Uptodai.com - Dunia usaha global saat ini tengah berlomba-lomba menanamkan modal besar pada teknologi kecerdasan buatan (AI). Meskipun gelombang investasi ini masif, para ekonom mencatat adanya paradoks menarik: investasi AI belum untung cepat secara langsung dalam laporan keuangan perusahaan.

Fenomena ini mengingatkan pada fase awal pengembangan teknologi disruptif lainnya, di mana dampak finansial yang signifikan tidak serta merta terlihat dalam waktu singkat. Namun demikian, dampak yang langsung terukur adalah peningkatan drastis pada valuasi perusahaan yang gencar mengadopsi atau mengembangkan AI.

Valuasi Perusahaan Teknologi AI Meroket Berkat Ekspektasi

Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menjelaskan bahwa peningkatan valuasi tersebut tidak berasal dari profit bersih yang sudah tercetak. Kenaikan nilai bisnis ini didorong oleh ekspektasi pasar yang tinggi terhadap potensi pemanfaatan teknologi di masa depan.

Valuasi yang tinggi ini utamanya berasal dari proyeksi potensi iklan, pertumbuhan basis pengguna, serta antisipasi bagaimana AI dapat merevolusi operasional bisnis. Huda menekankan bahwa salah satu metrik kunci yang diukur investor adalah proyeksi penggunaan teknologi tersebut dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, Huda memperkirakan bahwa dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan, investasi besar-besaran di sektor AI belum akan menghasilkan keuntungan yang substansial pada neraca keuangan. Keuntungan riil yang dapat dirasakan perusahaan, menurutnya, baru bisa terjadi sekitar tahun kelima setelah adopsi masif.

Adopsi Kecerdasan Buatan Meluas ke Sektor Keuangan

Diperkirakan adopsi AI akan semakin meluas, tidak hanya di tingkat individu yang menggunakan alat bantu sehari-hari, tetapi juga di kalangan korporasi. Sektor keuangan menjadi salah satu lini terdepan yang akan memanfaatkan teknologi ini secara intensif.

Perusahaan keuangan akan menggunakan AI untuk berbagai keperluan penting, termasuk deteksi penipuan atau fraud, analisis risiko kredit yang lebih akurat, dan personalisasi layanan nasabah. Transformasi ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya tren, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga daya saing dan efisiensi operasional.

Kesenjangan Antara Target Pertumbuhan dan Realitas

Temuan yang disampaikan oleh ekonom dalam negeri sejalan dengan riset-riset global. Laporan terbaru dari firma akuntansi Deloitte, berjudul The State of AI in the Enterprise 2026: The Untapped Edge, menyoroti adanya kesenjangan signifikan antara harapan pendapatan perusahaan dan hasil nyata dari investasi AI di lapangan.

Survei tersebut melibatkan 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi (TI) dari 24 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas, yakni 74% organisasi, menargetkan inisiatif AI sebagai pendorong utama pertumbuhan pendapatan mereka.

Namun, realitasnya cukup berbeda. Hanya sekitar 20% perusahaan yang melaporkan bahwa mereka benar-benar telah melihat realisasi pertumbuhan pendapatan tersebut. Angka ini menggarisbawahi tantangan dalam menerjemahkan kapabilitas teknologi AI menjadi keuntungan finansial yang konkret dalam waktu singkat.

Keunggulan Kompetitif Jangka Panjang Jadi Tolok Ukur Utama

Deloitte menekankan bahwa keberhasilan adopsi AI tidak seharusnya diukur semata-mata dari keuntungan finansial langsung. Aspek-aspek seperti peningkatan efisiensi operasional, diferensiasi strategis produk, dan penciptaan keunggulan kompetitif jangka panjang juga menjadi tolok ukur penting yang harus diperhitungkan.

Data menunjukkan bahwa sebanyak 25% pemimpin bisnis menyatakan AI telah memberikan dampak transformatif pada organisasi mereka. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 12%, menunjukkan bahwa meskipun profit lambat, dampak struktural AI sudah terasa.

Dari sisi operasional, akses tenaga kerja terhadap perangkat AI juga terus mengalami peningkatan. Saat ini, hampir 60% pekerja telah memiliki akses ke alat AI yang disetujui oleh tim TI, naik dari 40% pada tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, tingkat pemanfaatan alat AI tersebut dinilai belum optimal. Di antara pekerja yang sudah memiliki akses, kurang dari 60% menggunakannya secara rutin dalam alur kerja harian mereka. Potensi penuh dari peningkatan produktivitas dan inovasi yang ditawarkan AI pun dinilai belum tergali sepenuhnya oleh perusahaan.