Uptodai.com - Fenomena yang cukup mengejutkan terjadi di Asia Timur, di mana data terbaru menunjukkan warga China pindah warga negara Korea Selatan dalam jumlah yang signifikan. Tren ini bukan hanya sekadar peningkatan biasa, melainkan mencerminkan pergeseran preferensi dan kebutuhan stabilitas di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang masih bergejolak.

Peningkatan jumlah warga negara baru ini bahkan mendekati rekor yang tercipta pada awal pandemi Covid-19. Data ini memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana pembatasan perjalanan dan karantina wilayah memengaruhi keputusan individu untuk mencari status kewarganegaraan baru demi mendapatkan kepastian tinggal.

Lonjakan Naturalisasi Korea Selatan Didominasi Warga China

Kementerian Kehakiman Korea Selatan melaporkan bahwa pada tahun 2025, sebanyak 11.344 dari 18.623 pemohon naturalisasi berhasil memperoleh status kewarganegaraan Korea Selatan. Angka ini menegaskan tingginya minat warga asing untuk menjadi bagian dari masyarakat Korea.

Jika dilihat ke belakang, jumlah warga negara yang baru dinaturalisasi pernah mencapai rekor tertinggi sebanyak 13.885 orang pada tahun 2020. Saat itu, kebijakan karantina wilayah secara global menjadi pendorong utama lonjakan tersebut.

Warga China Menjadi Kontributor Utama

Dari total 11.344 warga negara yang baru dinaturalisasi pada tahun 2025, mayoritas berasal dari China, mencakup 56,5% dari keseluruhan pemohon yang disetujui. Proporsi warga negara China yang dinaturalisasi ini merupakan yang tertinggi sejak masa awal pandemi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa bagi banyak penduduk asing, mendapatkan kewarganegaraan Korea menjadi solusi untuk tinggal lebih lama. Hal ini penting terutama ketika pembatasan perjalanan masih menghalangi mereka untuk kembali ke negara asal dengan mudah.

Di bawah China, pemohon dari Vietnam menyumbang porsi terbesar kedua, yakni sebesar 23,4%. Negara-negara lain yang juga berkontribusi signifikan adalah Filipina (3,1%) dan Thailand (2,2%).

Selain naturalisasi murni, jumlah etnis Korea yang mendapatkan kembali kewarganegaraan mereka juga menunjukkan tren peningkatan. Angka ini naik dari 3.607 orang pada tahun 2024 menjadi 4.037 orang pada tahun 2025. Pemulihan kewarganegaraan terbesar berasal dari Jepang, diikuti oleh China dan Vietnam, menandakan adanya ketertarikan etnis diaspora untuk kembali ke tanah leluhur.

Kontras Tren: Warga Korea Selatan Ramai-Ramai Melepas Kewarganegaraan

Meskipun Korea Selatan menjadi magnet bagi warga negara tetangga, data menunjukkan adanya tren migrasi keluar yang cukup besar dari warga negara aslinya. Pada tahun 2025, sebanyak 25.200 warga Korea Selatan secara resmi melepaskan kewarganegaraan mereka. Angka ini sedikit menurun dari 26.494 pada tahun sebelumnya, namun tetap signifikan.

Sebagian besar individu yang melepaskan kewarganegaraan Korea memilih untuk memperoleh kewarganegaraan Amerika Serikat, mencakup 72,1 persen dari total. Keputusan ini sering kali didorong oleh pencarian peluang ekonomi, pendidikan yang lebih baik, atau sekadar kualitas hidup yang dianggap lebih menjanjikan di negara Barat.

Daya Tarik Amerika Serikat dan Stabilitas Global

Setelah Amerika Serikat, negara-negara tujuan favorit bagi warga Korea yang melepaskan kewarganegaraan adalah Kanada, Australia, dan Jepang. Pilihan ini menggarisbawahi adanya migrasi dua arah yang kontras.

Di satu sisi, Korea Selatan menawarkan stabilitas regional yang menarik bagi warga China dan Vietnam. Di sisi lain, warga Korea sendiri cenderung mencari stabilitas dan peluang global yang lebih luas di negara-negara yang secara tradisional menawarkan jalur karier internasional yang lebih mapan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan untuk mengubah atau melepaskan status kewarganegaraan sangat dipengaruhi oleh kalkulasi pribadi. Faktor seperti pembatasan mobilitas, prospek karier, dan kebijakan imigrasi negara tujuan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan identitas nasional di era globalisasi.