapal independen, perusahaan minyak nasional seperti Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC) juga mulai mengambil langkah berani. Kapal VLCC Basrah Energy yang membawa minyak mentah Upper Zakum milik ADNOC telah lebih dulu sukses melewati Blokade Selat Hormuz pada awal Mei.
Langkah ADNOC mengirimkan muatan melalui jalur berbahaya ini merupakan bagian dari strategi terencana untuk memindahkan stok minyak yang sempat tertahan. Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan sempat membuat jutaan barel minyak mentah terdampar di pelabuhan-pelabuhan Teluk tanpa kepastian pengiriman.
Ketidakpastian di Selat Hormuz secara langsung memberikan tekanan pada pergerakan Harga Minyak Dunia yang terus fluktuatif. Jika blokade ini semakin ketat, para analis memprediksi akan terjadi gangguan pasokan yang signifikan yang dapat memicu krisis energi global dalam waktu singkat.
Para pengamat maritim kini terus memantau apakah taktik mematikan transponder ini akan menjadi standar baru bagi kapal-kapal tanker lainnya. Keamanan internasional di wilayah perairan ini tetap menjadi titik api yang sewaktu-waktu bisa meledak dan mengganggu stabilitas ekonomi dunia secara keseluruhan.