Uptodai.com - Fenomena yang membingungkan terus terjadi di tubuh Maung Bandung, yakni terkait mengapa Pemain Asing Tak Betah di Persib dan memilih hengkang padahal memiliki kualitas mumpuni. Kepergian para bintang impor ini seringkali terjadi secara tiba-tiba, bahkan sebelum mereka genap satu musim penuh berkostum Pangeran Biru.

Situasi ini kembali mencuat seiring dengan santernya rumor hengkangnya bek andalan asal Italia, Alberto Barba, dari skuad asuhan Bojan Hodak. Padahal, Barba menjadi salah satu pilar penting yang membawa Persib bersaing di papan atas Liga 1, bahkan sempat merasakan puncak klasemen.

Pengamat sepak bola nasional, Coach Riphan, turut menyoroti pola aneh yang berulang ini. Ia merasa heran karena banyak talenta kelas dunia yang memutuskan pergi dari Persib tanpa alasan teknis yang jelas dan jarang kembali berkompetisi di Liga Indonesia.

Analisis Coach Riphan: Sejarah Pemain Bintang yang Cuma Setengah Musim

Riphan menjelaskan bahwa masalah ini bukan kali pertama dialami oleh Persib. Sejak era Super League, klub kebanggaan Jawa Barat ini memang memiliki sejarah panjang terkait pemain berkualitas yang gagal bertahan lama.

“Dalam sejarah Persib, memang banyak pemain bagus yang pada akhirnya cuma setengah musim. Ini pola yang terus berulang,” ujar Coach Riphan, dikutip dari kanal YouTube Bola Bung Binder.

Salah satu contoh paling ikonik adalah Christian Bekamenga, striker asal Kamerun yang pernah memperkuat Persib pada periode 2007-2008. Bekamenga yang saat itu merupakan bagian dari Timnas Kamerun U23, dikenal sebagai mesin gol yang produktif di paruh pertama musim.

Namun, kepergian rekan senegaranya, Nyeck Nyobe, yang dipinjamkan ke Persela Lamongan, menjadi pemicu utama. Menurut Riphan, Bekamenga merasa tidak nyaman karena kehilangan teman seperjuangan, yang kemudian membuatnya ogah-ogahan dan akhirnya memilih pergi.

Fenomena serupa juga terjadi pada pemain yang lebih modern. Sebut saja Stefano Beltrame, gelandang serang asal Italia yang didatangkan pada akhir 2023. Meskipun kontribusinya cukup signifikan, Beltrame hanya bertahan setengah musim dan memilih tidak kembali ke Bandung setelah kompetisi berakhir.

Omid Nazari dan Beltrame Ikuti Jejak yang Sama

Selain Beltrame, ada pula nama Omid Nazari, gelandang berdarah Iran-Filipina. Nazari bergabung pada 2019 dan memilih keluar pada 2021, padahal ia termasuk pemain yang dicintai Bobotoh. Ia kemudian memilih melanjutkan karier di Liga Filipina.

“Omid Nazari juga setengah musim, dia tidak mau balik lagi. Suchao Nuchnum juga mengalami hal serupa,” tambah Riphan.

Hal yang paling mencolok adalah fakta bahwa mayoritas pemain bintang yang hengkang dari Persib tersebut tidak pernah kembali bermain di kompetisi sepak bola Indonesia. Mereka seolah benar-benar menutup pintu untuk kembali ke Super League.

Misteri Kepergian Pemain Asing Tak Betah di Persib

Kepergian para pemain kunci ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai faktor non-teknis di balik layar Maung Bandung. Meskipun secara fasilitas dan basis suporter Persib termasuk yang terbaik di Asia Tenggara, ada indikasi kuat bahwa faktor adaptasi, lingkungan sosial, atau manajemen internal turut memainkan peran.

Riphan sendiri mengakui bahwa sulit mengetahui alasan pasti mengapa para pemain ini mengambil keputusan drastis tersebut. Namun, ia menduga bahwa kenyamanan hidup di luar lapangan menjadi pertimbangan utama.

“Aku merasa kadang ada beberapa pemain bagus yang kayaknya enggak betah di Indonesia. Bukan hanya di Persib, tetapi ini terlihat lebih menonjol di Persib karena ekspektasi yang sangat tinggi,” jelasnya.

Dalam kasus terbaru Alberto Barba, isu kepergian muncul saat sang pemain sedang berada di puncak performa. Meskipun Barba telah mendapatkan tempat istimewa dalam taktik Bojan Hodak, rumor yang beredar menunjukkan adanya keinginan kuat dari sang pemain untuk mencari tantangan baru di luar negeri, meski kontraknya belum selesai.

Persib Bandung kini dihadapkan pada tantangan untuk tidak hanya mencari pemain berkualitas, tetapi juga memastikan bahwa lingkungan tim mampu membuat pemain tersebut merasa betah dan nyaman, jauh melampaui urusan gaji dan posisi di klasemen.