Uptodai.com - Indonesia seringkali menghadapi dualisme bencana yang kontradiktif: banjir bandang yang merusak, disusul dengan kekeringan parah hanya beberapa minggu kemudian. Fenomena ini bukan sekadar siklus alam biasa, melainkan indikasi serius adanya gangguan pada sistem hidrologi bentang alam. Lantas, apa penyebab kekeringan setelah hujan ekstrem yang sering melanda berbagai wilayah di Tanah Air?

Pakar dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Universitas Andalas, Dian Fiantis, menjelaskan bahwa kondisi ekstrem ini berakar dari ketidakmampuan tanah di wilayah hulu untuk mengelola volume air yang masif. Kejadian banjir bandang pada akhir 2025, misalnya, dipicu oleh hujan yang sangat deras akibat Siklon Tropis Senyar yang memusatkan curahan air di wilayah hulu Batang Kuranji.

Data Curah Hujan Melampaui Batas Normal

Data Global Precipitation Measurement – Integrated Multi-satellite Retrievals for GPM (GPM IMERG) menunjukkan angka yang mencengangkan. Akumulasi curah hujan di hulu Batang Kuranji pada periode 19-25 November 2025 tercatat melampaui 500 milimeter.

Selanjutnya, intensitas hujan tidak menurun. Dalam dua hari berikutnya, yakni 26-27 November 2025, wilayah tersebut menerima tambahan hujan sebesar 190 milimeter. Dian Fiantis menegaskan, dalam bahasa hidrologi, angka-angka ini bukan sekadar statistik hujan biasa.

Angka tersebut merepresentasikan sebuah proses yang perlahan namun pasti, di mana tanah di lereng-lereng Bukit Barisan dipaksa menerima air jauh melampaui kapasitas alaminya. Pori-pori tanah, yang seharusnya berfungsi layaknya spons raksasa, terisi penuh dan jenuh total. Akibatnya, air tidak lagi meresap ke dalam profil tanah, melainkan mencari jalan di permukaan.

Kondisi saturasi ini membuat air berubah menjadi limpasan permukaan (surface runoff) yang sangat cepat. Limpasan ini mempercepat aliran menuju sungai, menyebabkan debit air melonjak drastis. Inilah yang memicu bencana banjir bandang, yang disebut Dian sebagai respons bentang alam terhadap akumulasi air yang telah melampaui ambang keseimbangannya.

Ketika Fungsi Hulu Sungai Sebagai Spons Raksasa Gagal

Banjir tersebut meninggalkan jejak kerusakan signifikan di permukiman, sekaligus membawa material sedimen dari hulu. Sedimen ini mengendap di dasar sungai, meningkatkan elevasi sungai hingga satu atau dua meter. Namun, beberapa minggu setelah hujan berhenti, fenomena aneh terjadi.

Aliran Batang Kuranji menipis secara drastis, memperlihatkan batu-batu besar di dasar sungai. Sungai terlihat dangkal dan seolah-olah sedang ‘kurus’. Fenomena kekeringan mendadak ini, menurut sudut pandang hidrologi daerah aliran sungai (DAS), justru bermula dari kegagalan fungsi di wilayah hulu.

Secara alami, hulu sungai seharusnya bertindak sebagai Fungsi hulu sungai sebagai spons raksasa. Spons ini bertugas menyerap dan menyimpan air hujan dalam jangka waktu lama, kemudian melepaskannya secara perlahan dan konsisten sebagai aliran dasar atau baseflow.

Baseflow inilah yang vital. Fungsinya adalah menjaga sungai tetap berair meskipun tidak ada hujan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Ketika tanah di hulu telah jenuh dan tidak mampu menyimpan air lagi—seringkali diperparah oleh degradasi lahan dan perubahan tata guna hutan—seluruh air hujan langsung terbuang sebagai limpasan permukaan saat banjir.

Implikasi Kekeringan Mendadak bagi Ketahanan Air Nasional

Ketika air hujan tidak sempat tersimpan di dalam tanah, cadangan air tanah pun menipis. Aliran dasar yang menopang kehidupan sungai selama musim kemarau menjadi hilang. Inilah akar masalah utama penyebab kekeringan setelah hujan ekstrem.

Sungai memang terhindar dari banjir karena hujan sudah berhenti, tetapi sungai tersebut kehilangan sumber pasokan air yang stabil. Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi Indonesia bahwa upaya mitigasi bencana tidak cukup hanya berfokus pada pengendalian banjir di hilir.

Sebaliknya, fokus utama harus diarahkan pada pemulihan dan perlindungan fungsi ekologis di wilayah hulu DAS. Melindungi “spons raksasa” alami ini adalah kunci untuk memastikan ketersediaan air yang berkelanjutan, sekaligus mencegah siklus kontradiktif banjir dan kekeringan yang merugikan masyarakat.