Astronot NASA Lupa Cara Jalan Usai Jalani Misi Artemis II
Uptodai.com - Astronot NASA lupa cara jalan sesaat setelah mereka kembali menginjakkan kaki di Bumi usai menuntaskan misi luar angkasa yang sangat menantang. Fenomena fisik ini terlihat jelas ketika para penjelajah antariksa tersebut mendarat di kawasan Samudera Pasifik, tepat di lepas pantai San Diego. Tubuh mereka tampak kaku dan sulit berkoordinasi dengan gravitasi Bumi yang jauh lebih kuat daripada lingkungan tempat mereka bertugas sebelumnya.
Keempat awak misi Artemis II, yakni Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, segera dievakuasi menggunakan helikopter. Tim penyelamat membawa mereka menuju kapal dok amfibi milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS John P Murtha, untuk mendapatkan perawatan medis awal. Namun, momen mengharukan sekaligus mengkhawatirkan terjadi saat mereka mencoba melangkah keluar dari helikopter penjemput.
Laporan dari New York Post menyebutkan bahwa keempat astronot tersebut harus mendapatkan bantuan dari beberapa petugas sekaligus agar bisa berdiri tegak. Dua asisten sigap mengapit sisi kiri dan kanan setiap astronot untuk menjaga keseimbangan mereka yang goyah. Petugas medis bahkan telah menyiapkan kursi roda sebagai langkah antisipasi jika ada awak yang tiba-tiba merasa lemas atau pingsan.
Dampak Ekstrem Mikrogravitasi terhadap Tubuh Manusia
Kondisi astronot NASA lupa cara jalan ini sebenarnya merupakan dampak medis yang sudah diprediksi akibat paparan mikrogravitasi dalam durasi tertentu. Saat berada di luar angkasa, cairan tubuh cenderung berkumpul di bagian kepala karena tidak adanya tarikan gravitasi ke arah kaki. Hal ini memberikan tekanan berlebih pada saraf optik dan mengganggu sistem keseimbangan di telinga bagian dalam.
Selain masalah keseimbangan, para astronot juga menghadapi risiko penurunan massa tubuh yang sangat signifikan selama menjalankan misi. Massa otot manusia dapat menyusut hingga 20 persen hanya dalam waktu dua minggu jika tidak dilatih secara intensif di ruang hampa. Sementara itu, kepadatan tulang bisa hilang sekitar 2 persen setiap bulannya, yang membuat tulang menjadi lebih rapuh saat kembali ke Bumi.
Reid Wiseman menyatakan bahwa meskipun mereka kesulitan bergerak, kondisi seluruh kru saat ini berada dalam status “hijau” atau stabil. Mereka tetap berusaha berjalan tanpa bantuan kursi roda sebagai bentuk latihan pemulihan saraf motorik. Salah satu awak bahkan sempat melambaikan tangan kepada kerumunan petugas untuk menunjukkan bahwa mental mereka tetap kuat meski fisik sedang melemah.
Rekor Jarak Tempuh dan Masa Depan Misi Bulan
Misi Artemis II ini mencatatkan sejarah baru dengan membawa manusia menempuh jarak sejauh 252.756 mil dari permukaan Bumi. Angka ini melampaui rekor legendaris misi Apollo 13 yang terjadi 56 tahun silam dengan jarak 248.655 mil. Keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi NASA dalam ambisi jangka panjang mereka untuk membangun pemukiman berkelanjutan di luar angkasa.
Setelah kepulangan ini, pihak NASA akan melakukan peninjauan mendalam terhadap seluruh data medis dan teknis yang terkumpul. Data tersebut sangat krusial untuk menyusun strategi pada misi berikutnya yang akan melakukan penerbangan lintas Bulan tanpa pendaratan. Evaluasi kesehatan para astronot menjadi prioritas utama sebelum mengirimkan lebih banyak manusia ke orbit yang lebih jauh.
Umat manusia diprediksi baru akan melihat pendaratan fisik di permukaan Bulan kembali pada misi Artemis IV yang dijadwalkan dua tahun lagi. Program ambisius ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan biologis yang dihadapi manusia saat tinggal di luar angkasa. Hingga saat itu, pemulihan fisik para astronot Artemis II akan terus dipantau secara ketat oleh tim dokter spesialis kedirgantaraan.