Uptodai.com - Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan yang sangat agresif terkait kebijakan luar negeri, khususnya mengenai Kuba. Ia mengklaim bahwa Tekanan Ekonomi Donald Trump yang diterapkan Washington kini mulai membuahkan hasil signifikan.

Trump bahkan menyebut sekutu lama Rusia di Benua Amerika itu berada di ambang kehancuran total. Kondisi ini dipicu oleh terputusnya dukungan finansial dan pasokan minyak vital dari Venezuela, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Havana.

Washington Jalin Komunikasi Langsung dengan Pimpinan Tertinggi Kuba

Dalam sebuah konferensi pers di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, Trump mengonfirmasi bahwa pemerintah AS sedang menjalin komunikasi langsung dengan jajaran kepemimpinan tertinggi di Havana. Tujuannya adalah membahas kemungkinan tercapainya kesepakatan yang menguntungkan Washington.

“Kuba adalah negara yang gagal. Sudah lama seperti itu, tetapi sekarang tidak ada Venezuela yang menopangnya,” ujar Trump kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa situasi ini membuka peluang besar bagi AS untuk mendikte perubahan politik di sana, mengingat kondisi ekonomi Kuba yang semakin terpuruk.

Meskipun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai bentuk kesepakatan yang dimaksud, Trump terdengar sangat optimistis. “Saya pikir kita akan membuat kesepakatan dengan Kuba,” tegasnya, menyiratkan bahwa AS memiliki posisi tawar yang sangat kuat saat ini.

Ancaman Blokade Minyak dan Situasi Sulit Havana

Sehari sebelum pernyataan tersebut, Trump sempat melontarkan ancaman keras mengenai blokade total terhadap pasokan minyak ke Kuba. Ia menilai, meskipun tekanan ekonomi yang dilakukan AS sangat berat, situasi ini tidak harus berujung pada krisis kemanusiaan yang parah.

Menurutnya, kondisi Kuba yang sangat sulit justru akan memaksa mereka untuk segera mencari jalan keluar dan bernegosiasi dengan AS. “Ini tidak harus menjadi krisis kemanusiaan. Mereka memiliki situasi yang sangat buruk bagi Kuba. Mereka tidak punya uang. Mereka tidak punya minyak,” jelas Trump.

Ia menekankan bahwa Kuba selama ini hidup dari uang dan minyak Venezuela, dan kini pasokan tersebut telah terhenti. Situasi inilah yang menjadi kunci bagi Washington untuk memaksa Havana takluk di meja perundingan.

Kekalahan Maduro dan Terputusnya Lifeline Energi

Peningkatan drastis tekanan AS terhadap Kuba merupakan bagian integral dari strategi pemerintahan Trump untuk menekan pengaruh komunis di Benua Amerika. Eskalasi ini terjadi khususnya setelah tumbangnya Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, yang merupakan sekutu ideologis utama Havana.

Venezuela selama bertahun-tahun menjadi pemasok minyak vital bagi Kuba melalui skema subsidi yang sangat menguntungkan. Tanpa dukungan finansial dan energi dari Caracas, Kuba kini menghadapi jurang ekonomi yang dalam dan pemadaman listrik yang semakin sering terjadi.

Trump memanfaatkan momentum keruntuhan Maduro dengan sangat agresif. Pada Kamis lalu, ia menandatangani perintah eksekutif yang mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara yang masih berani menjual minyak ke Kuba, secara efektif memperketat sanksi global.

Bersama Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang merupakan putra pengungsi Kuba, Trump secara terbuka menyuarakan keinginan mendorong perubahan politik yang signifikan di Havana. Mereka memperingatkan Kuba untuk “segera mencapai kesepakatan” dengan AS atau menghadapi konsekuensi yang tidak dirinci.

Dampak dari kebijakan keras AS ini langsung terasa di lapangan. Tak lama setelah pengumuman ancaman tarif tersebut, warga Kuba terlihat mengantre panjang di berbagai stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di Havana. Antrean tersebut mencerminkan kecemasan publik atas stabilitas pasokan energi nasional.

Pemerintah Kuba sendiri menanggapi dengan tuduhan bahwa Washington berupaya mencekik perekonomian nasional secara brutal. Namun, Trump tetap pada pendiriannya, menegaskan bahwa Kuba “siap untuk jatuh” dan mengirimkan pesan tegas: “SAYA TEGASKAN, TIDAK ADA LAGI MINYAK ATAU UANG UNTUK KUBA: NOL!”