Uptodai.com - Kritik keras kembali menghantam kebijakan Penjualan chip AI Nvidia ke China. Kali ini, kecaman pedas datang langsung dari Dario Amodei, CEO Anthropic, salah satu pesaing utama Nvidia di ranah kecerdasan buatan.

Amodei tidak tanggung-tanggung dalam melontarkan perbandingan. Ia menyamakan keputusan ekspor chip canggih tersebut dengan tindakan yang sangat berisiko, bahkan mengibaratkannya seperti menjual senjata nuklir kepada Korea Utara.

Kritik Pedas Amodei: Jual Senjata Nuklir

Pernyataan mengejutkan ini dilontarkan Amodei dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg TV. Kritik ini muncul setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberlakukan tarif impor 25% untuk chip canggih seperti Nvidia H200 dan AMD MI325X yang dikirim ke Tiongkok.

Meskipun tarif tersebut bertujuan untuk mengendalikan, kebijakan Washington secara efektif tetap membuka keran ekspor. Selain itu, langkah ini juga menciptakan pemasukan baru bagi pemerintah AS dari sektor teknologi tinggi yang sensitif tersebut.

Amodei berpendapat bahwa meskipun H200 bukan termasuk generasi chip terbaru dari Nvidia, kemampuannya tetap jauh melampaui apa yang saat ini dapat diakses oleh perusahaan-perusahaan di China. Oleh karena itu, Amodei menilai pengiriman chip tersebut menyimpan risiko strategis yang sangat besar bagi keamanan global.

“Saya pikir ini gila,” tegas Amodei, seraya menambahkan, “Ini seperti menjual senjata nuklir ke Korea Utara lalu membanggakannya.”

Rivalitas Klasik dan Upaya Pembatasan Ekspor

Ketegangan antara Amodei dan Jensen Huang, CEO Nvidia, memang sudah berlangsung lama dan menjadi sorotan dalam industri teknologi. Rivalitas sengit kedua tokoh ini bahkan sering disamakan dengan konflik klasik antara Steve Jobs dan Bill Gates di era awal komputasi.

Persaingan ini bukan hanya soal pangsa pasar chip, tetapi juga filosofi tentang bagaimana teknologi AI harus diatur dan dikontrol. Anthropic, yang didukung oleh raksasa seperti Amazon, telah lama menjadi pendukung vokal kebijakan yang lebih ketat mengenai ekspor chip AI.

Pada Mei tahun lalu, Anthropic secara terbuka mendukung inisiatif AI Diffusion yang mendorong pembatasan ekspor chip AI yang lebih ketat ke negara-negara tertentu. Mereka mengusulkan agar ambang batas ekspor diturunkan secara signifikan, pengawasan diperkuat, dan pendanaan ditingkatkan untuk mencegah potensi penyelundupan perangkat keras canggih.

Ancaman Penyelundupan dan Tanggapan Sarkastik Nvidia

Kekhawatiran Anthropic juga didasarkan pada sejumlah kasus penyelundupan perangkat komputasi berperforma tinggi ke China. Laporan-laporan menunjukkan adanya upaya penyelundupan puluhan kartu grafis bersama tumpukan lobster hidup, hingga insiden seorang wanita yang kedapatan menyembunyikan ratusan prosesor Intel di balik perut palsu demi menghindari pemeriksaan bea cukai.

Menanggapi tuduhan tersebut, Nvidia sering kali merespons dengan nada sarkastik. Perusahaan pimpinan Jensen Huang itu menyatakan bahwa perusahaan Amerika seharusnya fokus pada inovasi dan pengembangan teknologi, bukan menyebarkan cerita sensasional tentang penyelundupan perangkat keras besar yang diklaim disembunyikan di “perut bayi” atau bersama makanan laut.

Sebelumnya, Jensen Huang juga menanggapi keras peringatan Amodei soal dampak AI terhadap lapangan kerja. Amodei sempat memperkirakan bahwa kecerdasan buatan berpotensi menghapus separuh pekerjaan manusia, sebuah prediksi yang ditolak mentah-mentah oleh Huang yang lebih optimis.

Meskipun Amodei melontarkan kritik pedas terhadap Penjualan chip AI Nvidia ke China, terdapat dinamika pasar yang berbeda. Sejumlah laporan terbaru menyebutkan bahwa otoritas bea cukai China telah mengambil langkah untuk memblokir masuknya pengiriman chip H200. Mereka bahkan memperingatkan perusahaan lokal agar tidak membeli perangkat keras tersebut kecuali benar-benar dibutuhkan, menandakan bahwa Beijing juga berhati-hati dalam menanggapi kebijakan ekspor yang longgar dari AS.