Uptodai.com - Pemerintah menetapkan target porsi investasi 30 persen PDB sebagai motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2026. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat struktur ekonomi domestik di tengah ketidakpastian kondisi global yang masih membayangi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan optimisme tersebut dalam konferensi pers realisasi investasi kuartal I-2026 di Jakarta.

Airlangga menjelaskan bahwa pencapaian porsi investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebenarnya telah menunjukkan tren positif sejak akhir tahun 2024. Data menunjukkan porsi investasi terhadap PDB sempat melampaui angka 30 persen pada kuartal IV-2024 dan kuartal IV-2025. Meskipun sempat mengalami sedikit koreksi ke angka 28,03 persen pada awal tahun lalu, pemerintah yakin tren ini akan kembali menguat.

Pemerintah kini telah menyiapkan berbagai instrumen pendukung untuk menjaga stabilitas dan besaran porsi investasi tersebut. Salah satu pilar utamanya adalah kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang bertugas mengonsolidasikan aset-aset negara. Kehadiran lembaga ini diharapkan mampu menarik minat investor kakap untuk menanamkan modalnya di berbagai sektor strategis tanah air.

Realisasi Investasi Kuartal I-2026 yang Menjanjikan

Sepanjang kuartal pertama tahun 2026, pertumbuhan investasi asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) menunjukkan performa yang cukup solid. Sektor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,5 persen secara tahunan dengan nilai mencapai Rp 250 triliun. Angka ini membuktikan bahwa Indonesia masih menjadi destinasi favorit bagi modal internasional di kawasan Asia Tenggara.

Tidak hanya modal asing, investasi dalam negeri atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) juga terus merangkak naik secara signifikan. PMDN tercatat tumbuh sebesar 6 persen secara tahunan dengan nilai total mencapai Rp 248,8 triliun. Sinergi antara modal asing dan domestik inilah yang menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Lembaga keuangan internasional seperti World Bank dan IMF turut memberikan sentimen positif terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan. Kedua lembaga tersebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional minimal berada di angka 5,2 persen. Proyeksi ini sejalan dengan target ambisius pemerintah yang mematok pertumbuhan ekonomi di level 5,4 persen hingga akhir tahun.

Sektor EBT Jadi Prioritas di Tengah Ketegangan Global

Untuk mencapai target porsi investasi 30 persen PDB, pemerintah mengandalkan diversifikasi sektor energi baru dan terbarukan (EBT). Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif terhadap gejolak geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah yang kerap mengganggu pasokan minyak mentah. Ketahanan energi menjadi isu krusial yang harus segera diatasi dengan beralih ke sumber energi yang lebih mandiri.

Pemerintah memandang bahwa ketergantungan pada energi konvensional harus segera dikurangi demi menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. Oleh karena itu, proyek-proyek hijau kini mendapatkan prioritas utama dalam pemberian insentif maupun kemudahan perizinan bagi para investor. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem investasi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Investasi pada sektor EBT tidak hanya dipandang sebagai upaya menjaga lingkungan, tetapi juga sebagai strategi pengungkit ekonomi. Dengan melimpahnya sumber daya alam, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri energi bersih di tingkat global. Hal ini tentu akan menarik lebih banyak aliran modal masuk ke dalam negeri dalam beberapa tahun ke depan.

Proyek Solar Panel 100 Gigawatt Sebagai Andalan

Salah satu proyek energi baru terbarukan andalan yang menjadi fokus utama pemerintah adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya. Pemerintah menargetkan kapasitas produksi mencapai 100 gigawatt melalui pembangunan infrastruktur solar panel secara masif di berbagai wilayah. Proyek ambisius ini diharapkan mampu menyerap investasi dalam jumlah besar, baik dari sektor publik maupun swasta.

Hingga saat ini, produksi solar panel dalam negeri telah berhasil menyentuh angka 5,93 gigawatt dari total target yang ditetapkan. Airlangga menekankan bahwa tahap pertama pengembangan akan difokuskan pada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dengan kapasitas sekitar 13,5 gigawatt. Fokus pada wilayah 3T ini bertujuan untuk memeratakan akses energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah terpencil.

Pemerintah optimis bahwa pengembangan EBT berbasis solar panel ini akan menjadi pendorong utama investasi di luar sektor manufaktur konvensional. Dengan dukungan regulasi yang tepat, target 100 gigawatt ini bukan sekadar angka, melainkan realitas baru bagi kemandirian energi Indonesia. Investasi ini akan menjadi tambahan kekuatan di atas modal yang sudah ada saat ini.