Inflasi Februari 2026 Tembus 0,68%, Harga Pangan Melonjak Tajam
Uptodai.com - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Laporan Inflasi Februari 2026 BPS yang menunjukkan lonjakan harga signifikan di berbagai sektor. Angka inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada periode ini menyentuh 0,68 persen, sebuah lompatan besar jika membandingkannya dengan kondisi bulan sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers resmi di Jakarta. Secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d), tingkat inflasi hingga Februari 2026 kini berada di posisi 0,53 persen.
Kenaikan harga barang dan jasa ini terjadi secara masif di hampir seluruh wilayah Indonesia. BPS mencatat sebanyak 33 provinsi mengalami tekanan inflasi, sementara hanya 5 provinsi yang masih mencatatkan deflasi pada bulan kedua tahun ini.
Provinsi Sulawesi Selatan menjadi wilayah dengan kenaikan harga tertinggi yang mencapai angka 1,04 persen. Sebaliknya, wilayah Papua Barat tercatat sebagai daerah dengan tingkat deflasi terendah, yakni sebesar 0,65 persen.
Komoditas Pangan Mendominasi Lonjakan Harga
Sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama yang menggerakkan roda inflasi pada periode Februari 2026. Kelompok pengeluaran ini mengalami inflasi sebesar 1,54 persen dengan andil terhadap inflasi nasional mencapai 0,45 persen.
Beberapa komoditas pangan tertentu memberikan kontribusi yang sangat dominan terhadap kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK). Daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,09 persen, disusul oleh cabai rawit yang memberikan andil sebesar 0,08 persen.
Selain itu, kenaikan harga ikan segar menyumbang inflasi sebesar 0,05 persen bagi pengeluaran rumah tangga. Komoditas lain seperti cabai merah, tomat, beras, hingga telur ayam ras juga ikut merangkak naik dengan andil masing-masing antara 0,02 hingga 0,04 persen.
Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan kuat pada rantai pasok pangan nasional sepanjang bulan Februari. Pemerintah perlu melakukan langkah antisipasi agar harga bahan pokok tidak terus melambung dan menggerus daya beli masyarakat luas.
Realisasi Inflasi Melampaui Ekspektasi Pasar
Angka yang dirilis oleh BPS ini ternyata jauh lebih tinggi daripada konsensus pasar yang dihimpun dari berbagai institusi keuangan. Sebelumnya, para analis memperkirakan IHK hanya akan mengalami inflasi tipis sebesar 0,3 persen secara bulanan.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Indonesia pada Februari 2026 kini bertengger di level 4,34 persen. Data ini memberikan sinyal waspada bagi otoritas moneter untuk memantau stabilitas ekonomi nasional secara lebih intensif.
Inflasi inti juga menunjukkan tren penguatan ke level 2,49 persen pada periode yang sama. Kenaikan inflasi inti ini mencerminkan adanya peningkatan permintaan domestik yang mulai memberikan tekanan pada struktur harga di pasar.
Kondisi pada Februari ini berbanding terbalik dengan situasi pada Januari 2026 yang sempat mencatatkan deflasi sebesar 0,15 persen. Namun, lonjakan tajam di bulan Februari langsung mengubah arah pergerakan harga secara nasional menuju tren peningkatan.