Kenaikan Harga Laptop Asus di RI Mulai Q1 2026, Imbas RAM Mahal
Uptodai.com - Konsumen teknologi di Indonesia harus bersiap menghadapi Kenaikan Harga Laptop Asus yang akan mulai berlaku pada kuartal pertama 2026. Penyesuaian harga ini merupakan respons langsung dari dinamika rantai pasok komponen global yang semakin menantang.
Situasi ini memaksa produsen perangkat keras menyesuaikan strategi bisnis mereka demi menjaga keberlanjutan pasokan produk berkualitas di pasar Tanah Air. Fluktuasi harga komponen utama, terutama chip memori, menjadi faktor pendorong utama keputusan tersebut.
Respons Resmi Asus Mengenai Kenaikan Harga Laptop
Head of PR and Digital Marketing ASUS Indonesia, Brama Setyadi, mengonfirmasi langkah penyesuaian harga tersebut. Menurutnya, keputusan ini diambil sebagai upaya strategis perusahaan untuk mempertahankan kualitas dan ketersediaan produk bagi konsumen Indonesia di tengah tekanan biaya produksi.
Brama menjelaskan bahwa Kenaikan Harga Laptop Asus akan diterapkan secara merata. Artinya, dampaknya akan terasa di seluruh segmen produk, mulai dari laptop kelas entry-level hingga seri premium tanpa terkecuali.
Penyesuaian harga ini menjadi indikasi bahwa tekanan inflasi komponen global sudah tidak dapat dihindari lagi oleh pasar domestik. Perusahaan harus mengambil langkah tegas untuk memastikan operasional bisnis tetap berjalan stabil.
Lonjakan Harga RAM Akibat Demam Teknologi AI
Akar masalah dari penyesuaian harga ini terletak pada lonjakan permintaan chip memori, khususnya RAM, yang dipicu oleh pesatnya pengembangan teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Chip memori tingkat tinggi atau High Bandwidth Memory (HBM) menjadi primadona baru di industri semikonduktor karena performanya yang unggul untuk kebutuhan server AI.
Saat ini, produsen chip global memprioritaskan produksi HBM yang sangat penting untuk infrastruktur AI, mengesampingkan produksi chip memori konvensional. Chip konvensional inilah yang biasa digunakan pada perangkat elektronik konsumen seperti laptop, konsol game, dan smartphone.
Pergeseran fokus manufaktur ini secara otomatis menciptakan kelangkaan pasokan di segmen chip konvensional. Akibatnya, harga komponen-komponen tersebut meroket tajam dalam beberapa kuartal terakhir.
Prediksi Pasar dan Dilema Produsen Perangkat Keras
Dilema besar kini dihadapi oleh pabrikan perangkat elektronik. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual produk kepada konsumen, atau menekan margin keuntungan sambil menahan peningkatan spesifikasi perangkat keras pada produk terbaru mereka.
Analis dari lembaga riset terkemuka seperti Morningstar dan JP Morgan memperkirakan tren kenaikan harga ini tidak akan mereda dalam waktu dekat. Mereka memproyeksikan tekanan harga akan terus berlangsung setidaknya hingga tahun 2027.
Para analis mengemukakan kemungkinan tiap perusahaan harus meningkatkan harga jual produknya berkisar antara 5 hingga 20 persen untuk menutupi kenaikan biaya komponen. Angka ini tentu signifikan bagi konsumen.
Data dari TrendForce menunjukkan betapa parahnya situasi di pasar memori. Harga rata-rata DRAM, termasuk chip HBM, diprediksi melonjak tajam hingga 50 sampai 55 persen pada kuartal IV-2025 dibandingkan periode sebelumnya.
Dua raksasa yang mendominasi pasar DRAM global, Samsung dan SK Hynix, bahkan telah mengumumkan bahwa pesanan yang masuk untuk tahun 2026 sudah melebihi kapasitas produksi mereka. Samsung sendiri dilaporkan telah menaikkan harga beberapa jenis chip memorinya hingga mencapai 60 persen.
Kim Jae-june, eksekutif Samsung, dalam laporan kinerja perusahaan pada Oktober 2025, menegaskan bahwa permintaan server terkait AI terus bertumbuh pesat dan jauh melampaui kemampuan suplai industri saat ini. Kondisi pasar yang didominasi oleh AI inilah yang akhirnya memicu Dampak RAM Mahal ke Laptop di seluruh dunia, termasuk Indonesia.