Donald Trump Kirim Ancaman Keras ke Kuba: ‘Deal atau Hancur!’
Uptodai.com - Ketegangan geopolitik di Amerika Latin kembali memanas setelah mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan ultimatum tajam kepada Kuba. Ancaman Donald Trump kepada Kuba ini muncul menyusul penghentian total aliran pasokan minyak dan dukungan finansial dari Venezuela.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (11/1/2025) waktu setempat, Trump secara eksplisit mendesak pemerintah Havana untuk segera mencapai “kesepakatan” (deal) dengan Washington. Jika tidak, Kuba diperingatkan akan menghadapi konsekuensi yang fatal.
Ancaman Donald Trump kepada Kuba: Pasokan Minyak Nol
Trump menegaskan bahwa era ketergantungan ekonomi Kuba yang berlangsung selama bertahun-tahun terhadap Venezuela telah berakhir. Hubungan erat ini sebelumnya memungkinkan Kuba menerima minyak dan dana besar sebagai imbalan atas penyediaan “Layanan Keamanan” bagi para pemimpin Venezuela.
Dalam pernyataannya, Trump menyoroti bagaimana Kuba telah menjadi tulang punggung keamanan bagi dua diktator terakhir Venezuela. Namun, situasi tersebut kini berubah drastis setelah operasi militer AS pada 3 Januari lalu yang menargetkan kepemimpinan di Caracas.
Venezuela, yang merupakan sekutu lama Kuba, biasanya mengirimkan sekitar 35.000 barel minyak per hari ke pulau tersebut. Trump memastikan bahwa aliran vital ini akan diputus secara total dan permanen.
“TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG MENGALIR KE KUBA – NOL! Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT,” tulis Trump dengan huruf kapital yang menekankan keseriusan peringatannya.
Konteks Penangkapan Maduro dan Korban Jiwa
Ultimatum ini secara langsung merupakan buntut dari operasi militer yang dilancarkan AS di Caracas. Pasukan AS berhasil menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, atas tuduhan serius terkait perdagangan narkoba.
Selama ini, peran Kuba sangat krusial dalam menjaga stabilitas rezim Maduro, termasuk dengan menyediakan pengawal pribadi dan personel keamanan. Operasi penangkapan tersebut memicu eskalasi militer yang menyebabkan jatuhnya korban.
Pemerintah Kuba melaporkan bahwa 32 warga negaranya tewas dalam operasi AS tersebut. Menanggapi klaim tersebut, Trump memberikan respons sinis, menyatakan bahwa sebagian besar personel keamanan Kuba tersebut sudah mati dan kini Venezuela berada di bawah perlindungan penuh AS.
“Venezuela sekarang memiliki Amerika Serikat, militer terkuat di dunia, untuk melindungi mereka,” tambah Trump, menggarisbawahi perubahan signifikan dalam keseimbangan kekuatan regional.
Skenario Politik Baru dan Tekanan Diplomatik
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang dikenal memiliki garis keras terhadap rezim komunis di Havana, turut memberikan sinyal tekanan. Rubio mengisyaratkan bahwa para pemimpin Kuba seharusnya merasa sangat khawatir karena mereka sedang berada dalam masalah besar.
Ketegasan AS ini diperkuat dengan taktik penyitaan kapal-kapal tanker minyak Venezuela yang terkena sanksi. Langkah ini telah memperburuk krisis bahan bakar dan listrik yang melanda Kuba, membuat kondisi ekonomi negara tersebut semakin terpuruk.
Menariknya, Trump juga membagikan ulang sebuah unggahan di media sosial yang menyarankan agar Rubio, yang merupakan keturunan imigran Kuba, menjadi presiden Kuba di masa depan. Komentar singkat Trump, “Terdengar bagus bagi saya!”, menunjukkan adanya manuver politik jangka panjang yang mungkin disiapkan Washington terhadap Havana.
Meskipun Trump tidak merinci poin-poin spesifik dari “kesepakatan” yang ia tuntut, jelas bahwa AS menginginkan perubahan mendasar dalam struktur pemerintahan dan kebijakan luar negeri Kuba. Kegagalan mencapai kesepakatan tersebut diyakini akan membawa konsekuensi sanksi yang jauh lebih berat, berpotensi melumpuhkan Kuba sepenuhnya.