Waspada! Ini Dampak Steroid pada Kesuburan Pria dan Wanita
Uptodai.com - Dalam beberapa tahun terakhir, tren gaya hidup yang menekankan penampilan fisik dan kebugaran ekstrem mendorong sebagian orang menggunakan zat peningkat performa. Salah satu zat yang sering disalahgunakan adalah steroid, khususnya steroid anabolik, yang menjanjikan peningkatan massa otot dan pemulihan cepat.
Meskipun steroid—baik kortikosteroid untuk pengobatan peradangan maupun anabolik untuk pembentukan tubuh—memiliki manfaat medis atau performa yang dijanjikan, penggunaan tanpa pengawasan medis membawa risiko serius. Salah satu area kesehatan yang paling rentan terdampak adalah sistem reproduksi. dampak steroid pada kesuburan laki-laki dan perempuan memerlukan perhatian serius, terutama bagi pasangan yang merencanakan kehamilan.
Mekanisme Steroid Mengganggu Keseimbangan Hormon Reproduksi
Steroid bekerja dengan cara meniru atau memengaruhi hormon alami dalam tubuh. Ketika zat ini masuk ke sistem, ia secara langsung mengganggu poros HPTA (Hipotalamus-Pituitari-Testis Axis) atau HPOA (Hipotalamus-Pituitari-Ovarium Axis), yang merupakan pusat kendali produksi hormon reproduksi.
Penggunaan steroid, terutama anabolik, memberikan sinyal palsu kepada otak bahwa tubuh sudah memiliki cukup hormon, seperti testosteron. Akibatnya, otak memerintahkan kelenjar pituitari untuk berhenti memproduksi hormon perangsang alami, yaitu FSH (Follicle-Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone).
Penekanan produksi FSH dan LH inilah yang menjadi akar masalah. Kedua hormon ini sangat vital karena bertanggung jawab langsung dalam memicu pembentukan sperma pada pria dan proses ovulasi pada wanita. Jika suplai hormon alami ini terhenti, fungsi reproduksi otomatis akan terganggu.
Risiko pada Pria: Menurunnya Kualitas dan Jumlah Sperma
Pada laki-laki, penggunaan steroid anabolik secara signifikan dapat menurunkan kadar testosteron alami. Kondisi ini memicu penyusutan testis (atrofi testis) karena organ tersebut tidak lagi perlu bekerja keras memproduksi testosteron secara mandiri.
Selain itu, penekanan FSH dan LH menghambat proses spermatogenesis, yaitu pembentukan sperma. Akibatnya, pria yang menggunakan steroid sering mengalami penurunan drastis pada jumlah sperma (oligospermia) atau bahkan tidak ada sperma sama sekali (azoospermia).
Tidak hanya kuantitas, kualitas sperma juga menurun, termasuk masalah pada morfologi (bentuk) dan motilitas (pergerakan) sperma. Lebih lanjut, penurunan testosteron alami turut memengaruhi fungsi seksual, sering kali berujung pada disfungsi ereksi atau penurunan gairah seksual (libido).
Gangguan Siklus Menstruasi dan Ovulasi pada Wanita
Sementara itu, pada perempuan, dampak steroid pada kesuburan terlihat jelas melalui gangguan siklus menstruasi. Penggunaan steroid memicu ketidakseimbangan hormon yang mengatur siklus bulanan, seperti estrogen dan progesteron.
Ketidakseimbangan ini menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur, terlambat, atau bahkan berhenti sepenuhnya (amenore). Berhentinya menstruasi atau siklus yang sangat jarang adalah indikasi kuat bahwa proses ovulasi (pelepasan sel telur) tidak terjadi secara optimal.
Apabila ovulasi tidak berlangsung, peluang terjadinya pembuahan otomatis akan hilang. Oleh karena itu, wanita yang terpapar steroid dalam dosis tinggi atau jangka panjang akan menghadapi tantangan besar untuk bisa hamil secara alami.
bahaya penggunaan steroid jangka panjang terhadap Kehamilan
Meskipun masalah kesuburan sering menjadi fokus utama, penting untuk memahami bahaya penggunaan steroid jangka panjang jika kehamilan tetap terjadi. Jika seorang wanita hamil saat tubuhnya masih mengandung residu steroid, risiko komplikasi kehamilan dapat meningkat.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan steroid, terutama kortikosteroid dosis tinggi, dapat meningkatkan risiko berat badan lahir rendah atau kelahiran prematur. Walaupun data spesifik mengenai steroid anabolik pada kehamilan manusia terbatas, potensi gangguan perkembangan janin sangat besar karena zat tersebut memengaruhi lingkungan hormonal secara keseluruhan.
Bagi pria yang sedang menjalani program hamil, menghentikan penggunaan steroid adalah langkah krusial. Pemulihan sistem reproduksi pasca-penggunaan steroid (terutama anabolik) bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga satu tahun, untuk mengembalikan produksi hormon alami ke tingkat normal.
Oleh karena itu, sebelum memutuskan menggunakan zat apa pun yang memengaruhi hormon, konsultasi dengan dokter atau spesialis endokrinologi sangat dianjurkan. Mendapatkan bentuk tubuh ideal tidak sebanding dengan risiko kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan.