Uptodai.com - Wilayah Jabodetabek kembali dihantam guyuran air yang sangat lebat sejak pagi hari. Fenomena ini menarik perhatian publik dan memunculkan pertanyaan mendasar mengenai sumbernya, sebab intensitas hujan yang terjadi jauh melampaui gerimis biasa.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan yang mengejutkan terkait anomali cuaca ini. Berdasarkan pengamatan para ahli, ada indikasi kuat bahwa Hujan Deras Berasal dari Laut, bukan dari proses pembentukan awan di daratan.

Indikasi Hujan Deras Berasal dari Laut Menurut BRIN

Peneliti BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa ada cara mudah untuk mengamati asal muasal hujan yang melanda. Jika hujan sudah turun deras, bukan sekadar gerimis, sejak pagi buta, itu menjadi indikasi kuat bahwa sistem pembentukan hujan datang dari perairan.

Erma menekankan bahwa hujan yang terbentuk murni dari daratan biasanya baru terjadi setelah pukul 12 siang atau memasuki waktu sore hari. Oleh karena itu, hujan yang datang lebih awal menunjukkan adanya sistem pengiriman massa uap air dari lautan menuju daratan.

Fenomena ini menunjukkan adanya sistem pembentukan hujan yang aktif di laut dan kemudian dikirimkan ke wilayah daratan. Kondisi ini tentu memicu pertanyaan, mengapa laut bisa mengirimkan curah hujan yang begitu intens ke wilayah padat penduduk seperti Jabodetabek.

Erma menyarankan masyarakat untuk selalu waspada dan mencermati kondisi ini lebih lanjut. Pemantauan melalui citra satelit cuaca secara real-time, seperti yang tersedia di laman zoom.earth, dapat membantu mengidentifikasi pergerakan massa awan tersebut.

Peringatan Dini BMKG dan Faktor Regional

Penjelasan dari BRIN ini selaras dengan peringatan yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG telah memperingatkan potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda berbagai daerah di Indonesia, termasuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat.

Potensi cuaca ekstrem ini, yang berlangsung dalam sepekan terakhir, disebabkan oleh beberapa faktor pemicu. Faktor-faktor tersebut utamanya berasal dari kondisi regional, seperti keberadaan sirkulasi siklonik dan penguatan signifikan dari Monsun Dingin Asia.

Sirkulasi Siklonik dan Bibit Siklon yang Berperan

Dalam laporan ‘Prospek Cuaca Mingguan’, BMKG secara spesifik menyoroti keberadaan Siklon Tropis Nokaen. Siklon ini berlokasi di Laut Filipina, tepatnya di utara Maluku Utara, dan diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot.

Pergerakan Siklon Nokaen memiliki dampak besar terhadap pembentukan pola angin, khususnya di wilayah utara Indonesia bagian Timur. Selain itu, Bibit Siklon Tropis 97S juga turut berperan aktif.

Bibit siklon ini diprakirakan bergerak persisten dan memengaruhi pola angin, termasuk menciptakan daerah konfluensi dan konvergensi. Daerah konvergensi tersebut memanjang dari Pulau Timor, Laut Timor, Laut Arafuru, hingga sekitar Bibit Siklon Tropis 97S.

Kondisi sirkulasi siklonik dan konvergensi ini secara langsung mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan yang masif. Hal ini menjelaskan mengapa wilayah yang jauh dari pusat siklon, seperti Jabodetabek, masih dapat menerima kiriman hujan yang intens.

Dampak Penguatan Seruakan Dingin Asia

Selain faktor siklonik, BMKG juga mencatat adanya potensi peningkatan Seruakan Dingin atau cold surge yang berasal dari Benua Asia. Fenomena ini merupakan kunci dalam mekanisme pengiriman massa uap air dari laut.

Seruakan dingin tersebut diindikasikan dengan perbedaan tekanan udara yang tinggi di Gushi, disertai peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan. Kondisi ini secara efektif memperkuat masuknya Monsun Asia.

Penguatan Monsun Asia yang terjadi menjadi lebih cepat dan mudah melewati batas-batas geografis. Akibatnya, proses pengiriman massa udara lembap, yang kemudian membentuk awan hujan di perairan, menjadi lebih intens dan masif menuju wilayah daratan di Indonesia bagian barat, termasuk Jabodetabek.