Uptodai.com - Dunia keuangan global bersatu padu melancarkan respons tegas terhadap upaya intimidasi politik yang menyasar Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Dalam sebuah pernyataan solidaritas yang langka dan bersejarah, para petinggi moneter dunia secara terbuka menyatakan dukungan penuh mereka.

Aksi kolektif ini terjadi setelah Powell mengungkapkan bahwa dirinya menjadi target investigasi kriminal yang dinilainya sebagai upaya politik untuk memengaruhi kebijakan moneter AS. Oleh karena itu, langkah dukungan ini menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas ekonomi global bergantung pada otonomi institusi keuangan.

Solidaritas Global Melawan Intimidasi Politik

Sebanyak sembilan gubernur bank sentral kelas kakap membubuhkan tanda tangan mereka pada pernyataan resmi yang menggarisbawahi pentingnya

Independensi Bank Sentral Global. Aksi solidaritas ini dikoordinasikan oleh Bank for International Settlements (BIS), yang sering disebut sebagai bank sentral dari bank sentral, dan bermarkas di Basel, Swiss.

Di antara para penandatangan terdapat nama-nama besar seperti Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde dan Gubernur Bank of England Andrew Bailey. Selain itu, bos bank sentral dari Australia, Kanada, Korea Selatan, Swedia, Swiss, Denmark, Brasil, hingga Norwegia juga turut ambil bagian dalam koalisi pembelaan ini.

Mereka memuji integritas Powell dan menyebutnya sebagai rekan yang sangat dihormati dalam komunitas keuangan internasional. Pernyataan tersebut menekankan bahwa independensi bank sentral adalah fondasi vital bagi stabilitas harga, keuangan, dan ekonomi demi kepentingan warga negara yang dilayani.

Bank Sentral Bela Jerome Powell dari ‘Premanisme’ Trump

Ketegangan antara Jerome Powell dan mantan Presiden AS Donald Trump bukanlah hal baru, melainkan konflik yang sudah lama membara. Trump, yang sejatinya menunjuk Powell pada tahun 2018, berulang kali melancarkan serangan verbal karena Powell dianggap tidak cukup cepat memangkas suku bunga acuan.

Trump bahkan pernah melontarkan hinaan publik yang merendahkan, menyebut Powell dengan sebutan “si bodoh” (numbskull) karena kebijakan moneter yang dianggapnya terlalu ketat. Namun, situasi memanas drastis ketika ancaman hukum mulai muncul ke permukaan.

Pada pekan ini, Powell secara terbuka mengumumkan bahwa ia sedang menjadi sasaran investigasi kriminal oleh Departemen Kehakiman (DoJ) AS. Powell menyebut tindakan ini sebagai upaya intimidasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kaitannya dengan penetapan kebijakan moneter The Fed.

Ancaman Investigasi Kriminal yang Mengguncang Pasar

Dalam pernyataan video yang menggegerkan pasar, Powell menegaskan posisinya. Ia menyatakan bahwa tekanan tersebut muncul karena The Fed menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik demi kepentingan publik, bukan untuk mengikuti preferensi politik Presiden.

Di sisi lain, Jaksa Agung Distrik Columbia yang diketahui pro-Trump, Jeanine Pirro, mengklaim bahwa investigasi tersebut berkaitan dengan dugaan “penyalahgunaan uang pembayar pajak.” Klaim ini secara spesifik menyoroti biaya renovasi kantor pusat The Fed yang menelan anggaran besar.

Meskipun Pirro bersikeras bahwa proses hukum ini tidak bertujuan mengancam kebijakan moneter, laporan dari Bloomberg menyebutkan bahwa tindakan hukum ini diluncurkan tanpa persetujuan atasan Pirro di DoJ. Hal ini memperkuat dugaan bahwa investigasi tersebut bermuatan politis.

Bahaya Merusak Pilar Stabilitas Ekonomi

Mantan Ketua The Fed dari berbagai era, termasuk Alan Greenspan, Ben Bernanke, dan Janet Yellen, turut mengecam keras tekanan yang dialami Powell. Mereka memperingatkan bahwa merusak independensi bank sentral dapat memicu risiko krisis ekonomi yang jauh lebih besar.

Independensi bank sentral memastikan bahwa keputusan krusial mengenai suku bunga dan inflasi didasarkan pada data ekonomi murni, bukan siklus politik jangka pendek. Oleh karena itu, komunitas global melihat serangan terhadap Powell sebagai ancaman langsung terhadap sistem keuangan dunia.

Pernyataan kolektif dari bank sentral dunia ini berfungsi sebagai pengingat tegas. Mereka menegaskan bahwa menjaga otonomi The Fed adalah krusial, tidak hanya untuk Amerika Serikat tetapi juga untuk menjaga akuntabilitas demokrasi dan stabilitas ekonomi di seluruh dunia.