Uptodai.com - Tragedi longsor Bantar Gebang yang terjadi baru-baru ini menyisakan duka mendalam setelah tujuh orang dinyatakan meninggal dunia akibat tertimbun gunungan sampah. Tim SAR gabungan bekerja ekstra keras menyisir area longsoran untuk mengevakuasi para korban yang terjebak di bawah material limbah yang sangat masif.

Berdasarkan data terbaru dari lokasi kejadian, total terdapat 13 orang yang berada di area terdampak saat peristiwa nahas itu berlangsung. Sebanyak enam orang dilaporkan berhasil menyelamatkan diri dari maut, sementara tujuh lainnya tidak mampu menghindar dari terjangan material sampah yang runtuh secara tiba-tiba.

Dansat Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Henik Maryanto, mengonfirmasi bahwa Tim SAR Batalyon D Pelopor menemukan jenazah terakhir pada Senin malam. Korban ditemukan sekitar pukul 23.26 WIB setelah petugas melakukan pencarian intensif di titik-titik yang diduga menjadi lokasi tertimbunnya para korban.

Petugas segera mengevakuasi jenazah tersebut dan membawanya ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut. Langkah ini dilakukan guna memastikan identitas seluruh korban sebelum diserahkan secara resmi kepada pihak keluarga yang telah menunggu kepastian di posko darurat.

Kronologi dan Detik-detik Mencekam di Lokasi Kejadian

Peristiwa mengerikan ini terjadi secara mendadak tanpa ada tanda-tanda awal yang signifikan bagi para pekerja maupun warga di sekitar lokasi. Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Kusumo, menjelaskan bahwa saksi mata di lapangan sempat mendengar teriakan histeris dari warga yang melihat pergerakan sampah.

Dalam sekejap, gunungan sampah yang menjulang tinggi tersebut runtuh dan langsung menutup akses jalan operasional utama di dalam kawasan TPST. Material longsor tersebut tidak hanya menimbun jalan, tetapi juga menghantam warung-warung kecil serta beberapa truk sampah yang sedang mengantre untuk bongkar muat.

Kecepatan runtuhan material membuat para korban yang berada di zona 4A tidak memiliki cukup waktu untuk melarikan diri ke tempat yang lebih aman. Situasi di lapangan sempat kacau balau karena tumpukan sampah yang bergeser menutupi area yang cukup luas, termasuk aliran sungai di sekitarnya.

Curah Hujan Ekstrem Jadi Penyebab Utama Longsor

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa penyebab longsor gunungan sampah ini dipicu oleh faktor cuaca yang sangat ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Hujan deras yang mengguyur wilayah Bekasi dan sekitarnya menyebabkan struktur gunungan sampah menjadi tidak stabil.

Berdasarkan data meteorologi, curah hujan saat itu mencapai angka 264 milimeter per hari, yang dikategorikan sebagai intensitas hujan yang sangat tinggi untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Air hujan yang meresap jauh ke dalam tumpukan sampah menciptakan efek pelumas yang memicu terjadinya pergeseran material secara besar-besaran.

Akibatnya, Sungai Ciketing dan jalan operasional sepanjang 40 meter tertutup total oleh material limbah yang meluncur dari ketinggian. Kondisi gunungan sampah yang sudah jenuh air membuat beban di zona 4A melampaui batas daya dukungnya, sehingga memicu terjadinya fenomena *sliding*.

Evaluasi Pengelolaan Sampah dan Penutupan Zona 4A

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta langsung mengambil langkah tegas dengan menutup sementara seluruh aktivitas operasional di zona 4A TPST Bantar Gebang. Langkah darurat ini diambil untuk mencegah terjadinya longsor susulan yang dapat membahayakan keselamatan para petugas dan pemulung di lapangan.

Sebagai solusi jangka pendek agar distribusi limbah ibu kota tidak terganggu, aliran sampah kini dialihkan ke zona 3 yang dinilai masih memiliki kapasitas aman. Selain itu, pemerintah daerah telah menyiapkan dua lokasi penampungan sementara lainnya untuk mengantisipasi penumpukan sampah di tingkat kota.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan teguran keras terkait metode pengelolaan sampah yang dinilai masih menggunakan sistem *open dumping*. Menurutnya, sistem penumpukan terbuka seperti ini sangat berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa manusia serta kelestarian lingkungan jangka panjang.

Hanif menekankan bahwa tragedi ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk segera beralih ke teknologi pengelolaan sampah yang lebih modern dan aman. Keselamatan warga dan petugas harus menjadi prioritas utama agar musibah serupa tidak perlu terulang kembali di masa yang akan datang.

Pembenahan menyeluruh di TPST Bantar Gebang kini menjadi fokus utama lintas kementerian dan lembaga terkait guna mencari solusi permanen. Masyarakat berharap agar evaluasi ini membuahkan langkah nyata dalam memperbaiki sistem sanitasi dan keamanan kerja di fasilitas pengolahan sampah terbesar tersebut.