Sejarah Penemuan Candi Borobudur dan Peran Tan Jin Sing
Uptodai.com - Sejarah mencatat bahwa penemuan Candi Borobudur kembali pada awal abad ke-19 tidak lepas dari peran penting seorang tokoh keturunan Tionghoa. Monumen megah yang dibangun oleh Dinasti Syailendra dari Kerajaan Mataram Kuno ini sempat terbengkalai selama berabad-abad hingga tertimbun tanah dan semak belukar. Kondisi alam yang ekstrem serta letusan gunung berapi di sekitarnya membuat mahakarya ini seolah lenyap dari ingatan kolektif masyarakat Jawa kala itu.
Sebelum ditemukan kembali, peradaban Mataram Kuno mengalami pergeseran pusat kekuasaan ke Jawa Timur pada abad ke-10. Perpindahan ini diduga dipicu oleh letusan dahsyat Gunung Merapi serta ancaman konflik politik eksternal. Akibatnya, pusat-pusat peribadatan megah di Jawa Tengah, termasuk Borobudur, ditinggalkan oleh para penganutnya dan perlahan ditelan oleh lebatnya hutan tropis.
Pertemuan Bersejarah Tan Jin Sing dan Raffles
Titik terang mulai muncul pada sekitar tahun 1813 ketika Tan Jin Sing, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Yogyakarta, bertemu dengan Thomas Stamford Raffles. Raffles yang menjabat sebagai Letnan Gubernur Jawa dikenal memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap sejarah dan barang antik Nusantara. Dalam pertemuan tersebut, Tan Jin Sing membagikan informasi krusial dari mandornya mengenai keberadaan struktur batu raksasa di Desa Bumisegoro.
Mendengar kabar tersebut, Raffles segera meminta Tan Jin Sing untuk melakukan penyelidikan langsung ke lokasi yang dimaksud. Tan Jin Sing kemudian berangkat bersama beberapa warga lokal yang mengetahui jalan setapak menuju area hutan lebat tersebut. Sesampainya di lokasi, ia menyaksikan sendiri puncak-puncak stupa kuno yang menyembul di antara timbunan tanah dan rimbunnya semak belukar liar.
Proses Ekskavasi dan Pemugaran Awal
Setelah mengonfirmasi keberadaan situs tersebut, Tan Jin Sing segera melaporkan temuannya kepada Raffles dengan taksiran usia monumen yang sangat tua. Raffles tidak membuang waktu dan langsung memerintahkan tim ahli untuk melakukan pembersihan dan pemugaran skala besar di lokasi tersebut. Untuk memimpin proyek ambisius ini, ia menunjuk seorang insinyur dan arkeolog Belanda berpengalaman bernama Christian Cornelius.
Proses pembersihan awal ini melibatkan sekitar 200 warga lokal yang bekerja keras membabat hutan dan menggali tanah yang menimbun struktur candi. Selama beberapa minggu, tim tersebut berhasil menyingkap keindahan arsitektur Borobudur yang selama ini tersembunyi dari dunia luar. Berkat kolaborasi multikultural inilah, salah satu keajaiban dunia ini akhirnya berhasil diselamatkan dan dapat kita saksikan kemegahannya hingga hari ini.