Dampak Cemas Berita Perang: Kenali Ciri dan Cara Mengatasinya
Uptodai.com - Dampak cemas berita perang kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan mental masyarakat di tengah panasnya konflik global yang terus bergejolak. Paparan informasi yang masuk secara masif melalui media sosial sering kali memicu respons stres yang berlebihan pada otak manusia. Kondisi ini jika dibiarkan akan mengganggu produktivitas dan keseimbangan emosional sehari-hari.
Psikiater dr. Lahargo Kembaren mengingatkan bahwa konsumsi berita tanpa filter dapat merusak kualitas hidup seseorang secara perlahan. Banyak individu terjebak dalam siklus pemantauan berita tanpa henti atau yang sering disebut dengan istilah doomscrolling. Kebiasaan ini membuat pikiran sulit beristirahat karena terus membayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi.
Gejala Fisik Dampak Cemas Berita Perang
Seseorang yang mengalami kecemasan berlebihan akibat berita konflik biasanya menunjukkan ciri-ciri fisik yang cukup nyata. Jantung yang sering berdebar kencang tanpa alasan medis yang jelas menjadi salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai. Selain itu, gangguan pencernaan seperti naiknya asam lambung sering kali muncul sebagai respons tubuh terhadap stres psikologis.
Gangguan tidur atau insomnia juga menjadi keluhan umum bagi mereka yang terlalu sering terpapar informasi negatif. Pikiran yang dipenuhi bayangan peperangan membuat otak tetap dalam kondisi siaga meski tubuh sudah merasa lelah. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sensitif, mudah marah, dan merasa seolah-olah ancaman bahaya sudah berada di depan mata.
Membedakan Sikap Mental Responsif dan Reaktif
Dr. Lahargo menjelaskan bahwa setiap individu memiliki cara berbeda dalam merespons informasi yang mereka terima. Orang dengan sikap mental responsif biasanya mampu menjaga ketenangan meski mengetahui situasi dunia sedang tidak baik-baik saja. Mereka tetap waspada namun tidak membiarkan rasa takut menguasai logika serta tindakan mereka sehari-hari.
Sebaliknya, sikap mental reaktif justru menunjukkan dampak cemas berita perang yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Individu yang reaktif cenderung langsung bereaksi negatif secara impulsif setelah membaca sebuah informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Kondisi ini menciptakan kelelahan mental yang luar biasa karena tubuh terus dipaksa memproduksi hormon stres.
Dampak Jangka Panjang Terhadap Lingkungan Keluarga
Kecemasan yang tidak terkendali ini ternyata tidak hanya berhenti pada individu tersebut, namun juga bisa menular ke lingkungan rumah. Suasana di dalam keluarga dapat berubah menjadi tegang dan tidak nyaman ketika salah satu anggota keluarga merasa gelisah terus-menerus. Hal ini tentu sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak-anak yang berada di lingkungan tersebut.
Anak-anak yang melihat orang tuanya merasa ketakutan akan ikut merasakan ketidakamanan yang sama. Mereka mungkin tidak memahami konflik yang terjadi secara utuh, namun mereka mampu menyerap energi negatif dari orang dewasa di sekitarnya. Oleh karena itu, membatasi durasi menonton berita menjadi langkah krusial untuk menjaga kesehatan mental seluruh anggota keluarga.
Sebagai langkah mitigasi, dr. Lahargo menyarankan masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih sumber informasi. Membatasi waktu akses berita dan fokus pada kegiatan positif di dunia nyata dapat membantu meredakan ketegangan pikiran. Ingatlah bahwa menjaga kesehatan mental adalah investasi penting agar kita tetap siap menghadapi tantangan di masa depan dengan kepala dingin.