Uptodai.com - Isu mengenai rencana penutupan aplikasi Tokopedia dan kemungkinan diganti dengan aplikasi TikTok Shop kini menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku industri teknologi dan e-commerce. Kabar mengejutkan ini pertama kali dihembuskan oleh beberapa sumber internal yang mengetahui rencana besar ByteDance, induk usaha TikTok.

Perombakan besar-besaran ini diperkirakan akan mengubah peta persaingan digital di Indonesia secara fundamental. ByteDance tampaknya sedang mematangkan strategi untuk menyederhanakan ekosistemnya pasca-akuisisi mayoritas saham Tokopedia dari GoTo. Keputusan ini menimbulkan kekhawatiran sekaligus antisipasi di pasar.

Konfirmasi Internal dan Perubahan Aplikasi

Beberapa narasumber yang dihubungi oleh media nasional memberikan konfirmasi terkait isu penutupan tersebut. Mereka menyatakan bahwa rencana pembuatan aplikasi baru yang berfokus pada TikTok Shop telah diberitahukan kepada tim teknologi di Tokopedia dan TikTok E-commerce Indonesia.

Aplikasi Tokopedia yang selama ini dikenal dengan logo hijau khasnya dikabarkan akan segera dinonaktifkan. Dengan demikian, seluruh fungsi transaksi dan operasional e-commerce akan dipusatkan pada satu platform tunggal di bawah kendali penuh TikTok Shop.

Langkah ini dinilai sebagai upaya ByteDance untuk menyederhanakan operasional dan memfokuskan sumber daya pada satu platform yang lebih terintegrasi dan efisien. Meskipun demikian, juru bicara TikTok memberikan tanggapan yang terkesan sangat diplomatis mengenai isu tersebut.

Juru bicara TikTok hanya menyatakan komitmen perusahaan untuk terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia. Hal ini menjadi bagian dari strategi mereka untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan di pasar Asia Tenggara.

Dampak Pasca Akuisisi dan PHK Karyawan

Perubahan struktural yang masif ini muncul hanya sepekan setelah adanya pergeseran pucuk pimpinan di Tokopedia. Melissa Siska Juminto, yang sebelumnya menjabat CEO, kini menempati posisi komisaris.

Pergantian ini menandai babak baru setelah GoTo resmi menjual 75 persen saham Tokopedia kepada ByteDance pada Januari 2024. Sejak akuisisi rampung, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) telah melanda karyawan Tokopedia.

Berdasarkan informasi dari sumber yang mengetahui, total sekitar 420 karyawan telah terdampak hingga Agustus 2025. Pemangkasan tenaga kerja ini meliputi sejumlah divisi vital, mulai dari tim teknologi informasi (IT), layanan pelanggan (customer care), hingga tim pemenuhan pesanan dan gudang (fulfillment).

Sorotan Subsidi Khusus Pedagang Asing

Di tengah isu penutupan aplikasi, TikTok juga diterpa kabar miring terkait kebijakan insentif bagi pedagang. Kabar menyebutkan adanya pemberian insentif khusus berupa subsidi iklan hingga 30 persen.

Subsidi besar ini dikabarkan hanya diberikan kepada pedagang asal China yang berdagang melalui TikTok Shop. Hal ini menimbulkan kecemburuan, sebab insentif serupa yang sangat dibutuhkan tidak diberikan kepada para pedagang lokal di Indonesia.

Dominasi Pasar Digital Indonesia

Meskipun menghadapi isu internal dan kebijakan kontroversial, Tokopedia saat ini masih memegang posisi kuat di pasar digital Indonesia. Menurut data dari Sensor Tower, Tokopedia merupakan aplikasi ritel dengan jumlah unduhan terbesar ketiga di Indonesia.

Sementara itu, TikTok, yang dikategorikan sebagai aplikasi media sosial, masih menjadi aplikasi dengan jumlah unduhan paling banyak di Tanah Air. Menariknya, meskipun berlabel media sosial, TikTok berhasil mencatatkan nilai transaksi (GMV) paling besar di Indonesia, melampaui platform e-commerce tradisional.

Dominasi transaksi TikTok ini diikuti oleh pendapatan dari layanan lain seperti Google One, Vidio, Facebook, dan Capcut. Data ini menunjukkan betapa masifnya pergeseran kekuatan di ranah ekonomi digital Indonesia, yang kini semakin dikuasai oleh integrasi antara media sosial dan perdagangan elektronik.