Potret Chaos: Demonstrasi Albania Lempar Bom Molotov ke Kantor PM
Uptodai.com - Situasi politik di Tirana, Albania, memanas drastis setelah Demonstrasi Albania lempar bom molotov ke gedung yang menaungi kantor Perdana Menteri Edi Rama pada Sabtu (24/1/2026).
Aksi protes besar-besaran ini diikuti oleh ribuan warga yang meluapkan kemarahan atas isu korupsi yang melanda lingkaran kekuasaan. Situasi mencekam tersebut menandai gelombang kedua protes dalam beberapa pekan terakhir, sekaligus meningkatkan ketegangan politik di negara Balkan tersebut ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Massa menuntut Perdana Menteri Edi Rama segera meletakkan jabatannya. Tuntutan mundur ini dipicu oleh dakwaan korupsi serius yang diarahkan kepada Wakil Perdana Menteri Belinda Balluku, yang dianggap sebagai puncak gunung es dari masalah tata kelola pemerintahan.
Puncak Eskalasi: Serangan ke Gedung Pemerintah
Ribuan pengunjuk rasa awalnya berkumpul di pusat kota, menyuarakan kekecewaan mereka terhadap pemerintah. Namun, suasana damai berubah menjadi anarkis ketika sebagian kelompok demonstran mulai bertindak agresif dan bergerak menuju kompleks perkantoran pemerintah.
Para demonstran melemparkan bom molotov dan menyalakan kembang api ke arah gedung yang menjadi simbol kekuasaan tersebut. Serangan ini jelas menunjukkan tingkat frustrasi publik yang sudah mencapai titik didih.
Polisi antihuru-hara segera dikerahkan dalam jumlah besar untuk mengendalikan keadaan. Aparat keamanan merespons keras insiden ini dengan menembakkan gas air mata ke kerumunan massa yang brutal.
Selain gas air mata, mereka juga menggunakan meriam air berkekuatan tinggi untuk membubarkan ribuan orang yang semakin agresif. Tindakan represif ini dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada fasilitas vital negara.
Akar Masalah: Skandal Korupsi Wakil Perdana Menteri
Ketegangan politik di Albania mulai mendidih sejak bulan lalu setelah Wakil Perdana Menteri Belinda Balluku didakwa atas dugaan korupsi. Balluku dituduh menyalahgunakan dana negara dalam jumlah besar yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan publik.
Dana tersebut diduga dialihkan untuk menguntungkan perusahaan swasta tertentu dalam proyek-proyek infrastruktur berskala besar. Skandal ini menjadi pemicu utama mengapa publik menuntut Tuntutan mundur Perdana Menteri Edi Rama dan seluruh kabinetnya.
Balluku sendiri membantah semua tuduhan yang diarahkan padanya dengan tegas. Ia menyebut dakwaan tersebut sebagai rangkaian “fitnah, sindiran, dan kebohongan yang disajikan dengan setengah kebenaran” yang bertujuan merusak reputasinya.
Meskipun membantah, Balluku menegaskan komitmennya untuk bekerja sama penuh dengan proses hukum yang sedang berjalan. Namun, publik tampaknya tidak puas hanya dengan bantahan, dan tekanan untuk perubahan kepemimpinan di Albania semakin memuncak seiring berlanjutnya gelombang protes ini.