Uptodai.com - Segmen kendaraan ramah kantong atau Low Cost Green Car (LCGC) kini menghadapi tantangan serius seiring dengan gempuran kendaraan energi baru. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa tren penjualan BYD Atto 1 vs LCGC sepanjang tahun 2025 mencerminkan pergeseran selera konsumen yang sangat dramatis.

LCGC, yang selama satu dekade terakhir menjadi tulang punggung penjualan mobil pertama bagi keluarga Indonesia, kini harus merelakan pamornya tergerus oleh mobil listrik. Para pemain lama seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, dan Sigra, kini harus mewaspadai ancaman serius dari pendatang baru yang menawarkan teknologi lebih modern dengan harga kompetitif.

Data Gaikindo Menggambarkan Pergeseran Pasar

Laporan wholesales Gaikindo mencatat kontras yang mencolok antara kedua segmen tersebut. Sepanjang tahun 2025, segmen mobil listrik menunjukkan performa fantastis dengan kenaikan distribusi hingga 141 persen. Sebaliknya, segmen LCGC harus menelan pil pahit setelah distribusinya anjlok hingga 31 persen.

Secara total, LCGC hanya berhasil mendistribusikan 122.686 unit sepanjang 2025. Padahal, di kuartal pertama tahun tersebut, LCGC masih sempat mencatatkan rata-rata pengiriman di atas 12 ribu unit per bulan. Namun, memasuki paruh kedua tahun, angkanya merosot tajam dan stabil di kisaran 8.000 hingga 9.000 unit saja.

Di kutub yang berbeda, mobil listrik berhasil mencatatkan total penjualan 103.931 unit dalam periode yang sama. Meskipun secara akumulasi tahunan LCGC masih unggul tipis, laju pertumbuhan mobil listrik memberikan sinyal jelas mengenai dimulainya era elektrifikasi di segmen kendaraan terjangkau.

BYD Atto 1 Mengguncang Dominasi LCGC

Salah satu bukti nyata dari pergeseran ini adalah performa impresif yang ditunjukkan oleh BYD Atto 1. Mobil listrik asal China ini, yang baru seumur jagung di pasar domestik, mampu mencatatkan penjualan yang sangat agresif. Hanya dalam tiga bulan terakhir tahun 2025, Atto 1 berhasil mengirimkan 22.582 unit ke dealer.

Bahkan, Atto 1 sempat mengukir sejarah dengan mengalahkan total penjualan seluruh model LCGC dalam skala bulanan. Pada Oktober 2025, BYD Atto 1 terdistribusi sebanyak 10.593 unit, sementara total LCGC hanya mencapai 8.945 unit. Tren serupa berlanjut di November, di mana Atto 1 mencatat 9.481 unit, mengungguli LCGC yang hanya 8.879 unit.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa konsumen tidak lagi sepenuhnya terpaku pada merek Jepang atau mesin konvensional. Mereka mulai mempertimbangkan nilai lebih yang ditawarkan oleh kendaraan listrik, terutama jika harganya berada dalam rentang yang sama dengan mobil LCGC.

Faktor X: Insentif Pajak Mobil Listrik 0 Persen

Pergeseran minat masyarakat terhadap mobil listrik murah tidak lepas dari peran krusial kebijakan pemerintah. Dukungan perpajakan yang sangat menggiurkan menjadi alasan utama mengapa konsumen mulai beralih. Faktor dompet kini menjadi penentu utama dalam memilih kendaraan baru.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 8 Tahun 2024, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) untuk kendaraan listrik berbasis baterai ditetapkan sebesar 0 persen. Ketentuan ini berarti pemilik mobil listrik tidak perlu membayar pajak tahunan, melainkan hanya Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) yang nilainya relatif kecil.

Insentif pajak mobil listrik 0 persen ini memberikan keuntungan finansial jangka panjang yang signifikan. Sebagai perbandingan, mobil LCGC, meskipun harganya terjangkau, tetap dikenakan PKB normal. Mengacu pada Permendagri Nomor 7 Tahun 2025, pemilik Daihatsu Ayla tipe termurah misalnya, masih harus membayar PKB tahunan di kisaran Rp 1,9 juta hingga Rp 2 jutaan.

Dampak Ekonomi Jangka Panjang bagi Konsumen

Selisih PKB yang mencapai hampir Rp 2 juta per tahun ini, jika diakumulasikan selama lima tahun kepemilikan, sudah dapat menutupi biaya perawatan atau bahkan cicilan bulanan yang lebih ringan. Selain itu, mobil listrik juga menawarkan efisiensi biaya operasional yang jauh lebih rendah, terutama dalam hal pengisian daya dibandingkan dengan harga bahan bakar minyak (BBM).

Dukungan regulasi ini secara efektif menurunkan total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO) kendaraan listrik. Hal ini membuat mobil seperti BYD Atto 1 menjadi pilihan yang sangat rasional, bukan hanya sebagai tren, tetapi juga sebagai investasi yang lebih hemat bagi keluarga muda di Indonesia. Konsumen kini memilih kendaraan yang tidak hanya murah saat dibeli, tetapi juga murah saat dioperasikan.

Masa Depan Segmen Mobil ‘Murah’ Indonesia

Data penjualan historis LCGC menunjukkan bahwa segmen ini mengalami fluktuasi, namun selalu berada di atas angka 150 ribu unit per tahun sebelum pandemi. Penjualan tertinggi LCGC terjadi pada 2019 dengan 217.454 unit. Namun, penurunan drastis hingga 122.686 unit di 2025 mengindikasikan bahwa segmen ini berada di titik kritis.

Jika tren pertumbuhan mobil listrik terus berlanjut dan semakin banyak produsen merilis model yang bersaing langsung di rentang harga LCGC, dominasi mobil konvensional di segmen terjangkau dipastikan akan berakhir. Produsen mobil Jepang kini harus berpikir keras untuk merespons ancaman ini, baik dengan meluncurkan LCGC generasi baru yang lebih efisien atau segera menghadirkan opsi mobil listrik murah yang kompetitif.

Perbandingan penjualan BYD Atto 1 vs LCGC di tahun 2025 adalah lonceng peringatan bagi industri otomotif nasional. Pasar telah berbicara, dan masa depan kendaraan murah di Indonesia tampaknya akan bergerak menuju elektrifikasi secara permanen.