Uptodai.com - Peta persaingan industri otomotif di kawasan ASEAN tengah mengalami pergeseran signifikan. Indonesia, yang selama ini kokoh sebagai raja penjualan mobil di Asia Tenggara, kini menghadapi ancaman serius. Berdasarkan data terbaru, ada indikasi kuat bahwa penjualan mobil Indonesia digeser Malaysia, sebuah skenario yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Kondisi ini menjadi sorotan utama bagi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Angka penjualan domestik Malaysia dilaporkan mendekati, bahkan berpotensi melampaui, volume penjualan yang dicatatkan oleh Indonesia hingga akhir tahun ini.

Malaysia Dekati Angka Krusial 800 Ribu Unit

Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, secara terbuka mengakui bahwa posisi Indonesia sedang tertekan. Menurut Putu, prognosa penjualan Malaysia sepanjang tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 700 ribu hingga 800 ribu unit. Angka tersebut sangat tipis, bahkan mungkin sudah melampaui proyeksi penjualan Indonesia.

Data dari Asosiasi Otomotif Malaysia (MAA) menunjukkan kinerja yang cukup impresif. Pada November 2025, penjualan mobil di Malaysia mencapai 72.509 unit, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di kisaran 64 ribuan unit. Meskipun terjadi sedikit penurunan 4,6 persen dari Oktober 2025, volume penjualan Malaysia tetap dianggap tinggi.

Secara akumulatif, total penjualan mobil di Malaysia dari Januari hingga November 2025 sudah menyentuh angka 727.836 unit. Angka ini hanya terpaut 1,15 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. MAA sendiri menargetkan total penjualan 780.000 unit hingga akhir tahun 2025.

Kontras Penurunan Pasar Otomotif Indonesia

Sementara itu, pasar otomotif di Tanah Air justru menunjukkan tren pelemahan yang lebih dalam. Data Gaikindo mencatat bahwa total wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) Indonesia periode Januari-November 2025 hanya mencapai 710.084 unit.

Angka tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana wholesales Indonesia mampu menembus 785.917 unit. Ini berarti pasar domestik Indonesia mengalami penurunan signifikan sebesar 9,6 persen.

Kondisi serupa terjadi pada retail sales (penjualan dari dealer ke konsumen akhir). Selama 11 bulan tahun ini, penjualan ritel hanya tercatat 739.977 unit. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, angka penjualan ritel mampu mencapai 807.586 unit, menunjukkan penurunan pasar sebesar 8,4 persen.

Jika membandingkan laju penurunan, pasar Indonesia jauh lebih terpuruk. Penurunan retail sales otomotif Indonesia mencapai 8,4 persen, sedangkan Malaysia hanya mengalami penurunan tipis sekitar 1 persen dari tahun sebelumnya.

Strategi Agresif Malaysia Mendorong Penjualan

Salah satu faktor utama yang membuat penjualan mobil Indonesia digeser Malaysia adalah strategi promosi yang sangat agresif di Negeri Jiran, terutama terkait kendaraan listrik (EV). Malaysia memanfaatkan kampanye promosi yang gencar untuk meningkatkan permintaan kendaraan listrik impor atau Completely Built Up (CBU).

Insentif fiskal dan promosi ini, yang dijadwalkan berakhir pada 31 Desember 2025, mendorong konsumen Malaysia untuk segera melakukan pembelian. Hal ini menciptakan lonjakan permintaan di akhir tahun, khususnya untuk model-model EV yang baru masuk ke pasar.

Malaysia berhasil menarik investasi dan unit impor dalam jumlah besar, terutama dari pabrikan China, yang menawarkan harga kompetitif dan teknologi baterai terbaru. Kondisi ini membuat pasar Malaysia tetap bergairah, bahkan saat kondisi ekonomi global sedang menantang.

Ancaman Kehilangan Taji di Mata Regional

Putu Juli Ardika menegaskan bahwa tren penurunan ini tidak boleh dianggap remeh. Jika Indonesia tidak segera mengambil langkah strategis untuk menahan laju pelemahan pasar, potensi Indonesia kehilangan dominasi regional di hadapan negara-negara tetangga semakin besar.

Industri otomotif Indonesia perlu segera mencari terobosan, baik melalui insentif baru maupun percepatan produksi model-model yang diminati pasar global maupun domestik, agar statusnya sebagai raja otomotif ASEAN tidak benar-benar lepas.